OJK lanjutkan upaya membentuk pesaing baru BSI di perbankan syariah Indonesia
Pertumbuhan perbankan syariah di Indonesia terus berlanjut pada 2026, tetapi struktur pasarnya masih sangat terkonsentrasi pada PT Bank Syariah Indonesia Tbk. Hingga April 2026, pangsa pasar pembiayaan syariah nasional naik menjadi 8,06%, namun dominasi BSI membuat persaingan diperkirakan belum banyak berubah dalam waktu dekat.
Sorotan
- Aset bank umum syariah dan unit usaha syariah per April 2026 naik 12,1% menjadi Rp1.426,3 triliun, dengan pembiayaan tumbuh 10,83% ke Rp702,77 triliun.
- BSI masih dominan menyalurkan Rp331,5 triliun atau 47,17% dari pembiayaan nasional syariah, sementara Bank Syariah Nasional baru memiliki aset Rp77,2 triliun.
- OJK terus mendorong konsolidasi dan spin off, dengan CIMB Niaga Syariah menargetkan aset di atas Rp100 triliun pada 2030 dan sedang menunggu persetujuan spin off.
Skala industri dan agenda konsolidasi
KONTAN melaporkan, data Otoritas Jasa Keuangan menunjukkan aset bank umum syariah dan unit usaha syariah hingga April 2026 mencapai Rp1.426,3 triliun, naik 12,1% secara tahunan. Pada periode yang sama, pembiayaan meningkat 10,83% menjadi Rp702,77 triliun, dengan 14 bank umum syariah dan 18 unit usaha syariah yang saat ini beroperasi di Indonesia.Di tengah pertumbuhan itu, BSI masih memegang posisi dominan. Per April 2026, BSI menyalurkan pembiayaan Rp331,5 triliun atau sekitar 47,17% dari pangsa pasar pembiayaan perbankan syariah nasional, sementara Bank Syariah Nasional yang lahir dari konsolidasi Unit Usaha Syariah BTN dan Bank Victoria Syariah masih memiliki aset sekitar Rp77,2 triliun dan pembiayaan Rp50,46 triliun.
Direktur Infrastruktur Ekosistem Syariah Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah, Sutan Emir Hidayat, menilai pertumbuhan industri belum diikuti pembesaran skala usaha yang memadai. Menurut dia, aset perbankan syariah hingga Mei 2026 tumbuh 11,07% secara tahunan, tetapi pangsa pasarnya masih bertahan di kisaran 7%, sehingga industri membutuhkan kebijakan strategis untuk memperbesar kapasitas dan memperkuat persaingan.
Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae mengatakan pembahasan dengan sejumlah bank syariah masih berlangsung setelah berdirinya BSN. Namun, OJK belum mengungkap bank yang terlibat maupun skema konsolidasi yang akan ditempuh untuk membentuk bank syariah besar berikutnya.
Dampak persaingan dan target pemain lain
KNEKS memandang Indonesia membutuhkan lebih banyak bank syariah berskala besar agar struktur industri menjadi lebih seimbang. Kehadiran BSN serta rencana spin off CIMB Niaga Syariah dinilai sebagai langkah positif, meski keduanya masih perlu memperbesar kapasitas agar dapat bersaing lebih dekat dengan BSI yang telah memiliki aset lebih dari Rp460 triliun.Direktur Syariah Bank CIMB Niaga, Pandji P. Djajanegara, mengatakan perseroan masih menunggu persetujuan OJK untuk proses spin off. CIMB Niaga Syariah menargetkan menjadi bank umum syariah terbesar kedua di Indonesia pada 2030 dengan aset di atas Rp100 triliun, dari sekitar Rp58,8 triliun saat ini, dan menegaskan belum memiliki rencana merger maupun akuisisi walau tetap membuka peluang langkah strategis.
Di sisi lain, Direktur BCA Syariah Pranata menilai perluasan pangsa pasar perbankan syariah tidak hanya bergantung pada konsolidasi. Ia mengatakan inovasi produk dan layanan, serta peningkatan literasi keuangan syariah di masyarakat, juga menjadi faktor penting untuk mempercepat pertumbuhan industri.
Dalam laporan kami sebelumnya tentang dorongan konsolidasi dan spin off perbankan syariah, kami mengulas bahwa meski aset, pembiayaan, dan DPK masih tumbuh dua digit, pangsa pasar industri tetap bertahan di kisaran 7% sehingga OJK mendorong lahirnya 3–5 bank syariah berskala besar. Kami juga menyoroti langkah sejumlah pemain—termasuk rencana spin off CIMB Niaga Syariah—sebagai upaya memperkuat struktur industri dan meningkatkan persaingan terhadap dominasi BSI.
Berita Bank Indonesia Terbaru
- Forex
- Crypto