BBCA dan BBRI sentuh level terlemah lima tahun di tengah tekanan jual asing
Tekanan pada saham perbankan berkapitalisasi besar berlanjut di Bursa Efek Indonesia seiring keluarnya dana asing dari sektor ini. BBCA dan BBRI kini diperdagangkan di bawah level lima tahun lalu, saat pelemahan harga pada 2026 juga menekan kinerja year-to-date kedua saham tersebut.
Sorotan
- Pada 4 Juni 2026, saham BBCA turun 1,81% ke Rp 5.425 dan BBRI turun 3,10% ke Rp 2.810, keduanya menyentuh level terlemah lima tahun.
- Sepanjang 2026, BBCA alami net sell asing Rp 31,34 triliun dan BBRI Rp 9,57 triliun, dengan penurunan kepemilikan asing masing-masing 10,07% dan 6,0%.
- Kenaikan BI Rate ke 5,25% dan depresiasi rupiah picu aksi jual pada saham bank besar, meski kinerja fundamental BBCA dan BBRI tetap solid dengan laba bersih Rp 20,81 triliun dan Rp 15,89 triliun.
Tekanan asing dan pelemahan harga saham
KONTAN melaporkan, pada penutupan perdagangan Kamis, 4 Juni 2026, saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) berada di Rp 5.425, turun 1,81% dari hari sebelumnya dan melemah 32,82% sejak awal tahun. Pada hari yang sama, saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) ditutup di Rp 2.810, turun 3,10% harian dengan koreksi 23,22% secara year-to-date.
Level harga itu menjadi yang terlemah bagi kedua saham dalam lima tahun terakhir. Dibandingkan posisi 4 Juni 2021, harga BBCA telah turun 17,80%, sementara BBRI merosot 33,94%, mencerminkan tekanan jual yang terus berlanjut pada dua saham bank besar tersebut.
Sepanjang 2026, BBCA mencatat net sell asing sebesar Rp 31,34 triliun, sedangkan BBRI mencatat net sell Rp 9,57 triliun. Data KSEI juga menunjukkan kepemilikan asing di BBCA pada akhir Mei 2026 turun 10,07% dibanding akhir Desember 2025 menjadi 36,91 miliar saham, sementara kepemilikan asing di BBRI turun 6,0% menjadi sekitar 41,6 miliar saham.
Saham bank besar lain seperti PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) dan PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) juga masih melemah. Namun, harga kedua saham itu masih berada di atas posisi lima tahun lalu, berbeda dengan BBCA dan BBRI yang sudah menembus level lebih rendah dari periode tersebut.
Dampak sentimen suku bunga pada sektor perbankan
Senior Analis Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta menilai ada dua sentimen utama yang menekan saham bank besar, yakni kenaikan BI Rate dan depresiasi rupiah. Menurut dia, keputusan Bank Indonesia menaikkan BI Rate menjadi 5,25% pada Mei 2026 memicu kekhawatiran investor asing terhadap prospek kinerja saham perbankan besar ke depan, sehingga aksi jual semakin kuat.Meski demikian, ia menilai dampak sentimen suku bunga itu hanya bersifat jangka pendek. Kinerja fundamental emiten bank besar masih solid, antara lain ditopang laba bersih BBCA sebesar Rp 20,81 triliun dan BBRI sebesar Rp 15,89 triliun.
Jika laporan kinerja bank besar untuk Mei 2026 kembali menunjukkan hasil positif, tekanan dari sentimen BI Rate diperkirakan mulai mereda. Artinya, arah pergerakan saham sektor perbankan besar selanjutnya akan sangat dipengaruhi oleh kombinasi arus dana asing, stabilitas rupiah, dan konsistensi pertumbuhan laba emiten.
Dalam artikel kami sebelumnya tentang anjloknya IHSG pada 4 Juni 2026, kami membahas tekanan jual yang menyeret indeks ke level 5.839, dengan mayoritas saham ditutup melemah dan nilai transaksi yang tinggi. Kami juga mencatat pelemahan terjadi merata di seluruh sektor, meski ada beberapa saham yang tetap mencatat kenaikan tajam di tengah koreksi pasar yang luas.
Berita Centralbanks Terbaru
- Forex
- Crypto