Profitabilitas perbankan Indonesia tertahan saat ROA April 2026 melemah
Profitabilitas bank di Indonesia masih bergerak terbatas pada April 2026 ketika tekanan suku bunga tinggi dan pelemahan rupiah menahan ruang peningkatan laba. Rata-rata return on asset perbankan tercatat 2,46%, sedikit turun dari 2,47% pada Maret 2026 dan 2,53% pada April 2025.
Sorotan
- ROA perbankan Indonesia stagnan pada April 2026 karena kenaikan BI Rate meningkatkan biaya dana dan membatasi profitabilitas, terutama pada penempatan investasi jangka pendek.
- ROA PT Bank Negara Indonesia Tbk turun ke 2,00% dan BCA ke 4,91% di kuartal I-2026, sedangkan Bank Mandiri dan BRI mengalami kenaikan tipis menjadi masing-masing 3,02% dan 2,98%.
- PT Bank Syariah Indonesia Tbk membukukan kenaikan ROA ke 2,42% pada April 2026 dengan strategi pembiayaan berkualitas, peningkatan komisi, dan pengembangan ekosistem bisnis syariah.
Tekanan suku bunga dan kurs pada kinerja bank
Seperti dilaporkan KONTAN, data Otoritas Jasa Keuangan menunjukkan rasio ROA perbankan pada April 2026 belum menguat, sementara kenaikan BI Rate dinilai mendorong biaya dana bank menjadi lebih mahal. Kondisi itu membatasi kemampuan bank meningkatkan profitabilitas, terutama ketika penempatan pada surat utang dan instrumen investasi jangka pendek ikut menekan struktur biaya.Ekonom PT Bank Tabungan Negara Tbk Myrdal Gunarto mengatakan pertumbuhan ROA bank saat ini masih tertekan oleh lingkungan suku bunga tinggi. Menurut dia, bank juga semakin berhati-hati menyalurkan kredit karena tingkat risiko masih tinggi, sehingga pendapatan bunga tidak optimal dan sebagian dana bergeser ke instrumen investasi.
Myrdal menilai ROA perbankan hingga akhir 2026 masih berpotensi membaik, tetapi pergerakannya sangat bergantung pada meredanya gejolak ekonomi, terutama dari sentimen global. Dengan latar itu, pemulihan profitabilitas industri masih terkait erat dengan stabilitas makroekonomi dan arah biaya pendanaan.
Perbedaan kinerja bank besar dan strategi menjaga margin
Di kelompok bank besar, tekanan ROA masih terlihat pada PT Bank Negara Indonesia Tbk dan PT Bank Central Asia Tbk hingga kuartal I-2026. ROA BNI turun menjadi 2,00% dari 2,40% pada periode yang sama tahun sebelumnya, sedangkan BCA mencatat 4,91%, turun dari 5,2%.EVP Corporate Communication & Social Responsibility BCA, Hera F. Heryn, mengatakan perseroan tetap mencermati kondisi makroekonomi, termasuk pelemahan rupiah dan kenaikan BI Rate. BCA tetap berfokus pada pertumbuhan kredit yang prudent dan berkualitas, penguatan dana murah atau CASA, pengembangan layanan digital, efisiensi operasional, serta optimalisasi pendapatan berbasis komisi untuk menjaga profitabilitas.
Sebaliknya, PT Bank Mandiri Tbk dan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk masih membukukan kenaikan tipis ROA pada kuartal I-2026. ROA Bank Mandiri naik menjadi 3,02% dari 3,00%, sedangkan BRI meningkat menjadi 2,98% dari 2,95%.
Dari perbankan syariah, PT Bank Syariah Indonesia Tbk juga mencatat perbaikan profitabilitas. Corporate Secretary BSI Wisnu Sunandar mengatakan ROA BSI hingga April 2026 berada di level 2,42%, naik dari 2,30% pada April 2025, didukung kinerja yang meningkat solid. BSI menargetkan profitabilitas tetap terjaga melalui pembiayaan berkualitas, peningkatan pendapatan berbasis komisi, penguatan CASA, serta pengembangan ekosistem bisnis syariah dan bullion bank sebagai sumber pertumbuhan.
Dalam artikel kami sebelumnya tentang koreksi IHSG yang menekan saham bank-bank big cap, kami menyoroti penurunan tajam BBCA, BBRI, BBNI, dan BMRI hingga menyentuh level terendah 3–5 tahun. Kami juga mencatat bahwa tekanan saat itu terutama dipicu pelemahan rupiah, arus keluar dana asing, dan sentimen makro, sementara fundamental perbankan dinilai masih relatif solid meski volatilitas berpotensi berlanjut.
- Forex
- Crypto