Tekanan jual mendominasi perdagangan saham Indonesia pada penutupan siang Senin, 8 Juni 2026, ketika IHSG berakhir di level 5.434. Pelemahan ini terjadi setelah indeks juga dibuka lebih rendah di 5.486, dengan mayoritas saham bergerak di zona merah.
Sorotan
- IHSG turun 2,87 persen pada sesi I perdagangan Jakarta, sempat menyentuh tertinggi 5.523 dan terendah 5.346 sebelum penutupan siang.
- Volume transaksi mencapai 18,4 miliar lembar saham dengan nilai transaksi Rp12,9 triliun dan kapitalisasi pasar Rp12,9 triliun pada sesi tersebut.
- Dari 959 saham, 685 emiten melemah, 89 menguat, STAR naik 22,76 persen sementara SRAJ turun 15,00 persen sebagai top losers.
Pergerakan indeks dan aktivitas transaksi
Seperti dilaporkan Okezone Economy Indonesia, IHSG sempat menyentuh level tertinggi 5.523 sebelum turun hingga level terendah 5.346 pada sesi I perdagangan. Hingga penutupan siang, volume transaksi mencapai 18,4 miliar lembar saham dengan nilai transaksi Rp12,9 triliun dan frekuensi perdagangan 1,3 juta kali.Kapitalisasi pasar pada sesi tersebut tercatat berada di kisaran Rp12,9 triliun. Pergerakan indeks yang melemah sejak pembukaan menunjukkan tekanan pasar berlangsung sepanjang paruh pertama perdagangan.
Tekanan mayoritas saham dan pergerakan emiten
Dari seluruh saham yang diperdagangkan, sebanyak 89 emiten menguat, 685 emiten melemah, dan 185 saham stagnan. Komposisi ini menegaskan pelemahan pasar yang berlangsung luas, bukan hanya pada sejumlah saham tertentu.Di kelompok top gainers, Calculus Global Ventures (STAR) memimpin setelah naik 22,76 persen, diikuti Brigit Biofarmaka (OBAT) yang menguat 22,28 persen dan Ingria Pratama Capitalindo (GRIA) yang naik 21,21 persen. Pada sisi top losers, Sejahteraraya Anugrahjaya (SRAJ) turun 15,00 persen, Austindo Nusantara Jaya (ANJT) melemah 14,95 persen, dan Super Bank Indonesia (SUPA) terkoreksi 14,89 persen.
Dalam artikel kami sebelumnya tentang tekanan IHSG pada pekan perdagangan 8–12 Juni 2026, kami menyoroti bagaimana rebalancing FTSE, inflasi Mei 3,08% (yoy), serta pelemahan rupiah hingga di atas Rp18.000 per dolar AS memicu aksi jual asing dan memperkuat tren bearish. Kami juga mencatat pasar menanti rilis data domestik—cadangan devisa, keyakinan konsumen, dan penjualan eceran—sebagai penentu arah IHSG di tengah tekanan yang belum mereda.
Berita Terbaru
- Forex
- Crypto