Amartha sebut pembiayaan inklusif dorong pendapatan UMKM di tengah gap kredit
Kesenjangan pembiayaan UMKM nasional masih lebar pada 2026, saat kebutuhan kredit diproyeksikan mencapai Rp4.300 triliun namun realisasinya baru sekitar Rp1.900 triliun. Di tengah kondisi itu, Amartha menyatakan akses pembiayaan yang tepat sasaran berkontribusi pada kenaikan pendapatan pelaku usaha mikro di wilayah akar rumput.
Sorotan
- Amartha melaporkan 89% UMKM binaan mengalami peningkatan pendapatan rata-rata 63% setelah menerima pembiayaan, melibatkan 2,3 juta dari 3,9 juta UMKM di 50.000 desa.
- Kesenjangan kebutuhan pembiayaan UMKM nasional mencapai Rp2.400 triliun pada 2026, dengan realisasi kredit baru sekitar Rp1.900 triliun dari proyeksi kebutuhan Rp4.300 triliun.
- Adopsi teknologi finansial meningkatkan inklusi keuangan hingga 41,5% lebih tinggi dan memperluas akses pinjaman daring ke wilayah pedesaan serta memperkuat ketahanan ekonomi.
Dampak pembiayaan dan data terbaru Amartha
Seperti dilaporkan KONTAN Indonesia, PT Amartha Financial Group menyampaikan pembiayaan inklusif berkontribusi terhadap peningkatan pendapatan pelaku usaha mikro, mengacu pada Sustainability Report Amartha 2025 dan keterangan resmi perusahaan pada Senin, 20 April 2026.Founder & CEO Amartha, Andi Taufan Garuda Putra, mengatakan akses pembiayaan yang tepat sasaran memberikan dampak ekonomi nyata bagi UMKM. Menurut dia, 89% UMKM binaan mengalami peningkatan pendapatan dengan rata-rata pertumbuhan 63% setelah memperoleh akses pembiayaan.
Dampak tersebut dirasakan sekitar 2,3 juta dari total 3,9 juta UMKM binaan yang tersebar di lebih dari 50.000 desa. Andi Taufan menilai kondisi itu menegaskan bahwa pembiayaan inklusif tidak hanya membuka akses modal, tetapi juga menjadi katalis pertumbuhan usaha dan kesejahteraan pelaku UMKM.
Implikasi bagi inklusi keuangan nasional
Di tingkat nasional, kebutuhan pembiayaan UMKM masih jauh dari terpenuhi. Dengan proyeksi kebutuhan kredit Rp4.300 triliun pada 2026 dan realisasi baru sekitar Rp1.900 triliun, masih terdapat celah pembiayaan sekitar Rp2.400 triliun.Direktur Ekonomi Digital Center of Economic and Law Studies, Nailul Huda, menilai penguatan akses pembiayaan menjadi faktor kunci untuk mendorong mobilitas ekonomi masyarakat. Menurut dia, lebarnya kesenjangan pembiayaan menunjukkan masih banyak pelaku usaha yang belum terhubung dengan sistem keuangan formal, sementara akses yang terbuka dapat meningkatkan pendapatan dan memperkuat ketahanan rumah tangga saat menghadapi tekanan ekonomi.
Ia menambahkan adopsi teknologi finansial ikut mendorong inklusi keuangan, dengan negara yang telah mengadopsinya tercatat memiliki tingkat inklusi keuangan 41,5% lebih tinggi dibandingkan negara yang belum mengadopsi. Pinjaman daring juga disebut memperluas akses layanan keuangan hingga ke wilayah pedesaan, termasuk mendorong munculnya agen layanan keuangan di desa.
Ke depan, Andi Taufan menegaskan Amartha akan terus memperluas akses pembiayaan untuk memperkuat ekosistem usaha mikro. Menurut dia, pembiayaan merupakan instrumen untuk mendorong peningkatan kapasitas dan daya saing usaha mikro, sehingga perluasan jangkauan layanan diharapkan memperbesar dampak ekonomi yang dihasilkan.
Dalam artikel kami sebelumnya tentang kolaborasi BTN dan Indosat untuk layanan keuangan digital, kami membahas penandatanganan nota kesepahaman guna mengintegrasikan jaringan telekomunikasi dan layanan perbankan dalam satu ekosistem. Inisiatif ini ditujukan untuk memperluas titik akses layanan keuangan formal—mulai dari pembiayaan hingga kebutuhan finansial harian—sekaligus mempercepat inklusi keuangan nasional lewat distribusi digital.
Berita Ak Yatırım Terbaru
- Forex
- Crypto