IdScore soroti risiko kredit saat outstanding paylater Indonesia capai Rp 56,3 triliun

IdScore soroti risiko kredit saat outstanding paylater Indonesia capai Rp 56,3 triliun
Risiko kredit paylater naik

Pertumbuhan layanan buy now pay later di Indonesia terus melaju lebih cepat daripada kredit konsumtif konvensional hingga Februari 2026. Di tengah ekspansi itu, IdScore menilai kualitas pembiayaan dan pola penggunaan multi akun perlu diawasi lebih ketat karena rasio kredit bermasalah masih relatif tinggi.

Sorotan

  • Outstanding paylater Indonesia mencapai Rp 56,3 triliun per Februari 2026, melonjak 86,7% YoY, jauh melampaui pertumbuhan kredit konsumtif konvensional.
  • Rasio kredit bermasalah paylater tetap di kisaran 5%, sementara rata-rata debitur memiliki tujuh fasilitas aktif, dengan kasus ekstrem lebih dari 1.000 fasilitas per debitur.
  • Pelemahan rupiah hingga Rp 17.000 per dolar U.S. dan likuiditas ketat menyebabkan penurunan suku bunga kredit melambat, meningkatkan beban debitur ritel.

Pertumbuhan BNPL dan peringatan kualitas pembiayaan

Seperti dilaporkan KONTAN Indonesia, PT Pefindo Biro Kredit (IdScore) mencatat outstanding paylater mencapai Rp 56,3 triliun per Februari 2026, naik 86,7% secara tahunan. Direktur Utama IdScore Tan Glant Saputrahadi mengatakan lonjakan ini jauh melampaui pertumbuhan kredit konsumtif konvensional.

Dalam media gathering, Selasa (28/4/2026), Tan Glant mengatakan rasio kredit bermasalah di segmen ini masih berada di kisaran 5%. Menurut dia, kondisi tersebut menuntut penguatan prinsip responsible lending, pemanfaatan data yang lebih presisi, serta edukasi keuangan kepada masyarakat.

IdScore juga menyoroti pola kepemilikan multi akun paylater yang dinilai dapat meningkatkan risiko over leverage. Berdasarkan data Februari 2026, rata-rata debitur memiliki tujuh fasilitas aktif di seluruh lembaga jasa keuangan, bahkan terdapat kasus ekstrem ketika satu debitur memiliki lebih dari 1.000 fasilitas kredit aktif.

Tekanan eksternal dan dampak bagi debitur ritel

Selain tantangan domestik, IdScore menilai industri keuangan nasional juga menghadapi tekanan dari perang dagang global, konflik di Timur Tengah, dan suku bunga global yang masih tinggi. Faktor-faktor tersebut ikut membentuk lingkungan pembiayaan yang lebih ketat bagi pelaku industri dan konsumen.

Tan Glant menyebut pelemahan rupiah yang telah menembus Rp 17.000 per dolar U.S. serta kondisi likuiditas perbankan yang lebih ketat turut memengaruhi lambatnya penurunan suku bunga kredit di dalam negeri. Meski Bank Indonesia telah menurunkan BI Rate secara bertahap, transmisi penurunan bunga ke kredit dinilai masih memerlukan waktu, sehingga beban debitur, terutama di segmen ritel, masih relatif tinggi.

Dalam ulasan kami sebelumnya tentang penguatan edukasi pengelolaan keuangan bagi pengguna pinjaman daring (pindar), dibahas dorongan regulator, asosiasi, dan pelaku fintech agar akses pembiayaan digital digunakan secara sehat dan produktif. Artikel tersebut menyoroti temuan bahwa meski literasi pengguna relatif tinggi, masih ada sebagian peminjam yang mengambil pinjaman tanpa menghitung kemampuan bayar, sehingga berpotensi meningkatkan risiko gagal bayar dan kualitas pembiayaan memburuk.

Materi ini mungkin mengandung opini pihak ketiga, tidak ada data dan informasi di halaman web ini yang merupakan nasihat investasi menurut Disclaimer kami. Meskipun kami mematuhi Integritas Editorial yang ketat, postingan ini mungkin mengandung referensi ke produk dari mitra kami.