Industri paylater berpeluang tumbuh saat lipstick effect mendorong konsumsi kecil
Di tengah perlambatan ekonomi dan tekanan daya beli, pola konsumsi masyarakat bergeser ke barang dan layanan berharga terjangkau untuk memenuhi kebutuhan emosional. Pergeseran ini dinilai dapat memperluas ruang pertumbuhan layanan Buy Now Pay Later, meski industri tetap menghadapi risiko kredit macet yang meningkat.
Sorotan
- Fenomena lipstick effect mendorong konsumen tetap belanja kebutuhan kecil meski ekonomi melemah, sehingga membuka peluang pertumbuhan bisnis paylater.
- Model bisnis fintech dan paylater mulai berfokus ke transaksi harian bernilai kecil seperti makanan, transportasi, kesehatan, dan belanja ritel murah.
- Tingkat Wanprestasi 90 hari industri fintech lending naik menjadi 4,52% per Maret 2026 dari 2,77% pada Maret 2025, menambah urgensi penguatan manajemen risiko dan inovasi skema cicilan mikro.
Pergeseran konsumsi dan peluang pembiayaan digital
Seperti dilaporkan KONTAN Indonesia, fenomena lipstick effect muncul ketika konsumen tetap membelanjakan uang untuk kebutuhan kecil yang masih terjangkau meski kondisi ekonomi melemah. Direktur Ekonomi Digital Center of Economic and Law Studies, Nailul Huda, mengatakan perilaku ini mencerminkan upaya masyarakat menjaga kepuasan psikologis di tengah penurunan kemampuan belanja, dan pada tahap awal lebih banyak ditopang dana pribadi.Menurut dia, perkembangan teknologi keuangan kini memberi alternatif pembiayaan lewat layanan BNPL atau paylater yang prosesnya cepat dan mudah untuk nominal kecil. Direktur Eksekutif ICT Institute, Heru Sutadi, juga menilai tren tersebut berpotensi membuka pertumbuhan bisnis paylater karena masyarakat masih ingin memenuhi kebutuhan konsumsi dan hiburan yang dianggap terjangkau di tengah tekanan ekonomi.
Dampak bagi model bisnis fintech
Perubahan pola belanja ini diperkirakan ikut menggeser fokus model bisnis fintech dan paylater ke transaksi kecil serta kebutuhan harian, seperti makanan, transportasi, kesehatan, dan belanja ritel murah. Arah ini berbeda dari pola sebelumnya yang banyak menyasar pembelian gadget, fesyen premium, atau perjalanan.Namun, tekanan terhadap kualitas pembiayaan tetap menjadi tantangan utama jika daya beli dan pendapatan masyarakat terus melemah. Otoritas Jasa Keuangan mencatat Tingkat Wanprestasi 90 hari industri fintech lending per Maret 2026 berada di 4,52%, naik dari 2,77% pada Maret 2025.
Kondisi itu membuat pelaku industri dinilai perlu mengembangkan skema cicilan mikro, tenor pendek, dan integrasi dengan ekosistem kebutuhan sehari-hari, sambil memperketat manajemen risiko. Langkah tersebut dipandang penting untuk menjaga profitabilitas, karena margin transaksi kecil cenderung lebih rendah sementara biaya mitigasi risiko tetap tinggi.
Dalam ulasan kami sebelumnya tentang penurunan laba industri fintech P2P lending per Maret 2026, kami mencatat profitabilitas tertekan meski penyaluran pembiayaan masih bertumbuh. Tekanan utama datang dari kenaikan beban operasional untuk pemenuhan regulasi, pemasaran, dan investasi teknologi, serta upaya memperketat kualitas kredit lewat credit scoring di tengah kenaikan risiko wanprestasi.
Berita Ak Yatırım Terbaru
- Forex
- Crypto