Bank Mandiri catat laba kuartal I-2026 naik 17%, prospek bank besar tetap solid

Bank Mandiri catat laba kuartal I-2026 naik 17%, prospek bank besar tetap solid
Laba Mandiri naik 17%

Kinerja awal bank-bank besar Indonesia pada kuartal I-2026 menunjukkan pertumbuhan laba, kredit, dan dana pihak ketiga yang masih kuat di tengah tekanan pasar global. Hasil Bank Mandiri menjadi acuan awal bagi prospek kelompok KBMI IV, sementara pelaku industri menilai laju kinerja semester pertama masih terjaga meski rupiah melemah dan yield obligasi naik.

Sorotan

  • Bank Mandiri membukukan laba bersih konsolidasi Rp15,4 triliun pada kuartal I-2026, naik 16,6% yoy, ditopang pertumbuhan kredit 17,4% ke Rp1.530 triliun.
  • Rasio NPL gross Bank Mandiri membaik ke 0,98%, NPL coverage ratio 245%, sedangkan dana pihak ketiga naik 21,1% yoy menjadi Rp1.675 triliun.
  • Tekanan dari pelemahan rupiah dan potensi kenaikan yield diperkirakan mulai memengaruhi strategi likuiditas, tetapi prospek perbankan 2026 tetap solid dengan pertumbuhan kredit industri diproyeksi 8–12% yoy.

Kinerja kuartal pertama dan arah ekspansi

KONTAN Indonesia melaporkan PT Bank Mandiri Tbk membukukan laba bersih konsolidasi Rp15,4 triliun pada kuartal I-2026, naik 16,6% secara tahunan, ditopang kenaikan pendapatan bunga bersih 11,1% menjadi Rp21,17 triliun. Penyaluran kredit mencapai Rp1.530 triliun, tumbuh 17,4% yoy, sementara dana pihak ketiga bank only naik 21,1% yoy menjadi Rp1.675 triliun, melampaui pertumbuhan industri 13,2% pada periode yang sama.

Kualitas aset Bank Mandiri juga tetap terjaga, dengan rasio NPL gross bank only di level 0,98%, membaik 3 basis poin secara tahunan, serta NPL coverage ratio 245%. Direktur Finance & Strategy Bank Mandiri, Novita Widya Anggraini, mengatakan bank memproyeksikan ekspansi kredit pada kuartal II-2026 tetap tumbuh sejalan dengan industri, dengan fokus pada sektor prospektif dan berdaya tahan tinggi sambil tetap menerapkan prinsip kehati-hatian.

Dari sisi pendanaan, Bank Mandiri menargetkan pertumbuhan dana pihak ketiga lebih tinggi daripada kredit, dengan fokus pada peningkatan dana murah atau CASA untuk menjaga efisiensi struktur pendanaan dan likuiditas. Bank juga memproyeksikan margin bunga bersih tetap stabil melalui penguatan ekosistem, percepatan transaksi, dan optimalisasi komposisi portofolio.

PT Bank Rakyat Indonesia Tbk juga menyatakan kinerjanya pada kuartal I-2026 tetap solid dan resilien dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Hingga Februari 2026, BRI mencatat laba Rp7,73 triliun, tumbuh 17,05% yoy, didorong penurunan beban bunga 15,21% menjadi Rp6,74 triliun, sementara kredit tumbuh 10,49% menjadi Rp1.345,16 triliun dan dana pihak ketiga naik 9,26% menjadi Rp1.508,84 triliun.

Tekanan eksternal dan dampak bagi industri

Senior Vice President Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia, Trioksa Siahaan, menilai performa Bank Mandiri ditopang kombinasi pertumbuhan kredit, margin bunga bersih yang terjaga, kualitas aset stabil, dan efisiensi operasional. Menurut dia, faktor yang sama menjadi penentu bagi bank besar lain, tetapi hasil akhirnya tetap bervariasi sesuai keunggulan masing-masing, seperti kekuatan BRI di mikro, BCA pada CASA dan biaya dana rendah, serta BNI pada kredit korporasi.

Ia menilai kinerja perbankan pada kuartal I-2026 masih tumbuh baik, namun tekanan mulai muncul dari pelemahan rupiah yang berpotensi mendorong kenaikan yield obligasi dan memengaruhi likuiditas perbankan, terutama biaya dana serta strategi penempatan likuiditas. Meski demikian, Trioksa memperkirakan kinerja industri perbankan secara umum masih tetap solid pada semester I-2026, dengan prospek paruh kedua tahun bergantung pada stabilitas geopolitik, nilai tukar rupiah, harga minyak, dan inflasi.

Global Markets Economist Maybank Indonesia, Myrdal Gunarto, mengatakan laba bank besar pada awal 2026 ditopang pertumbuhan kredit dan dana pihak ketiga yang sama-sama tumbuh di atas 10% secara tahunan. Ia menyebut pendorong utama berasal dari ekspansi kredit ke sektor produktif dan UMKM, penurunan biaya dana, pertumbuhan fee-based income dari transaksi digital, serta kualitas aset yang tetap terjaga.

Myrdal memperkirakan pertumbuhan laba bank besar pada kuartal I-2026 berada di kisaran 3% hingga 17% yoy, dengan pertumbuhan kredit 10% hingga 17% yoy dan dana pihak ketiga 10% hingga 21% yoy. Mengacu pada proyeksi regulator, pertumbuhan kredit sepanjang 2026 diperkirakan berada pada kisaran 8% hingga 12% yoy, sementara dana pihak ketiga tumbuh 7% hingga 11% yoy, dengan laba bersih bank besar tetap tumbuh positif sekitar 5% hingga 9% yoy selama biaya dana dan kualitas kredit tetap terjaga.

Pergerakan IHSG yang melemah ke area 7.500-an pada awal perdagangan 21 April 2026 sempat mencerminkan tekanan jual yang meluas, dengan sektor keuangan termasuk yang tertekan dan indeks utama seperti LQ45 ikut turun. Dalam ulasan kami sebelumnya, kami juga menyoroti paparan pemerintah Indonesia di Pertemuan Musim Semi IMF–Bank Dunia April 2026 yang menegaskan fundamental ekonomi tetap kuat, meski dihadapkan pada gejolak global, arus keluar devisa, dan depresiasi rupiah.

Materi ini mungkin mengandung opini pihak ketiga, tidak ada data dan informasi di halaman web ini yang merupakan nasihat investasi menurut Disclaimer kami. Meskipun kami mematuhi Integritas Editorial yang ketat, postingan ini mungkin mengandung referensi ke produk dari mitra kami.