Ekonomi Indonesia tumbuh 5,61 persen pada kuartal I-2026, pemerintah soroti stabilitas inflasi

Ekonomi Indonesia tumbuh 5,61 persen pada kuartal I-2026, pemerintah soroti stabilitas inflasi
Ekonomi naik, inflasi terjaga

Pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,61 persen pada kuartal I-2026 disebut berlangsung di tengah upaya pemerintah menjaga daya beli dan konsumsi rumah tangga. Inflasi 2,42 persen menjadi indikator utama yang dikedepankan untuk menunjukkan bahwa laju pertumbuhan itu dicapai tanpa mengganggu stabilitas makroekonomi.

Sorotan

  • Ekonomi Indonesia tumbuh 5,61 persen pada kuartal I-2026, didukung kebijakan fokus pada indikator makroekonomi dan stabilitas inflasi.
  • Inflasi Indonesia tercatat 2,42 persen pada kuartal I-2026, tetap rendah dan terjaga di tengah tantangan global serta dibanding periode pemerintahan sebelumnya.
  • Pemerintah mempertahankan subsidi BBM dan tidak menaikkan harga BBM meski harga minyak dunia naik, guna menjaga inflasi dan konsumsi rumah tangga.

Penekanan pemerintah pada inflasi dan konsumsi

Seperti dilaporkan Okezone Economy Indonesia, Wakil Menteri Keuangan Juda Agung menyampaikan dalam Rapat Koordinasi Pembangunan Pusat yang digelar secara daring pada Kamis (7/5/2026) bahwa pertumbuhan tersebut mencerminkan kebijakan yang tetap memperhatikan indikator makroekonomi. Ia menilai Indonesia masih mampu mencatat pertumbuhan cukup tinggi tanpa mengorbankan stabilitas, dengan inflasi yang berada di level rendah dan stabil dalam beberapa tahun terakhir.

Juda mengatakan inflasi berada di 2,42 persen, angka yang ia sebut rendah dan terjaga, bahkan jika dibandingkan dengan periode pemerintahan sebelumnya seperti era Orde Baru yang sempat mencatat inflasi dua digit, terutama menjelang krisis moneter. Menurutnya, kestabilan inflasi menjadi salah satu unsur penting untuk mendorong konsumsi masyarakat.

Ia juga menegaskan konsumsi rumah tangga pada kuartal I-2026 tetap tumbuh di atas lima persen. Level itu, menurut Juda, menunjukkan daya beli masyarakat masih cukup kuat di tengah tantangan eksternal yang berlangsung saat ini.

Dampak gejolak global terhadap harga energi

Juda tidak menampik bahwa ketidakpastian global akibat eskalasi geopolitik di Timur Tengah saat ini mengancam kestabilan harga komoditas, terutama minyak. Risiko tersebut menjadi perhatian karena dapat memengaruhi harga bahan bakar minyak dan tekanan inflasi domestik.

Pemerintah, kata dia, mempertahankan subsidi BBM dan tidak menaikkan harga BBM ketika harga minyak dunia meningkat. Kebijakan itu diklaim ditujukan untuk menjaga inflasi tetap terkendali sekaligus menopang daya beli masyarakat, sehingga konsumsi rumah tangga tetap menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi.

Dalam artikel kami sebelumnya tentang tarif listrik Mei 2026, kami mengulas klarifikasi pemerintah dan PT PLN (Persero) yang menegaskan tidak ada kenaikan tarif pada Mei, sejalan dengan keputusan tarif triwulan II 2026 (April–Juni) tetap. Kami juga menyoroti bahwa meski parameter makro seperti kurs, ICP, inflasi, dan HBA menjadi dasar evaluasi berkala, kebijakan menahan tarif ditujukan untuk menjaga daya beli masyarakat serta stabilitas industri di tengah dinamika global.

Materi ini mungkin mengandung opini pihak ketiga, tidak ada data dan informasi di halaman web ini yang merupakan nasihat investasi menurut Disclaimer kami. Meskipun kami mematuhi Integritas Editorial yang ketat, postingan ini mungkin mengandung referensi ke produk dari mitra kami.