BRI bagikan dividen Rp52,1 triliun, tertinggi dalam sejarah di bawah supervisi Danantara
Kinerja BRI sepanjang 2025 dan awal 2026 menopang pembagian dividen tunai tahun buku 2025 senilai Rp52,1 triliun, yang menjadi rekor tertinggi dalam sejarah perseroan. Porsi negara dari pembagian ini disebut mencapai sekitar Rp11 triliun, sementara bank pelat merah itu juga melanjutkan transformasi bisnis dan ekspansi pembiayaan ke sektor produktif.
Sorotan
- RUPS Tahunan BRI pada 10 April 2026 menetapkan dividen tunai Rp52,1 triliun untuk tahun buku 2025, tertinggi dalam sejarah BRI di bawah supervisi Danantara.
- Pada triwulan I 2026, BRI mencatat laba bersih konsolidasian Rp15,5 triliun naik 13,7%, penyaluran kredit Rp1.562 triliun naik 13,7%, dan DPK Rp1.555 triliun tumbuh 9,4%.
- Realisasi penyaluran KUR BRI Januari–Mei 2026 mencapai Rp84,36 triliun atau 46,87% dari alokasi Rp180 triliun, dengan 67,18% ke sektor produktif, terutama pertanian.
Rincian dividen dan percepatan transformasi
KONTAN melaporkan, Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan 2026 yang digelar pada 10 April 2026 menetapkan total dividen tunai BRI untuk tahun buku 2025 sebesar Rp52,1 triliun, atau Rp346 per saham. Keputusan itu didasarkan pada laba tahun berjalan konsolidasian untuk periode yang berakhir 31 Desember 2025 sebesar Rp57,132 triliun, dengan laba yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp56,65 triliun.
Perseroan menyatakan capaian tersebut menempatkan BRI sebagai salah satu kontributor dividen terbesar bagi negara. Pada triwulan I 2026, BRI juga membukukan laba bersih konsolidasian Rp15,5 triliun, naik 13,7% secara tahunan, dengan penyaluran kredit Rp1.562 triliun, naik 13,7%, serta dana pihak ketiga Rp1.555 triliun, tumbuh 9,4%.
Direktur Utama BRI Hery Gunardi mengatakan kehadiran Danantara menjadi momentum untuk memperkuat sinergi, mempercepat transformasi, dan meningkatkan peran perseroan dalam mendukung agenda pembangunan nasional. Menurut dia, program BRIVolution Reignite difokuskan pada penguatan struktur pendanaan, percepatan digitalisasi, peningkatan produktivitas, serta pengembangan bisnis inti dan sumber pertumbuhan baru.
BRI juga melanjutkan agenda rebranding korporasi yang diluncurkan pada 16 Desember 2025 saat hari jadi ke-130. Langkah itu ditujukan untuk menegaskan posisi BRI sebagai “Satu Bank untuk Semua” dengan identitas yang lebih modern, inklusif, dan tetap bertumpu pada pemberdayaan UMKM dan ekonomi kerakyatan.
Dampak bagi pembiayaan produktif dan ekonomi kerakyatan
Pada triwulan I 2026, perbaikan struktur pendanaan tercermin dari pertumbuhan CASA 13,2% secara tahunan menjadi Rp1.058,6 triliun, sehingga rasio CASA naik ke 68,07%. Cost of fund turun menjadi 2,3% dari 3% pada periode yang sama tahun sebelumnya, didorong peningkatan transaksi melalui BRImo, Qlola by BRI, Business Merchant, dan QRIS BRI.Di sisi pembiayaan, realisasi penyaluran KUR BRI sepanjang Januari hingga Mei 2026 mencapai Rp84,36 triliun, atau 46,87% dari alokasi 2026 sebesar Rp180 triliun. Sebagian besar disalurkan ke sektor produktif dengan porsi 67,18%, sementara sektor pertanian menjadi penerima terbesar dengan pembiayaan Rp35,91 triliun.
Untuk sektor perumahan, penyaluran Kredit Pemilikan Properti hingga 31 Mei 2026 mencapai Rp9,5 triliun kepada 68.212 debitur. Perseroan juga menaikkan alokasi KPP 2026 menjadi Rp12 triliun dari sebelumnya Rp8 triliun, seiring tingginya kebutuhan pembiayaan hunian.
Komitmen pada pemberdayaan usaha rakyat juga tercermin dari pembinaan 5.245 Desa BRILiaN, layanan kepada 15,6 juta pengguna LinkUMKM, serta pengembangan lebih dari 43 ribu klaster usaha melalui program Klasterku Hidupku. Sementara itu, hingga akhir triwulan I 2026, entitas anak menyumbang laba Rp3,89 triliun, setara 25,1% dari laba bersih konsolidasian BRI, menandakan penguatan ekosistem grup di bawah supervisi Danantara.
Chief Operating Officer Danantara sekaligus Kepala Badan Pengaturan BUMN Dony Oskaria mengatakan kinerja positif bank-bank Himbara menjadi pilar untuk mendorong pertumbuhan ekonomi nasional melalui pembiayaan yang lebih besar ke sektor produktif, termasuk manufaktur, hilirisasi sumber daya alam, infrastruktur, dan UMKM.
Dalam liputan kami sebelumnya tentang pembenahan PT Pos Indonesia oleh Danantara, kami mengulas hasil due diligence yang mengungkap persoalan keuangan serta dugaan penyimpangan tata kelola yang menumpuk selama bertahun-tahun. Temuan tersebut ditindaklanjuti lewat audit dan investigasi, disertai perubahan kepemimpinan untuk mendorong restrukturisasi agar PT Pos Indonesia kembali menjadi BUMN logistik yang sehat, profesional, dan akuntabel.
- Forex
- Crypto