Bank Indonesia jelaskan tekanan rupiah saat kurs menyentuh Rp17.529 per dolar U.S.
Tekanan terhadap rupiah meningkat di tengah gejolak eksternal dan lonjakan kebutuhan valuta asing musiman di pasar domestik. Bank Indonesia menilai kondisi itu dipicu eskalasi konflik di Timur Tengah, kenaikan harga minyak mentah, serta permintaan dolar U.S. untuk pembayaran utang luar negeri, dividen perusahaan, dan kebutuhan haji.
Sorotan
- Nilai tukar rupiah menyentuh Rp17.529 per dolar U.S. meski likuiditas valuta asing tumbuh 10,9 persen year-to-date per Maret.
- Investor asing tetap percaya, tercermin dari arus masuk Rp61,6 triliun ke SBN dan SRBI selama April.
- Bank Indonesia memperkuat operasi moneter dan hadir di pasar untuk menjaga stabilitas nilai tukar dan meredam volatilitas.
Daya tahan likuiditas valas dan respons Bank Indonesia
Bank Indonesia menegaskan likuiditas valuta asing di pasar domestik masih memadai. Hal itu tercermin dari pertumbuhan Dana Pihak Ketiga valas yang mencapai 10,9 persen secara year-to-date pada akhir Maret.Kepercayaan investor asing juga dinilai tetap solid, tercermin dari aliran masuk ke aset portofolio Indonesia, khususnya SBN dan SRBI, sebesar Rp61,6 triliun selama April. Untuk meredam volatilitas, Bank Indonesia memastikan terus menjaga stabilitas nilai tukar dengan mengoptimalkan berbagai instrumen operasi moneter dan menegaskan komitmennya untuk tetap hadir di pasar.
Dalam ulasan kami sebelumnya tentang peran SRBI bagi industri asuransi jiwa, kami menyoroti bahwa instrumen Bank Indonesia ini dinilai relevan untuk menjaga likuiditas dan diversifikasi portofolio di tengah pasar yang volatil. Kami juga mencatat SRBI dipandang menarik karena profil risiko yang relatif rendah, likuiditas yang baik, serta imbal hasil yang kompetitif, meski porsinya di portofolio asuransi jiwa belum mengarah pada ekspansi agresif karena pertimbangan asset liability matching.
Berita Centralbanks Terbaru
- Forex
- Crypto