Indonesia catat pertumbuhan ekonomi kuartal I-2026 sebesar 5,61 persen
Ekonomi Indonesia tumbuh 5,61 persen pada kuartal I-2026 secara tahunan, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan 4,87 persen pada periode yang sama tahun sebelumnya. Kinerja ini menempatkan Indonesia di antara pertumbuhan tertinggi di kelompok G20 dan melampaui sejumlah proyeksi lembaga.
Sorotan
- Ekonomi Indonesia tumbuh 5,61 persen secara tahunan di kuartal I-2026, dengan nilai Rp6.187,2 triliun harga berlaku dan Rp3.447,7 triliun harga konstan 2010.
- Pertumbuhan konsumsi pemerintah melonjak 21,81 persen, sementara konsumsi rumah tangga menyumbang utama 2,94 persen didorong stimulus, cuti nasional, dan BI rate 4,75 persen.
- Dominasi Jawa dengan kontribusi 57,24 persen, sektor manufaktur tumbuh 5,04 persen, perdagangan naik 6,26 persen, dan akomodasi makanan minum melonjak 13,14 persen.
Rincian data BPS dan pendorong utama
Berdasarkan pemaparan Badan Pusat Statistik, perekonomian Indonesia pada triwulan I-2026 mencapai Rp6.187,2 triliun atas dasar harga berlaku dan Rp3.447,7 triliun atas dasar harga konstan 2010. Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti menyatakan pertumbuhan tahunan pada periode tersebut mencapai 5,61 persen.Dari sisi produksi, lapangan usaha penyediaan akomodasi dan makan minum mencatat pertumbuhan tertinggi sebesar 13,14 persen. Dari sisi pengeluaran, komponen pengeluaran konsumsi pemerintah tumbuh paling tinggi sebesar 21,81 persen.
Secara kuartalan, ekonomi Indonesia pada triwulan I-2026 terkontraksi 0,77 persen dibandingkan triwulan IV-2025. Dari sisi produksi, pertambangan dan penggalian mengalami kontraksi terdalam sebesar 8,20 persen, sementara dari sisi pengeluaran, konsumsi pemerintah mencatat kontraksi terdalam sebesar 30,13 persen.
Konsumsi rumah tangga tetap menjadi penyumbang utama pertumbuhan dari sisi pengeluaran dengan kontribusi 2,94 persen. Pertumbuhan ini juga ditopang pembentukan modal tetap bruto sebesar 1,79 persen dan konsumsi pemerintah sebesar 1,26 persen.
Menurut BPS, konsumsi rumah tangga terdorong oleh meningkatnya mobilitas saat libur nasional dan hari besar keagamaan, termasuk Nyepi dan Idul Fitri, serta dukungan kebijakan pengendalian inflasi dan stimulus pemerintah seperti diskon tiket transportasi, THR atau gaji ke-14, dan BI rate di level 4,75 persen. Kelompok pengeluaran restoran dan hotel mencatat pertumbuhan konsumsi rumah tangga tertinggi, yakni 7,38 persen, seiring kenaikan aktivitas wisata selama periode liburan.
PMTB tumbuh 5,96 persen, didorong investasi pemerintah pada prioritas nasional dan investasi swasta. Konsumsi pemerintah naik 21,81 persen seiring realisasi belanja pegawai melalui pembayaran gaji ke-14 serta peningkatan belanja barang dan jasa, terutama melalui program Makan Bergizi Gratis.
Dampak sektor dan struktur ekonomi nasional
Pada triwulan I-2026, kelompok provinsi di Pulau Jawa masih mendominasi struktur perekonomian Indonesia secara spasial dengan kontribusi 57,24 persen dan pertumbuhan 5,79 persen secara tahunan. Dominasi ini menunjukkan peran Jawa yang tetap besar dalam menjaga laju output nasional.BPS mencatat lima sektor dengan kontribusi terbesar terhadap produk domestik bruto pada triwulan I-2026, yakni industri pengolahan sebesar 19,07 persen, perdagangan 13,28 persen, pertanian 12,67 persen, konstruksi 9,81 persen, dan pertambangan 8,69 persen.
Sejumlah sektor jasa dan konsumsi mencatat percepatan yang kuat. Akomodasi dan makan minum tumbuh 13,14 persen, jasa lainnya naik 9,91 persen, dan transportasi serta pergudangan meningkat 8,04 persen, didukung kenaikan mobilitas masyarakat serta perjalanan wisatawan domestik dan mancanegara.
Di sektor utama, industri pengolahan tumbuh 5,04 persen secara tahunan, ditopang industri makanan dan minuman, industri barang logam, komputer, barang elektronik, optik dan peralatan listrik, serta industri kimia, farmasi, dan obat tradisional. Perdagangan besar dan eceran, reparasi mobil dan sepeda motor tumbuh 6,26 persen karena meningkatnya produksi domestik, impor barang konsumsi, barang modal, bahan baku, dan aktivitas belanja masyarakat.
Sektor konstruksi tumbuh 5,49 persen berkat peningkatan aktivitas pembangunan pemerintah dan swasta, sementara sektor pertanian naik 4,97 persen pada periode yang sama. Susunan pertumbuhan ini menunjukkan dorongan ekonomi Indonesia datang dari kombinasi konsumsi, investasi, belanja pemerintah, dan pemulihan aktivitas jasa.
Dalam artikel kami sebelumnya tentang pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I-2026 yang mencapai 5,61%, kami menyoroti bahwa konsumsi domestik tetap menjadi kontributor terbesar di tengah tekanan global. Kami juga mencatat kontribusi investasi yang kian menguat, sekitar 1,79% atau kurang lebih 31–32% dari total pertumbuhan, naik dibanding kisaran 27–28% pada tahun-tahun sebelumnya.
- Forex
- Crypto