Bank Neo Commerce bukukan laba kuartal I-2026, kredit dan DPK terkontraksi

Bank Neo Commerce bukukan laba kuartal I-2026, kredit dan DPK terkontraksi
Bank Neo tetap untung

Kinerja PT Bank Neo Commerce Tbk pada awal 2026 tetap mencatat laba di tengah penyaluran kredit dan penghimpunan dana yang melemah dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Perseroan membukukan laba Rp 136,98 miliar pada kuartal I-2026, sementara total aset masih naik tipis menjadi Rp 18,34 triliun per Maret 2026.

Sorotan

  • Bank Neo Commerce membukukan laba kuartal I-2026 sebesar Rp 136,98 miliar, melampaui target internal meski kredit dan DPK terkontraksi.
  • Saham BBYB resmi masuk Indeks Economic 30 per 2 Maret 2026, mencerminkan peningkatan kepercayaan pasar atas prospek dan kinerjanya.
  • BNC berencana meluncurkan layanan Buy Now Pay Later pada 2026 untuk memperluas akses pembiayaan, didukung posisi likuiditas dan CAR yang tinggi.

Dampak kinerja dan agenda ekspansi digital

BNC menyatakan tetap optimistis melanjutkan tren kinerja positif sepanjang 2026 setelah laba kuartal pertama melampaui target internal. Manajemen menilai posisi likuiditas yang memadai dan CAR yang tinggi memberi ruang bagi bank untuk berekspansi di tengah gejolak ekonomi dan ketidakpastian geopolitik yang masih berlangsung.

Dari sisi layanan, perseroan berkomitmen memperluas layanan transaksi keuangan yang sesuai dengan kebutuhan nasabah. Salah satu inovasi yang sedang disiapkan adalah peluncuran layanan Buy Now Pay Later pada 2026 sebagai bagian dari upaya memperluas akses pembiayaan yang aman, terukur, dan relevan.

Pada awal 2026, saham BBYB juga resmi masuk sebagai anggota baru Indeks Economic 30 yang berlaku mulai 2 Maret 2026. Menurut Eri, masuknya saham BBYB ke indeks tersebut mencerminkan meningkatnya kepercayaan pasar terhadap kinerja dan prospek perseroan, setelah bank membukukan laba bersih Rp 565,69 miliar sepanjang 2025 dan melanjutkannya dengan laba kuartal I-2026 sebesar Rp 136,98 miliar.

Perkembangan ini memperkuat posisi Bank Neo Commerce di industri perbankan digital nasional, meski pertumbuhan pembiayaan dan dana pihak ketiga masih menghadapi tekanan. Dengan rasio keuangan yang tetap terjaga dan fokus pada kualitas aset, bank berupaya menjaga momentum profitabilitas sambil memperbesar peran di ekosistem layanan digital.

Dalam artikel kami sebelumnya tentang pertumbuhan layanan buy now pay later (BNPL) di Indonesia, kami membahas lonjakan outstanding paylater yang melesat hingga Februari 2026 dan melampaui laju kredit konsumtif konvensional. Ulasan tersebut juga menyoroti peringatan terkait rasio kredit bermasalah yang masih tinggi serta pola penggunaan multi akun yang dapat meningkatkan risiko over-leverage, di tengah tekanan eksternal seperti pelemahan rupiah dan likuiditas yang lebih ketat.

Materi ini mungkin mengandung opini pihak ketiga, tidak ada data dan informasi di halaman web ini yang merupakan nasihat investasi menurut Disclaimer kami. Meskipun kami mematuhi Integritas Editorial yang ketat, postingan ini mungkin mengandung referensi ke produk dari mitra kami.