BTN melihat risiko NPL KPR naik hingga akhir tahun di tengah suku bunga tinggi
Kenaikan rasio kredit bermasalah pada kredit pemilikan rumah mulai terlihat ketika suku bunga tinggi menekan kemampuan bayar sebagian debitur. Di saat yang sama, pertumbuhan KPR per April 2026 masih bertahan moderat, memberi sinyal permintaan pembiayaan rumah tetap ada meski kualitas aset menghadapi tekanan.
Sorotan
- Rasio non-performing loan KPR industri per April 2026 naik ke 3,26% dari 3,20% di Maret 2026 dan 3,13% pada April 2025, menambah risiko hingga akhir tahun.
- Penyaluran KPR per April 2026 tumbuh 4,8% secara tahunan menjadi Rp845,1 triliun, dengan fokus baru ke debitur risiko rendah seperti PNS dan karyawan korporasi tier-1.
- Mayoritas bank menahan kenaikan bunga floating KPR meski cost of fund meningkat, menghindari kenaikan agresif yang berpotensi merusak kualitas kredit existing.
Tekanan bunga dan proyeksi kualitas kredit
Kepada KONTAN, Chief Economist BTN Myrdal Gunarto mengatakan transmisi kebijakan moneter ke sektor riil biasanya memerlukan waktu sekitar tiga hingga enam bulan, sehingga dampak kenaikan bunga acuan terhadap data NPL perbankan baru berpotensi lebih jelas pada kuartal IV-2026 atau kuartal I-2027.Bank Indonesia mencatat rasio non-performing loan KPR industri per April 2026 naik menjadi 3,26%, lebih tinggi dari 3,20% pada Maret 2026 dan 3,13% pada April 2025. Menurut Myrdal, debitur kelas menengah menjadi kelompok yang paling rentan, terutama peminjam KPR yang mulai memasuki masa bunga floating dan menghadapi tekanan ganda dari inflasi serta potensi kenaikan cicilan bulanan.
Ia menilai dampak pada KPR kelas bawah relatif lebih terbatas karena mayoritas masih memakai skema bunga subsidi yang flat. Meski begitu, tren NPL KPR tetap berpotensi merayap naik hingga akhir tahun apabila volatilitas makroekonomi berlanjut, walau lonjakan tajam kredit macet masih dinilai kecil kemungkinannya.
Strategi bank dan dampak bagi pertumbuhan KPR
Untuk menjaga kualitas aset, perbankan dinilai mulai menempuh langkah mitigasi seperti menaikkan bunga kredit secara bertahap agar kemampuan bayar debitur tetap terjaga. Bank juga memperkuat early warning system untuk mendeteksi debitur rentan lebih dini dan menawarkan restrukturisasi sebelum kredit turun kualitas menjadi NPL.Penyaluran KPR per April 2026 tumbuh 4,8% secara tahunan menjadi Rp845,1 triliun, sedikit lebih baik dibandingkan Maret 2026 yang tumbuh 4,5% dengan outstanding Rp842,7 triliun. Fokus penyaluran baru disebut makin diarahkan ke segmen berisiko rendah seperti pegawai tetap, PNS, TNI/Polri, dan karyawan korporasi tier-1.
Myrdal masih optimistis pertumbuhan KPR industri tetap positif dan dapat berada di kisaran single digit kuat sekitar 9,4%. Ia menilai backlog perumahan yang masih tinggi tetap menopang permintaan, sementara pelonggaran Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial dari BI memberi ruang ekspansi bagi bank tanpa harus terlalu agresif memburu dana mahal.
Saat ini mayoritas bank juga masih menahan kenaikan bunga floating KPR meski cost of fund mulai meningkat. Strategi itu diperkirakan terus dievaluasi dalam tiga hingga enam bulan ke depan, karena kenaikan bunga floating secara agresif dinilai menjadi cara tercepat merusak kualitas kredit pada portofolio existing.
Dalam artikel kami sebelumnya tentang fundamental perbankan yang masih solid hingga April 2026, kami mengulas pertumbuhan kredit dan dana pihak ketiga yang tetap kuat, dengan likuiditas memadai serta NPL gross yang terjaga. Kami juga menyoroti perlunya penguatan mitigasi risiko menghadapi ketidakpastian global, termasuk melalui stress test, early warning system, dan disiplin penyaluran kredit agar kualitas aset tetap stabil.
Berita LPS Terbaru
- Forex
- Crypto