Ashutosh Sureka

Kredit perbankan Indonesia tumbuh 11,51% pada Mei 2026, NPL tetap 2,17%

Kredit perbankan Indonesia tumbuh 11,51% pada Mei 2026, NPL tetap 2,17%
Kredit bank naik 11,51%

Menjelang akhir kuartal II-2026, penyaluran kredit perbankan di Indonesia terus menguat dengan pertumbuhan tahunan yang lebih cepat dibanding bulan sebelumnya. Perbaikan ini ditopang terutama oleh kredit investasi dan korporasi, sementara kualitas aset industri masih terjaga dan likuiditas bank tetap berada di atas ambang yang aman.

Sorotan

  • Kredit perbankan Indonesia tumbuh 11,51% pada Mei 2026, dengan rasio NPL tetap di 2,17% dan NPL net di 0,84%.
  • Likuiditas perbankan menurun, ditunjukkan rasio alat likuid terhadap non-core deposit turun ke 108,2% dan terhadap DPK turun ke 24,74%.
  • Dana pihak ketiga tumbuh 13,49% secara tahunan pada Mei 2026, melebihi target OJK, dan rasio LDR turun tipis ke 86,63%.

Likuiditas dan target industri perbankan

Menurut Kontan, dari sisi profil risiko, rasio kredit bermasalah atau non-performing loan industri tetap berada di level 2,17%, sama seperti bulan sebelumnya, sedangkan NPL net bertahan di 0,84%. Stabilnya rasio ini menunjukkan kualitas kredit perbankan masih terjaga di tengah pertumbuhan penyaluran yang lebih cepat.

Dian juga memastikan likuiditas perbankan tetap terjaga. Rasio alat likuid terhadap non-core deposit turun menjadi 108,2% dari 111,13%, sementara rasio alat likuid terhadap dana pihak ketiga turun menjadi 24,74% dari 25,39% pada bulan sebelumnya.

Pada saat yang sama, dana pihak ketiga perbankan hingga Mei 2026 tumbuh 13,49% secara tahunan, lebih tinggi dari 11,4% pada April 2026. Rasio kredit terhadap deposito turun tipis menjadi 86,63% dari 86,88%.

Tahun ini, OJK menargetkan pertumbuhan kredit di kisaran 10% hingga 12% dan pertumbuhan dana pihak ketiga sebesar 7% hingga 9%. Dengan realisasi hingga Mei yang sudah berada dalam rentang target, laju intermediasi perbankan menunjukkan sektor produktif masih menjadi penopang utama industri keuangan Indonesia.

Dalam artikel kami sebelumnya tentang prospek Citi Indonesia pada semester II-2026, kami mengulas pelemahan laba bersih hingga Mei namun disertai keyakinan manajemen bahwa kondisi paruh kedua tahun ini lebih kondusif berkat likuiditas yang kuat. Kami juga mencatat pertumbuhan aset dan DPK yang solid serta loan to deposit ratio yang masih memberi ruang untuk ekspansi kredit, di tengah penyesuaian target bisnis dan perhatian pada risiko suku bunga serta nilai tukar.

Materi ini mungkin mengandung opini pihak ketiga, tidak ada data dan informasi di halaman web ini yang merupakan nasihat investasi menurut Disclaimer kami. Meskipun kami mematuhi Integritas Editorial yang ketat, postingan ini mungkin mengandung referensi ke produk dari mitra kami.