Bank-bank ritel pertahankan margin saat NIM industri turun ke 4,38%

Bank-bank ritel pertahankan margin saat NIM industri turun ke 4,38%
Ritel jaga margin NIM

Profitabilitas perbankan masih tertekan pada Maret 2026, tetapi bank yang berfokus pada segmen ritel dan UMKM tetap menjaga margin bunga bersih di level relatif tinggi. Data Otoritas Jasa Keuangan menunjukkan rata-rata net interest margin industri perbankan turun menjadi 4,38% dari 4,51% pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Sorotan

  • Rata-rata NIM industri perbankan turun menjadi 4,38% per Maret 2026, sementara BRI mencatat NIM 7,7% dan Allo Bank 10,4%.
  • Pendapatan bunga bersih BRI naik 11,9% secara tahunan menjadi Rp 40,155 triliun, didukung fokus pada UMKM, ritel, serta porsi CASA 68%.
  • Bank dengan basis dana murah dan eksposur valas rendah seperti DNAR dan KB Bank menargetkan stabilitas NIM di atas 5% di tengah tekanan global.

Margin bank ritel tetap lebih kuat

Kontan Indonesia melaporkan, Otoritas Jasa Keuangan mencatat penurunan rata-rata NIM industri perbankan pada Maret 2026, di tengah tekanan profitabilitas yang masih berlanjut di sektor tersebut.

Di antara bank yang masih membukukan margin tinggi, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) mencatat NIM sebesar 7,7%. Direktur Utama BRI Hery Gunardi mengatakan kinerja itu ditopang fokus perseroan pada segmen UMKM dan ritel. Pada kuartal I-2026, BRI juga membukukan pendapatan bunga bersih sebesar Rp 40,155 triliun, naik 11,9% secara tahunan, sementara biaya dana turun menjadi 2,3%.

Kekuatan margin BRI juga ditopang porsi dana murah yang tinggi. Total dana pihak ketiga bank ini mencapai Rp 1.555 triliun, dengan komposisi CASA sebesar 68%. Hery mengatakan struktur bisnis BRI yang berbasis UMKM memberi tingkat resiliensi yang relatif baik di tengah ketidakpastian global yang meningkat.

PT Allo Bank Indonesia Tbk (BBHI) juga mencatat NIM tinggi, yakni 10,4% pada Maret 2026. Kinerja itu didukung pertumbuhan pendapatan bunga bersih 21% secara tahunan menjadi Rp 378 miliar. Pelaksana tugas Direktur Utama Allo Bank Ari Yanuanto Asah mengatakan posisi NIM tersebut mencerminkan efektivitas aset dan manajemen liabilitas, terutama di segmen retail banking.

Dana murah jadi penopang ketahanan margin

Guru Besar Universitas Airlangga Rahma Gafmi menilai bank dengan model bisnis ritel dan UMKM cenderung memiliki NIM lebih tinggi dibanding bank korporasi. Menurut dia, kredit ritel dan UMKM umumnya membawa risiko lebih tinggi sehingga bank menerapkan bunga pinjaman yang lebih besar, sementara nasabah ritel juga relatif kurang sensitif terhadap perubahan suku bunga dibanding nasabah korporasi.

Ia menambahkan struktur pendanaan menjadi faktor penting dalam menjaga margin. Bank dengan porsi dana murah yang besar cenderung memiliki biaya dana yang lebih stabil, sedangkan bank yang lebih bergantung pada deposito berjangka lebih rentan terhadap kenaikan suku bunga global. Menurut Rahma, bank ritel domestik juga umumnya memiliki eksposur valas yang rendah sehingga lebih terlindungi dari volatilitas global.

Dari kelompok bank lain, PT Bank Oke Indonesia Tbk (DNAR) atau OK Bank mencatat NIM di atas 5% hingga Maret 2026 dan menargetkan level itu tetap terjaga sampai akhir tahun melalui penyaluran kredit yang selektif serta peningkatan porsi dana murah. Sementara itu, PT Bank KB Indonesia Tbk (BBKP) atau KB Bank mengakui tekanan pada NIM akibat kondisi ekonomi global, kenaikan biaya dana, dan persaingan penghimpunan dana di industri. Direktur Utama KB Bank Kunardy Darma Lie mengatakan perseroan terus mengoptimalkan struktur pendanaan, termasuk menaikkan porsi dana murah dan menyesuaikan pricing kredit secara selektif, dengan proyeksi NIM tetap stabil hingga akhir 2026.

Dalam artikel kami sebelumnya tentang dorongan OJK agar perbankan memperluas pembiayaan UMKM melalui POJK.19/2025, kami mengulas upaya regulator mempercepat akses kredit yang mudah, cepat, murah, dan inklusif seiring mulai pulihnya kredit UMKM pada 2026. Kami juga menyoroti data Maret 2026 ketika kredit UMKM kembali tumbuh serta sektor-sektor pendorongnya, sekaligus pentingnya penguatan ekosistem UMKM agar penyaluran kredit berkelanjutan.

Materi ini mungkin mengandung opini pihak ketiga, tidak ada data dan informasi di halaman web ini yang merupakan nasihat investasi menurut Disclaimer kami. Meskipun kami mematuhi Integritas Editorial yang ketat, postingan ini mungkin mengandung referensi ke produk dari mitra kami.