Bank di Indonesia revisi target RBB 2026 di tengah tekanan makro

Bank di Indonesia revisi target RBB 2026 di tengah tekanan makro
Bank revisi target 2026

Perbankan di Indonesia mulai menyesuaikan target bisnis 2026 ketika suku bunga, nilai tukar rupiah, biaya dana, dan ketidakpastian global mengubah asumsi yang dipakai sejak akhir tahun lalu. Pergeseran itu mendorong sejumlah bank untuk lebih menekankan kualitas aset dan seleksi debitur dibanding mengejar pertumbuhan kredit yang agresif.

Sorotan

  • Citi Indonesia revisi RBB 2026, memangkas proyeksi laba bersih hingga Mei 2026 sebesar 18,07% menjadi Rp906,20 miliar dan pendapatan bunga bersih turun 6,97% menjadi Rp1,65 triliun.
  • KB Bank dan Citi Indonesia menurunkan target pertumbuhan kredit 2026 menjadi level mid–single digit dan menyesuaikan ekspansi DPK akibat kenaikan suku bunga, pelemahan rupiah, dan lonjakan harga energi.
  • Pertumbuhan kredit industri perbankan Indonesia hingga akhir tahun diperkirakan antara 8%–12% dengan pergeseran strategi menuju fokus kualitas aset, likuiditas, dan penghimpunan dana murah.

Penyesuaian target kredit dan dana 2026

KONTAN Indonesia melaporkan, PT Citibank N.A. Indonesia menjadi salah satu bank yang mengajukan revisi Rencana Bisnis Bank, atau RBB, 2026 setelah asumsi makro berubah sepanjang tahun ini. Presiden Direktur Citi Indonesia Batara Sianturi mengatakan kenaikan suku bunga, pelemahan rupiah, dan lonjakan harga minyak akibat konflik geopolitik membuat perseroan menyesuaikan kembali proyeksi bisnisnya.

Dalam revisi itu, Citi Indonesia menargetkan pertumbuhan dana pihak ketiga, atau DPK, pada kisaran high single digit, sementara pertumbuhan kredit dipatok di level mid single digit. Hingga Mei 2026, laba bersih bank ini turun 18,07% secara tahunan menjadi Rp906,20 miliar, sedangkan pendapatan bunga bersih menyusut 6,97% menjadi Rp1,65 triliun. Meski begitu, kredit masih naik 5,80% menjadi Rp28,16 triliun, DPK tumbuh 20,21% menjadi Rp72,89 triliun, dan total aset meningkat 23,42% menjadi Rp117,16 triliun.

Citi Indonesia masih memusatkan penyaluran pembiayaan pada segmen korporasi, dengan kontribusi utama dari multifinance, lembaga keuangan non-bank, makanan dan minuman, serta manufaktur pada semester I-2026. Pada segmen commercial banking, pertumbuhan terutama datang dari perusahaan teknologi yang sedang berkembang, sementara kebutuhan kredit modal kerja dan investasi dari korporasi multinasional maupun domestik dinilai masih terjaga.

PT Bank KB Indonesia Tbk juga akan menyesuaikan target pertumbuhan kredit tahun ini. Direktur Utama KB Bank Kunardy Darma Lie mengatakan target ekspansi yang semula sekitar 15% akan diturunkan agar lebih realistis dan sejalan dengan proyeksi pertumbuhan industri perbankan pada kisaran 8% hingga 12%, dengan fokus lebih besar pada kualitas portofolio dan pengendalian risiko kredit bermasalah.

Di sisi pendanaan, KB Bank tetap membidik pertumbuhan DPK dua digit, tetapi strategi penghimpunan difokuskan pada dana murah yang lebih stabil. Hingga Mei 2026, kredit KB Bank tumbuh 3,84% menjadi Rp43,52 triliun, sementara DPK meningkat 6,03% menjadi Rp44,08 triliun.

Berbeda dengan dua bank tersebut, PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk memastikan belum merevisi RBB tahun ini. Direktur Finance & Strategy BNI Hussein Paolo Kartadjoemena mengatakan realisasi bisnis perseroan masih sesuai target, dengan laba bersih bank only hingga Mei 2026 naik 7,06% menjadi Rp9,05 triliun, kredit tumbuh 24,55% menjadi Rp940,88 triliun, dan DPK melonjak 33,15% menjadi Rp1.063,92 triliun.

PT Bank Tabungan Negara Tbk juga masih mempertahankan target pertumbuhan kredit 8% hingga 10% pada tahun ini. Direktur Utama BTN Nixon LP Napitupulu mengatakan target itu tetap realistis seiring masuknya portofolio hasil akuisisi Bank SMBC Indonesia, sementara target rasio kredit bermasalah tetap dijaga di bawah 3%, meski perseroan membuka peluang mengevaluasi target DPK jika biaya dana terus meningkat.

BTN juga masih mempertahankan target laba bersih sekitar Rp4,5 triliun pada akhir tahun. Hingga Mei 2026, laba bersih konsolidasi BTN melonjak 54,37% menjadi Rp1,85 triliun, pendapatan bunga bersih tumbuh 15,15% menjadi Rp7,13 triliun, kredit dan pembiayaan naik 9,97% menjadi Rp403,06 triliun, dan DPK meningkat 9,09% menjadi Rp433,95 triliun.

Dampak bagi strategi industri perbankan

PT Bank Sahabat Sampoerna belum merevisi target bisnisnya, tetapi tetap melakukan stress testing secara rutin agar target tetap realistis dan prudent. Direktur Keuangan dan Perencanaan Bisnis Henky Suryaputra mengatakan kinerja hingga semester I-2026 masih solid, ditopang transformasi digital serta kolaborasi dengan fintech dan koperasi untuk memperluas pembiayaan UMKM.

Untuk menjaga pertumbuhan, Bank Sahabat Sampoerna mengandalkan perluasan kemitraan digital, penyempurnaan credit scoring, dan peningkatan dana murah melalui Sampoerna Mobile Banking. Hingga Mei 2026, laba bersih bank ini tumbuh 17,68% menjadi Rp11,86 miliar, sementara kredit turun 5,38% menjadi Rp10,93 triliun dan DPK naik 0,63% menjadi Rp13,05 triliun.

PT Krom Bank Indonesia Tbk juga masih mengevaluasi target pertumbuhan kredit, terutama pada segmen ritel yang dinilai menantang. Presiden Direktur Krom Bank Anton Hermawan mengatakan perseroan perlu menjaga keseimbangan antara pertumbuhan kredit dan DPK, meski target tahun ini tetap di atas capaian tahun lalu; hingga kuartal I-2026, laba bersih Krom Bank naik 99% menjadi Rp70 miliar, kredit tumbuh 98% menjadi Rp9,88 triliun, dan DPK meningkat 138% menjadi Rp10,86 triliun.

Senior Vice President Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia, atau LPPI, Trioksa Siahaan menilai revisi RBB merupakan langkah wajar di tengah perubahan kondisi ekonomi. Menurut dia, penyesuaian target lebih mencerminkan perubahan strategi bisnis dan sikap kehati-hatian daripada sinyal krisis, dengan pertumbuhan kredit industri perbankan hingga akhir tahun masih diperkirakan pada kisaran 8% hingga 12% dan DPK sekitar 9% hingga 11%.

Penyesuaian tersebut berpotensi membuat penyaluran kredit lebih terarah ke sektor dan debitur berkualitas, sehingga fungsi intermediasi tetap berjalan sambil menekan risiko aset bermasalah. Bagi industri perbankan Indonesia, fokus pada kualitas aset, likuiditas, dan dana murah kini menjadi faktor utama dalam menjaga profitabilitas di tengah tekanan makro yang berlanjut.

Dalam artikel kami sebelumnya tentang pertumbuhan kredit dan DPK perbankan Indonesia hingga Mei 2026, kami mencatat kredit tumbuh 11,51% yoy dengan rasio NPL tetap terjaga, sementara DPK naik 13,49% dan LDR turun tipis. Kami juga menyoroti likuiditas yang menurun namun masih berada di atas ambang aman, serta realisasi kredit dan DPK yang sudah berada dalam rentang target industri sehingga intermediasi tetap ditopang sektor produktif.

Materi ini mungkin mengandung opini pihak ketiga, tidak ada data dan informasi di halaman web ini yang merupakan nasihat investasi menurut Disclaimer kami. Meskipun kami mematuhi Integritas Editorial yang ketat, postingan ini mungkin mengandung referensi ke produk dari mitra kami.