Saham perbankan Indonesia menguat, ekspektasi rebound ditopang BI rate dan buyback

Saham perbankan Indonesia menguat, ekspektasi rebound ditopang BI rate dan buyback
Banking stocks rebound

Di tengah pelemahan IHSG pada sesi pertama perdagangan Jumat, saham perbankan nasional justru bergerak menguat dan memperlihatkan peluang rebound yang makin terbuka. Kenaikan ini mencakup bank-bank berkapitalisasi besar hingga emiten perbankan lain, dengan pasar juga mencermati arah kebijakan suku bunga dan agenda tinjauan indeks MSCI pada 24 Juni 2026.

Sorotan

  • Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) naik 4,29% ke Rp 6.075 dan PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN) melonjak 8,02% ke Rp 1.280 pada sesi pertama Jumat.
  • Kenaikan BI Rate menjadi 5,5% dan wacana buyback saham dinilai analis sebagai pendorong utama penguatan saham perbankan besar.
  • Arah selanjutnya saham perbankan besar akan sangat ditentukan pengumuman MSCI pada 24 Juni 2026 dan realisasi buyback oleh Himbara.

Penguatan saham bank pada sesi pertama

KONTAN melaporkan, hingga jeda perdagangan bursa pada Jumat, saham bank-bank besar tetap berada di zona hijau dengan kenaikan dipimpin PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), yang naik 4,29% ke Rp 6.075.

Setelah BBCA, PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) menguat 4,0% ke Rp 3.640, PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) naik 1,18% ke Rp 4.300, dan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) bertambah 1,05% ke Rp 2.880. Di kelompok bank lain, PT Bank CIMB Niaga Tbk (BNGA) naik 1,64% ke Rp 1.550, PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) menguat 2,79% ke Rp 1.845, sementara PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN) mencatat penguatan tertinggi dengan lonjakan 8,02% ke Rp 1.280.

Sentimen suku bunga dan agenda MSCI

Analis Korea Investment dan Sekuritas Indonesia, Muhammad Wafi, menilai penguatan saham perbankan salah satunya didorong oleh keputusan Bank Indonesia menaikkan BI Rate menjadi 5,5% pada pekan ini. Menurut dia, investor membaca kenaikan suku bunga acuan itu sebagai komitmen regulator untuk mendorong stabilisasi rupiah.

Untuk saham bank berkapitalisasi besar, Wafi menambahkan wacana pembelian kembali saham atau buyback yang mengemuka belakangan ikut menopang harga. Ia juga menilai valuasi saham big banks sudah murah, sehingga kombinasi sentimen tersebut membuka peluang rebound lanjutan.

Namun, arah pergerakan berikutnya masih bergantung pada pengumuman Morgan Stanley Capital International pada 24 Juni 2026 dan realisasi buyback oleh Himbara. Faktor-faktor itu menjadi penentu apakah penguatan saham perbankan dapat berlanjut dalam jangka pendek.

Dalam laporan kami sebelumnya tentang wacana buyback saham BUMN, kami mengulas sikap BRI yang tetap menempatkan penguatan fundamental, kualitas aset, likuiditas, dan permodalan sebagai prioritas utama di tengah tekanan IHSG. Kami juga menyoroti data OJK hingga April 2026 yang menunjukkan pertumbuhan kredit dan dana pihak ketiga masih hampir dua digit, sehingga dukungan stabilitas pasar dinilai positif namun tetap perlu diiringi kehati-hatian dalam aksi korporasi.

Materi ini mungkin mengandung opini pihak ketiga, tidak ada data dan informasi di halaman web ini yang merupakan nasihat investasi menurut Disclaimer kami. Meskipun kami mematuhi Integritas Editorial yang ketat, postingan ini mungkin mengandung referensi ke produk dari mitra kami.