Bank asing di Indonesia pertahankan pertumbuhan bisnis meski remitansi laba meningkat

Bank asing di Indonesia pertahankan pertumbuhan bisnis meski remitansi laba meningkat
Bank asing tetap ekspansi

Di tengah sorotan atas penarikan dana dan pembagian dividen besar oleh sejumlah bank asing, kinerja unit perbankan internasional di Indonesia hingga Mei 2026 masih menunjukkan ekspansi bisnis. Pertumbuhan kredit, dana pihak ketiga, dan aset tetap berlanjut, sementara pelaku industri menilai repatriasi laba lebih mencerminkan aksi korporasi normal daripada pelemahan prospek sektor perbankan nasional.

Sorotan

  • Citigroup Inc., Standard Chartered Plc., dan HSBC Holdings Plc. merepatriasi sekitar Rp 11,5 triliun dari Indonesia dalam dua tahun terakhir melalui distribusi laba dan dividen.
  • HSBC Indonesia membukukan laba bersih Rp 1,09 triliun hingga Mei 2026 (turun 12,10% YoY), sementara Standard Chartered tumbuh 59,40% menjadi Rp 553,62 miliar, dan Citibank N.A. turun 18,07% menjadi Rp 906,2 miliar.
  • Bank asing mempertahankan keunggulan pada kredit korporasi dan transaksi lintas negara dengan suku bunga dasar 5,19% (April 2026), di bawah rata-rata industri 8,62%, menandakan fokus pada debitur risiko rendah.

Kinerja bank asing dan dinamika remitansi laba

KONTAN melaporkan unit usaha Citigroup Inc., Standard Chartered Plc., dan HSBC Holdings Plc. menarik dana sekitar Rp 11,5 triliun dari Indonesia dalam dua tahun terakhir. Sepanjang 2025, PT Bank HSBC Indonesia membagikan dividen tunai sekitar Rp 2,95 triliun, yang terdiri dari dividen reguler Rp 1,32 triliun dan dividen khusus Rp 1,64 triliun, dengan dividen khusus berasal dari saldo laba ditahan dan dividen reguler memakai laba tahun buku 2024 yang telah disetujui pemegang saham.

HSBC Indonesia menegaskan pembagian dividen merupakan bagian dari dinamika bisnis yang normal dan menilai Indonesia tetap menjadi salah satu pasar strategis di tengah perubahan peta perdagangan serta rantai pasok Asia. Perseroan menyatakan Indonesia membawa skala dan momentum bagi fase pertumbuhan Asia berikutnya, dan HSBC tetap memprioritaskan peluang pertumbuhan tersebut.

Laporan tahunan Standard Chartered Indonesia dan Citibank N.A. Indonesia juga menunjukkan distribusi laba ke kantor pusat sepanjang 2025. Namun, keduanya masih mencatat kenaikan saldo laba yang belum diremitansikan, dengan Standard Chartered mentransfer laba Rp 388 miliar sementara saldo laba yang belum diremitansikan naik menjadi Rp 967,6 miliar dari Rp 442,4 miliar pada tahun sebelumnya.

Presiden Direktur Citibank N.A. Indonesia Batara Sianturi menyatakan aktivitas itu merupakan fenomena tahunan pada musim pembagian dividen, setelah laporan keuangan selesai diaudit pada Maret dan mayoritas perusahaan membagikan dividen pada April hingga Juni. Ia menegaskan komitmen Citi Indonesia tetap berlanjut dan menyebut remitansi dividen juga dilakukan luas di berbagai sektor di luar perbankan.

Di tengah isu tersebut, HSBC Indonesia membukukan laba bersih Rp 1,09 triliun hingga Mei 2026, turun 12,10% secara tahunan, sementara pendapatan bunga bersih turun 10,94% menjadi Rp 1,71 triliun. Meski begitu, kredit tumbuh 6,99% menjadi Rp 75,02 triliun, total aset naik 19,97% menjadi Rp 161,83 triliun, dan dana pihak ketiga meningkat 23,07% menjadi Rp 141,68 triliun.

Standard Chartered Indonesia mencatat pertumbuhan laba bersih 59,40% menjadi Rp 553,62 miliar hingga Mei 2026. Pendapatan bunga bersih naik 21,49% menjadi Rp 1,67 triliun, kredit tumbuh 23,68% menjadi Rp 37,12 triliun, aset meningkat 11,73% menjadi Rp 104,72 triliun, dan dana pihak ketiga bertambah 13,94% menjadi Rp 55,56 triliun.

Citibank N.A. Indonesia membukukan laba bersih Rp 906,2 miliar hingga Mei 2026, turun 18,07% secara tahunan. Walau demikian, kredit masih tumbuh 5,80% menjadi Rp 28,16 triliun, aset naik 23,42% menjadi Rp 117,16 triliun, dan dana pihak ketiga meningkat 20,21% menjadi Rp 72,89 triliun.

Batara mengatakan Citi Indonesia tetap optimistis menghadapi semester II-2026 karena memperkirakan kondisi pasar menjadi lebih kondusif seiring meredanya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Ia menyebut perseroan cukup puas dengan kinerja lima bulan pertama tahun ini, dengan pertumbuhan kredit dan dana pihak ketiga yang tetap kuat, serta fokus pembiayaan pada segmen korporasi dan commercial banking, terutama multifinance, lembaga keuangan nonbank, makanan dan minuman, manufaktur, serta perusahaan teknologi yang sedang berkembang.

Menurut Batara, permintaan pembiayaan dari nasabah korporasi masih terjaga, baik untuk modal kerja maupun investasi, dari perusahaan multinasional maupun korporasi domestik. Ia menambahkan likuiditas perseroan masih sangat kuat, rasio loan to deposit ratio masih memiliki ruang besar untuk ekspansi kredit, dan untuk sisa 2026 Citi Indonesia menargetkan pertumbuhan dana pihak ketiga di kisaran high single digit serta kredit pada level mid single digit.

Daya saing sektor dan prospek pasar Indonesia

Kepala Riset Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia, Trioksa Siahaan, menilai aksi repatriasi laba bank asing lebih tepat dipandang sebagai aksi korporasi yang wajar dibandingkan sinyal memburuknya prospek industri perbankan nasional. Menurutnya, repatriasi dana umumnya didorong strategi alokasi modal global, kebutuhan likuiditas kantor pusat, optimalisasi dividen, hingga penyesuaian portofolio bisnis.

Ia menilai selama fundamental ekonomi Indonesia tetap kuat, fenomena tersebut lebih mencerminkan penyesuaian strategi bisnis daripada berkurangnya daya tarik investasi di sektor perbankan. Pandangan serupa disampaikan Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede, yang menilai kinerja bank asing di Indonesia masih relatif terjaga meski pola persaingannya berbeda dengan bank domestik besar.

Menurut Josua, bank asing sulit menandingi bank lokal dalam penghimpunan dana murah ritel, jaringan nasabah massal, dan ekosistem transaksi harian. Namun, mereka tetap memiliki keunggulan dalam pembiayaan korporasi, trade finance, transaksi lintas negara, treasury, wealth management, pembiayaan proyek, dan layanan bagi perusahaan multinasional.

Ia mengatakan hal itu tercermin dari rata-rata suku bunga dasar kredit kelompok Kantor Cabang Bank Asing yang sekitar 5,19% pada April 2026, lebih rendah dibandingkan rata-rata industri perbankan sebesar 8,62%. Kondisi tersebut, menurutnya, menunjukkan fokus bank asing pada debitur korporasi berkualitas tinggi dengan profil risiko yang lebih rendah.

Josua menilai strategi yang lebih tepat bagi bank asing adalah memperkuat ceruk bisnis utamanya, bukan mengejar seluruh segmen pasar. Area yang dinilai menjanjikan mencakup pembiayaan perusahaan multinasional dari Jepang, Korea Selatan, Singapura, Tiongkok, dan Eropa, serta pengembangan supply chain financing, ekspor-impor, treasury, transaksi valuta asing, cash management korporasi, dan wealth management.

Ia menambahkan bank asing juga perlu lebih adaptif terhadap karakteristik pasar domestik, termasuk sektor strategis seperti hilirisasi, energi, logistik, manufaktur ekspor, kesehatan, pangan, dan ekonomi digital. Dukungan pemegang saham asing dinilai menjadi pembeda penting karena tidak hanya menyediakan modal tambahan, tetapi juga membawa teknologi, tata kelola, jaringan global, akses pendanaan internasional, dan kemampuan menyediakan solusi transaksi lintas negara.

Ke depan, Josua memperkirakan prospek bank asing masih cukup positif meski pertumbuhannya akan lebih selektif. Peluang terbesar, menurutnya, tetap berada pada pembiayaan korporasi, transaksi lintas negara, trade finance, wealth management, pembiayaan hijau, serta sektor-sektor yang terkait investasi asing langsung.

Rekor dividen tunai BRI tahun buku 2025 menjadi sorotan dalam liputan kami sebelumnya, dengan total pembagian Rp52,1 triliun yang ditetapkan lewat RUPS pada April 2026. Kami juga menyoroti bagaimana kinerja BRI sepanjang 2025 hingga kuartal I 2026, serta agenda transformasi dan ekspansi pembiayaan ke sektor produktif, menjadi dasar kuat bagi besaran dividen tersebut dan kontribusinya kepada negara.

Materi ini mungkin mengandung opini pihak ketiga, tidak ada data dan informasi di halaman web ini yang merupakan nasihat investasi menurut Disclaimer kami. Meskipun kami mematuhi Integritas Editorial yang ketat, postingan ini mungkin mengandung referensi ke produk dari mitra kami.