Kredit perbankan Indonesia menguat pada Maret 2026, ditopang investasi dan korporasi

Kredit perbankan Indonesia menguat pada Maret 2026, ditopang investasi dan korporasi
Kredit perbankan melonjak

Permintaan pembiayaan di Indonesia mulai menunjukkan pemulihan yang lebih merata setelah pertumbuhan kredit sempat melambat pada awal tahun. Pada Maret 2026, kredit perbankan tumbuh 9,49% secara tahunan dan berbalik naik 0,83% sejak akhir 2025, didorong terutama oleh kredit investasi dan ekspansi nasabah korporasi.

Sorotan

  • Kredit perbankan Indonesia pada Maret 2026 tumbuh 9,49% secara tahunan, naik dari 9,37% Februari, didorong kredit investasi yang melonjak 20,85%.
  • Bank Mandiri mencatat pertumbuhan kredit 17,4% secara tahunan dengan segmen korporasi naik 29,2%, memperketat strategi menghadapi risiko ekonomi global dan pelemahan daya beli.
  • BTN mencetak pertumbuhan kredit 10,3% secara tahunan didorong segmen korporasi 51,9% dan memperkuat penyaluran pada sektor perumahan melalui program FLPP dan Kredit Program Perumahan.

Pertumbuhan Maret didorong kredit investasi

KONTAN melaporkan Bank Indonesia mencatat penyaluran kredit perbankan pada Maret 2026 tumbuh 9,49% secara tahunan, lebih tinggi dari 9,37% pada Februari. Secara kumulatif sejak akhir 2025, kredit juga naik 0,83%, membaik dari Februari yang masih terkontraksi 0,32%, yang menunjukkan momentum ekspansi mulai terbentuk kembali.

Dari sisi penggunaan, kredit investasi menjadi penopang utama dengan pertumbuhan 20,85% secara tahunan, menandakan proyek jangka panjang di sektor riil mulai bergerak lagi. Kredit modal kerja tumbuh 4,38%, membaik dari 3,88% pada bulan sebelumnya, sedangkan kredit konsumsi melambat dari 6,34% menjadi 5,88%, mencerminkan kehati-hatian rumah tangga dalam belanja.

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menilai tren ini sejalan dengan pemulihan ekonomi nasional yang terus berlangsung. BI tetap mempertahankan proyeksi pertumbuhan kredit di kisaran 8% hingga 12% sepanjang 2026, dengan ruang peningkatan permintaan pembiayaan yang masih terbuka melalui optimalisasi undisbursed loan.

Dari sisi perbankan, BI menilai likuiditas masih memadai dan minat menyalurkan kredit tetap terjaga. Meski standar pemberian kredit cenderung longgar, kehati-hatian masih diterapkan terutama pada segmen UMKM dan konsumer yang lebih sensitif terhadap kondisi ekonomi.

Bank besar menjaga ekspansi di tengah risiko

Sejumlah bank besar juga membukukan pertumbuhan kredit yang agresif pada Maret 2026. Bank Mandiri mencatat pertumbuhan kredit 17,4% secara tahunan dan 2,21% secara kuartalan, dengan segmen korporasi menjadi pendorong utama setelah melonjak 29,2%, sementara kredit komersial tumbuh 13,34%.

Direktur Utama Bank Mandiri Riduan menyatakan prospek ekspansi masih terbuka, tetapi ketidakpastian global tetap perlu diwaspadai karena dapat memengaruhi kondisi domestik dan sektor perbankan. Ia juga menyoroti tekanan harga energi serta pelemahan daya beli yang berpotensi meningkatkan risiko kredit, sehingga bank memperketat strategi penyaluran pada sektor yang dinilai lebih tahan banting sambil memperkuat pengawasan portofolio.

BTN mencatat pertumbuhan kredit 10,3% secara tahunan, dengan lonjakan tertinggi berasal dari segmen korporasi sebesar 51,9% dan komersial 12,3%. Di saat yang sama, Kredit Pemilikan Rumah, sebagai bisnis inti BTN, tumbuh 5,9%, dan bank ini tetap menargetkan pertumbuhan kredit sekitar 10% pada 2026.

Direktur Utama BTN Nixon Napitupulu menyebut pendorong utama pertumbuhan akan datang dari program Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan dan Kredit Program Perumahan. Dukungan pada pembiayaan rumah tersebut menunjukkan sektor perumahan masih menjadi salah satu area penting bagi penyaluran kredit perbankan nasional di tengah dinamika ekonomi.

Dalam ulasan kami sebelumnya tentang penguatan insentif likuiditas makroprudensial (KLM) Bank Indonesia, kami menyoroti penyaluran insentif sebesar Rp 427,9 triliun hingga minggu pertama April 2026 untuk mendorong kredit perbankan ke sektor-sektor prioritas. Kami juga menjelaskan bahwa mayoritas insentif disalurkan melalui jalur penyaluran kredit, dengan porsi terbesar diterima bank-bank BUMN, serta diarahkan agar bank lebih agresif menyalurkan kredit sekaligus menurunkan suku bunga kredit baru.

Materi ini mungkin mengandung opini pihak ketiga, tidak ada data dan informasi di halaman web ini yang merupakan nasihat investasi menurut Disclaimer kami. Meskipun kami mematuhi Integritas Editorial yang ketat, postingan ini mungkin mengandung referensi ke produk dari mitra kami.