Saham big banks Indonesia lanjut melemah, BBCA turun 4,6% ke level terendah baru
Tekanan di saham perbankan berkapitalisasi besar berlanjut pada perdagangan Jumat, 5 Juni 2026, dengan empat emiten utama sama-sama bergerak di zona merah. Pelemahan BBCA, BBNI, BMRI, dan BBRI terjadi di tengah aksi jual bersih asing yang masih besar dan sorotan pasar terhadap suku bunga serta nilai tukar rupiah.
Sorotan
- Saham BBCA turun 4,61% ke Rp 5.175 per 4 Juni 2026, membukukan net sell asing Rp 475,5 miliar harian dan Rp 31,5 triliun year to date.
- Kenaikan BI rate ke 5,25% dan pelemahan rupiah memicu arus keluar asing dari big banks, dengan BBCA dan BBRI paling sensitif terhadap sentimen pasar.
- Analis tetap rekomendasikan akumulasi bertahap pada BBCA (target Rp 8.375) dan BBRI (target Rp 3.670) meski sektor bank sedang koreksi teknikal.
Pergerakan harga dan arus jual asing
KONTAN Indonesia melaporkan, hingga pukul 10.34 WIB saham Bank Central Asia, BBCA, mencatat pelemahan terdalam di kelompok big banks dengan penurunan 4,61% ke Rp 5.175 per saham. Posisi itu menandai level terendah baru, sementara data per 4 Juni 2026 menunjukkan saham BBCA mencatat net sell asing Rp 475,5 miliar dalam sehari dan Rp 31,5 triliun sepanjang tahun ini.
Saham Bank Negara Indonesia, BBNI, turun 3,8% ke Rp 3.390 per saham. Pada periode yang sama, net sell asing di BBNI mencapai Rp 106,3 miliar, sedangkan akumulasi penjualan bersih asing sepanjang tahun ini mencapai Rp 2,7 triliun.
Bank Mandiri, BMRI, melemah 2,02% ke Rp 3.900 per saham, dengan net sell asing Rp 164,1 miliar pada 4 Juni 2026 dan Rp 11,01 triliun sepanjang tahun ini. Sementara itu, Bank Rakyat Indonesia, BBRI, turun 1,42% ke Rp 2.770 per saham, setelah mencatat net sell asing Rp 451,7 miliar per 4 Juni 2026 dan Rp 9,6 triliun secara year to date.
Sentimen suku bunga, rupiah, dan rekomendasi analis
Analis Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta menyebut pelemahan saham big banks dipicu dua sentimen utama, yaitu kenaikan suku bunga acuan dan pelemahan rupiah. Menurut dia, kenaikan BI rate menjadi 5,25% pada Mei 2026 membuat investor asing khawatir terhadap tekanan pada kinerja bank, meski dampaknya dinilai lebih bersifat jangka pendek jika laporan keuangan Mei tetap positif.Nafan menilai pelemahan rupiah menjadi faktor yang lebih berkelanjutan karena mendorong arus keluar investor asing dari saham perbankan. Ia juga mengatakan BBCA dan BBRI yang memiliki kapitalisasi pasar terbesar di bursa paling sensitif terhadap sentimen pasar, tetapi tetap merekomendasikan akumulasi bertahap dengan target harga BBCA Rp 8.375 dan BBRI Rp 3.670.
Dari sisi teknikal, analis Kiwoom Sekuritas Abdul Aziz Setiyo Wibowo memperkirakan saham big banks masih berpeluang rebound. Ia menyebut BBCA sedang membentuk pola doji, dengan peluang trading jangka pendek menuju Rp 5.875 sampai Rp 5.900 dan support di Rp 5.300, sementara BBRI memiliki support di Rp 2.780 dengan target jangka pendek sekitar Rp 3.070, sehingga valuasi sektor ini dinilai mulai menarik untuk akumulasi.
Dalam artikel kami sebelumnya tentang tekanan asing pada saham big banks seperti BBCA dan BBRI, kami mengulas bagaimana aksi net sell mendorong keduanya turun ke level terlemah dalam lima tahun pada 4 Juni 2026. Kami juga menyoroti bahwa kenaikan BI Rate ke 5,25% dan pelemahan rupiah menjadi pemicu utama arus keluar dana asing, meski fundamental emiten perbankan besar dinilai masih solid.
- Forex
- Crypto