Cadangan devisa Indonesia menyusut ke U.S.$146,2 miliar pada April 2026

Cadangan devisa Indonesia menyusut ke U.S.$146,2 miliar pada April 2026
Cadangan devisa turun April

Posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir April 2026 tercatat menurun menjadi U.S.$146,2 miliar di tengah peningkatan ketidakpastian pasar keuangan global. Level tersebut masih setara dengan pembiayaan 5,8 bulan impor, atau 5,6 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, sehingga tetap berada di atas standar kecukupan internasional.

Sorotan

  • Cadangan devisa Indonesia turun menjadi U.S.$146,2 miliar pada akhir April 2026 dari U.S.$148,2 miliar pada Februari 2026.
  • Penurunan dipicu penerimaan pajak dan jasa, penerbitan global bond pemerintah, pembayaran utang luar negeri, serta stabilisasi nilai tukar rupiah di tengah ketidakpastian global.
  • Bank Indonesia menilai cadangan devisa setara lebih dari tiga bulan impor ini masih cukup mendukung stabilitas makroekonomi dan ketahanan keuangan eksternal.

Faktor penurunan dan posisi likuiditas

Seperti dilaporkan dalam keterangan resmi Bank Indonesia, penurunan cadangan devisa pada akhir April 2026 dipengaruhi oleh penerimaan pajak dan jasa, serta penerbitan global bond pemerintah di tengah pembayaran utang luar negeri pemerintah dan kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah. Bank sentral menyatakan langkah stabilisasi itu menjadi respons terhadap ketidakpastian pasar keuangan global yang meningkat.

Bank Indonesia menyebut posisi cadangan devisa pada akhir April 2026 mencapai U.S.$146,2 miliar, turun dibandingkan posisi akhir Februari 2026 sebesar U.S.$148,2 miliar. Ramdan Denny Prakoso, Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, mengatakan perkembangan tersebut mencerminkan penggunaan cadangan di tengah kebutuhan stabilisasi dan kewajiban eksternal pemerintah.

Dampak terhadap ketahanan eksternal

Bank Indonesia menilai level cadangan devisa saat ini mampu mendukung ketahanan sektor eksternal serta menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan. Dengan posisi yang masih di atas tolok ukur internasional sekitar tiga bulan impor, ruang penyangga eksternal dinilai tetap memadai.

Ke depan, BI meyakini ketahanan sektor eksternal tetap baik karena ditopang oleh cadangan devisa yang cukup. Pandangan ini menunjukkan otoritas moneter masih melihat kapasitas intervensi dan perlindungan terhadap gejolak eksternal tetap terjaga.

Dalam artikel kami sebelumnya tentang koordinasi KSSK menghadapi risiko eksternal pada kuartal I 2026, kami menyoroti bahwa stabilitas sistem keuangan Indonesia dinilai tetap terjaga meski volatilitas pasar global dan ketegangan geopolitik meningkat. Kami juga mencatat penguatan koordinasi antarlembaga dan penilaian berorientasi ke depan untuk mengantisipasi dampak konflik Timur Tengah terhadap pasar modal serta risiko lonjakan harga energi.

Materi ini mungkin mengandung opini pihak ketiga, tidak ada data dan informasi di halaman web ini yang merupakan nasihat investasi menurut Disclaimer kami. Meskipun kami mematuhi Integritas Editorial yang ketat, postingan ini mungkin mengandung referensi ke produk dari mitra kami.