IHSG lanjut melemah pada awal perdagangan, sektor keuangan dan energi tertekan
Perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia pada Selasa pagi dibuka dengan tekanan jual yang mendorong IHSG turun ke area 7.500-an. Pelemahan ini terjadi saat mayoritas saham bergerak di zona merah, dengan nilai transaksi awal mencapai Rp1,2 triliun.
Sorotan
- IHSG melemah 0,92 persen ke 7.524 pada awal perdagangan 21 April 2026, dengan sektor keuangan dan energi tertekan.
- Indeks LQ45 turun 1,15 persen ke 747, JII turun 1,09 persen ke 521, dan IDX30 turun 0,46 persen ke 399.
- Nilai transaksi awal mencapai Rp1,2 triliun dengan 3,4 miliar lembar saham diperdagangkan, 215 saham menguat dan 305 saham melemah.
Pergerakan awal perdagangan 21 April
Sebagaimana dilaporkan Okezone Economy Indonesia, Indeks Harga Saham Gabungan dibuka melemah 0,45 persen ke level 7.560,28 dan beberapa menit kemudian memperdalam penurunan menjadi 0,92 persen ke 7.524 pada Selasa, 21 April 2026.Pada fase awal perdagangan, sebanyak 215 saham menguat, 305 saham melemah, dan 439 saham bergerak stagnan. Volume transaksi tercatat 3,4 miliar lembar saham dengan nilai transaksi awal mencapai Rp1,2 triliun.
Tekanan juga terlihat pada sejumlah indeks utama lain. Indeks LQ45 turun 1,15 persen ke 747, indeks JII turun 1,09 persen ke 521, indeks MNC36 melemah 0,52 persen ke 314, dan IDX30 turun 0,46 persen ke 399.
Tekanan sektoral dan pergerakan saham
Sebagian besar indeks sektoral berada di zona merah, termasuk energi, konsumer non-siklikal, konsumer siklikal, properti, infrastruktur, keuangan, dan kesehatan. Sektor yang masih mencatat penguatan hanya bahan baku, transportasi, industri, dan teknologi.Di kelompok saham penguat teratas, pergerakan dipimpin oleh PT LCK Global Kedaton Tbk (LCKM), PT Ciptadana Asset Management Tbk (XCLQ), dan PT BSA Logistics Indonesia Tbk (WBSA). Sementara saham yang memimpin penurunan adalah PT Indo Premier Investment Management Tbk (XIML), PT Gowa Makassar Tourism Development Tbk (GMTD), dan PT Idea Indonesia Akademi Tbk (IDEA).
Dalam artikel kami sebelumnya tentang paparan pemerintah Indonesia di Pertemuan Musim Semi IMF–Bank Dunia April 2026, kami mengulas penegasan bahwa fundamental ekonomi dinilai tetap kuat meski tensi geopolitik meningkat dan pasar global bergejolak. Pemerintah menyoroti disiplin fiskal dengan defisit APBN dijaga di bawah 3% PDB, sekaligus memaparkan target pertumbuhan 2026 di kisaran 5,4–6% di tengah tekanan arus keluar devisa dan depresiasi rupiah.
Berita Terbaru
- Forex
- Crypto