INACA minta revisi tarif penerbangan domestik saat biaya avtur dan kurs menekan maskapai

INACA minta revisi tarif penerbangan domestik saat biaya avtur dan kurs menekan maskapai
INACA desak revisi tarif

Tekanan biaya operasional maskapai domestik meningkat di tengah kenaikan harga avtur dan pelemahan rupiah terhadap dolar AS pada awal Mei 2026. Kondisi ini mendorong Asosiasi Perusahaan Penerbangan Nasional Indonesia, INACA, meminta pemerintah menyesuaikan fuel surcharge dan melanjutkan pembahasan Tarif Batas Atas untuk kelas ekonomi.

Sorotan

  • INACA meminta pemerintah dan Ditjen Perhubungan Udara Kemenhub menyesuaikan mekanisme fuel surcharge agar lebih responsif terhadap volatilitas biaya avtur.
  • Kenaikan harga avtur di Bandara Soekarno-Hatta menjadi Rp27.358 per liter per 1 Mei 2026, atau naik 16 persen dari April 2026, menambah beban maskapai.
  • Kurs rupiah melemah menjadi Rp17.425 per dolar AS per 4 Mei 2026, naik 2,5 persen sejak April 2025, memperberat biaya operasional yang berbasis dolar.

Permintaan penyesuaian tarif dan surcharge

Seperti dilaporkan Okezone Economy Indonesia, INACA mendesak pemerintah, khususnya Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan, untuk membuat penyesuaian fuel surcharge yang lebih fleksibel di tengah perubahan cepat biaya operasional. Organisasi itu menilai mekanisme yang masih mengacu pada periode 60 hari berdasarkan KM 83 Tahun 2026 tidak lagi sejalan dengan pergerakan harga avtur.

Ketua Umum INACA Denon Prawiraatmadja menyatakan kenaikan harga bahan bakar pesawat dan kurs dolar AS telah meningkatkan beban operasional maskapai secara signifikan. Ia juga mengatakan konflik geopolitik di Timur Tengah masih belum mereda dan terus mempengaruhi industri penerbangan global maupun nasional.

Selain meminta perubahan skema fuel surcharge, INACA juga mendesak agar pembahasan revisi Tarif Batas Atas, TBA, yang sebelumnya tertunda segera dibuka kembali. Menurut asosiasi tersebut, penyesuaian TBA penting agar maskapai memiliki ruang untuk menjaga keberlanjutan usaha saat biaya terus naik.

Lonjakan biaya menekan industri penerbangan

Berdasarkan data yang dihimpun, harga avtur di Bandara Soekarno-Hatta pada 1 Mei 2026 mencapai Rp27.358 per liter. Angka itu naik sekitar 16 persen dibandingkan April 2026 yang berada di level Rp23.551 per liter.

Di saat yang sama, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS juga melemah. Per 4 Mei 2026, kurs tercatat Rp17.425 per dolar AS, atau sekitar 2,5 persen lebih tinggi dibandingkan posisi awal April 2025 sebesar Rp17.017 per dolar AS.

Kombinasi kenaikan avtur dan pelemahan mata uang meningkatkan tekanan pada struktur biaya maskapai, karena sebagian komponen operasional masih terkait erat dengan dolar AS. Jika tidak diikuti penyesuaian kebijakan tarif, ruang usaha pelaku industri penerbangan nasional berisiko semakin sempit.

Dalam artikel kami sebelumnya tentang pelemahan rupiah dan langkah Bank Indonesia menjaga stabilitas kurs, kami membahas tekanan jangka pendek yang mendorong rupiah ke kisaran Rp17.423 per dolar AS. Kami juga mengulas respons BI melalui intervensi pasar, pengetatan batas pembelian dolar tanpa dokumen, serta upaya menarik arus modal lewat SRBI di tengah penguatan dolar global dan kebutuhan valas musiman April–Juni.

Materi ini mungkin mengandung opini pihak ketiga, tidak ada data dan informasi di halaman web ini yang merupakan nasihat investasi menurut Disclaimer kami. Meskipun kami mematuhi Integritas Editorial yang ketat, postingan ini mungkin mengandung referensi ke produk dari mitra kami.