Bank Indonesia tetap terbitkan obligasi di tengah likuiditas longgar
Data Otoritas Jasa Keuangan menunjukkan dana pihak ketiga perbankan masih tumbuh lebih cepat daripada kredit hingga Februari 2026, menandakan likuiditas sektor ini tetap memadai. Dalam kondisi itu, pelaku industri masih memakai pasar obligasi untuk menjaga fleksibilitas pendanaan, terutama menjelang target pertumbuhan kredit 10% sampai 12% pada akhir tahun. Pola tersebut juga mencerminkan upaya bank menyeimbangkan sumber dana jangka pendek dan jangka panjang di tengah ekspektasi perlambatan ekonomi.
Sorotan
- DPK perbankan tumbuh 13,18% menjadi Rp 10.102 triliun per Februari 2026, melampaui pertumbuhan kredit 9,37% senilai Rp 8.559 triliun, sehingga likuiditas dinilai longgar.
- Sepanjang kuartal I-2026, empat bank menerbitkan surat utang Rp 8,7 triliun dan enam mandat lanjutan senilai Rp 9,18 triliun akan masuk pasar, mencerminkan strategi diversifikasi pendanaan.
- BTN menargetkan penerbitan obligasi Rp 4 triliun semester II-2026 untuk memperkuat likuiditas, sedangkan CIMB Niaga memilih tidak berencana menerbitkan obligasi karena likuiditas masih kuat.
Pertumbuhan simpanan dan strategi pendanaan 2026
OJK mencatat DPK perbankan tumbuh 13,18% secara tahunan menjadi Rp 10.102 triliun per Februari 2026, lebih tinggi daripada pertumbuhan kredit 9,37% yang mencapai Rp 8.559 triliun. Meski laju DPK sedikit melandai dari bulan sebelumnya, ruang likuiditas industri masih dinilai cukup longgar. Head of Financial Institutions Rating Division Pefindo, Danan Dito, mengatakan posisi likuiditas bank, khususnya Himbara, masih kuat karena profil kredit tetap solid dengan peringkat tertinggi dan prospek stabil.
Danan menilai pengalaman pada masa pandemi Covid-19 memperlihatkan perbankan tetap dipandang sebagai tempat penyimpanan dana yang aman. Menurut dia, arus dana masyarakat ke bank saat periode ketidakpastian memperkuat ketahanan likuiditas industri. Ia juga menyebut perlambatan pertumbuhan DPK mulai dipengaruhi ekspektasi perlambatan ekonomi dan penyesuaian dengan laju ekspansi kredit.
Penerbitan obligasi masih aktif di pasar
Head of Economic Research Division Pefindo, Suhindarto, mengungkapkan pada kuartal I-2026 terdapat empat bank yang menerbitkan surat utang senilai Rp 8,7 triliun. Salah satu bank BUMN bahkan melakukan penerbitan lebih dari satu kali, yakni pada Januari dan Maret 2026. Di luar itu, masih ada enam mandat penerbitan dari sektor perbankan senilai Rp 9,18 triliun yang belum tercatat di bursa, terdiri dari tiga bank BUMN dan tiga bank swasta.
Menurut Suhindarto, aktivitas tersebut menunjukkan bank tidak hanya mengandalkan dana murah dari simpanan nasabah. Penerbitan obligasi dipakai untuk menjaga fleksibilitas struktur pendanaan agar kebutuhan pembiayaan bisnis ke depan tetap terjaga. Strategi ini menjadi relevan ketika industri bersiap menghadapi potensi kenaikan permintaan kredit pada semester berikutnya.
Dampak bagi BTN dan sikap berbeda CIMB Niaga
Bank Tabungan Negara menargetkan penerbitan obligasi Rp 4 triliun pada semester II-2026 untuk memperkuat likuiditas dan mendukung penyaluran kredit. Direktur Utama BTN Nixon Napitupulu menjelaskan obligasi berfungsi berbeda dari tambahan likuiditas Rp 10 triliun yang diterima dari pemerintah karena tenor obligasi lebih panjang, sekitar lima sampai tujuh tahun, sementara dana tambahan itu dapat ditarik sewaktu-waktu. Ia menambahkan perbedaan juga terlihat pada aspek pricing dan risiko suku bunga, sehingga kedua sumber dana tersebut tidak saling menggantikan.
BTN tetap fokus menghimpun dana karena pertumbuhan kreditnya masih kuat, termasuk mencatat kenaikan dua digit pada tahun lalu. Sebaliknya, CIMB Niaga belum melihat kebutuhan menerbitkan obligasi dalam waktu dekat. Presiden Direktur CIMB Niaga Lani Darmawan mengatakan obligasi hanya disiapkan sebagai opsi jika diperlukan, karena posisi likuiditas bank masih solid dan proyeksi pertumbuhan kredit tahun ini berada di kisaran 3% sampai 5%.
Kami sebelumnya melaporkan konsentrasi simpanan perbankan yang kian menguat pada Februari 2026, ketika rekening dengan saldo di atas Rp 5 miliar tetap hanya 0,2% dari total rekening tetapi menguasai 57,98% total simpanan. Laporan itu juga menyoroti pertumbuhan layanan nasabah prioritas serta tantangan bank menyalurkan dana besar—yang banyak berasal dari rekening korporasi—ke kredit produktif di tengah permintaan yang belum kuat.
- Forex
- Crypto