Indonesia nilai bisnis kartu kredit non-bank masih prospektif
Rendahnya penetrasi kartu kredit di Indonesia membuka ruang ekspansi bagi penerbit non-bank di tengah penggunaan paylater yang jauh lebih besar. Peluang itu muncul saat basis pengguna kartu kredit masih sekitar 7 juta nasabah, jauh di bawah pengguna kartu debit yang sudah melampaui 150 juta.
Sorotan
- Ketua Umum Asosiasi Sistem Pembayaran Indonesia menyebut prospek pertumbuhan kartu kredit masih besar mengingat penetrasi pengguna di Indonesia masih rendah.
- Pelaku industri bank dan non-bank dengan izin penerbitan kartu kredit dapat memanfaatkan ruang pasar yang masih terbuka di sektor pembiayaan konsumtif.
- Tantangan utama ekspansi kartu kredit non-bank terletak pada risiko NPL yang berpotensi meningkat akibat kondisi ekonomi dan tekanan daya bayar masyarakat.
Peluang ekspansi di tengah penetrasi rendah
Seperti dilaporkan KONTAN Indonesia, Ketua Umum Asosiasi Sistem Pembayaran Indonesia Santoso Liem menyatakan prospek pertumbuhan kartu kredit di Indonesia masih cukup besar karena jumlah penggunanya relatif kecil dibandingkan instrumen pembayaran lain. Ia mengatakan kartu kredit pada dasarnya merupakan alat pembayaran dengan sumber dana dari skema kredit, sehingga penerbitannya harus mengikuti ketentuan Alat Pembayaran Menggunakan Kartu yang diatur oleh Bank Indonesia.Santoso menilai peluang itu dapat dimanfaatkan oleh pelaku industri, baik bank maupun perusahaan non-bank yang telah mengantongi izin penerbitan kartu kredit. Menurut dia, besarnya pengguna layanan paylater juga menunjukkan ruang pasar pembiayaan konsumtif masih terbuka bagi produk kartu kredit.
Risiko kualitas kredit menjadi tantangan
Santoso mengingatkan tantangan utama bisnis kartu kredit berada pada kualitas portofolio kredit di tengah kondisi ekonomi yang lebih berat. Ia menilai risiko kredit bermasalah atau non-performing loan, NPL, berpotensi meningkat seiring tekanan terhadap daya bayar masyarakat.Dengan kondisi itu, ekspansi bisnis kartu kredit non-bank dinilai tetap menjanjikan, tetapi akan sangat bergantung pada kemampuan penerbit menjaga kualitas pembiayaan. Bagi industri sistem pembayaran, kombinasi potensi pasar yang masih besar dan risiko kredit yang meningkat menempatkan pengelolaan risiko sebagai faktor kunci pertumbuhan.
Dalam artikel kami sebelumnya tentang perlambatan kredit konsumsi pada Maret 2026, kami menyoroti bahwa meski kredit perbankan secara keseluruhan masih tumbuh, laju pinjaman konsumsi melemah dan bank menjadi lebih selektif terhadap risiko. Kami juga mencatat pergeseran penyaluran kredit ke segmen investasi dan modal kerja, seiring meningkatnya fokus pada kualitas aset dan pengelolaan risiko.
Berita Visa Terbaru
- Forex
- Crypto