OJK dorong bank syariah besar baru saat pangsa pasar industri bertahan di kisaran 7%
Di tengah pertumbuhan aset, pembiayaan, dan dana pihak ketiga yang masih dua digit, pangsa pasar perbankan syariah di Indonesia belum menunjukkan penguatan berarti terhadap industri perbankan nasional. Kondisi ini mendorong Otoritas Jasa Keuangan mempercepat lahirnya tiga hingga lima bank syariah berskala besar agar struktur industri lebih seimbang dan persaingan terhadap PT Bank Syariah Indonesia Tbk makin kuat.
Sorotan
- OJK mempercepat konsolidasi dan spin off untuk membentuk bank syariah besar baru, sementara pangsa pasar syariah turun ke 7,26% per Mei 2026.
- Aset industri perbankan syariah tumbuh 11,07% menjadi Rp1.047,03 triliun, pembiayaan naik 10,32% ke Rp729,45 triliun, dan DPK meningkat 11,66% ke Rp810,04 triliun.
- CIMB Niaga Syariah menargetkan aset Rp100 triliun dan posisi bank syariah terbesar kedua di Indonesia pada 2030, setelah spin off selesai semester II 2026.
Dorongan konsolidasi dan spin off industri
KONTAN melaporkan, OJK terus mematangkan pembentukan bank-bank syariah baru melalui berbagai skema, termasuk spin off unit usaha syariah, setelah berdirinya Bank Syariah Nasional. Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae mengatakan regulator masih membahas sejumlah rencana lain, tetapi belum mengungkap bank yang sedang dipersiapkan karena prosesnya masih dipelajari.Direktur Infrastruktur Ekosistem Syariah KNEKS Sutan Emir Hidayat mengatakan aset industri perbankan syariah hingga Mei 2026 mencapai Rp1.047,03 triliun, naik 11,07% secara tahunan. Pembiayaan tumbuh 10,32% menjadi Rp729,45 triliun dan dana pihak ketiga meningkat 11,66% menjadi Rp810,04 triliun, dengan NPF gross terjaga di 2,31% dan NPF net 0,79%.
Meski demikian, pangsa pasar perbankan syariah per Mei 2026 tercatat 7,26%, turun dari 7,31% pada periode yang sama tahun lalu dan lebih rendah dari 7,46% pada April 2026. Emir menilai kondisi ini menunjukkan industri masih membutuhkan kebijakan strategis untuk memperbesar skala usaha, karena kenaikan nominal di bank konvensional tetap jauh lebih besar mengingat basis aset industri nasional yang jauh lebih besar.
Ia menambahkan penguatan pangsa pasar selama ini banyak ditopang oleh konversi dan konsolidasi, termasuk merger tiga bank syariah BUMN yang melahirkan BSI. Dengan aset BSI yang sudah melampaui Rp460 triliun, sementara pemain terbesar berikutnya masih di kisaran Rp70 triliunan, Emir menilai kehadiran lebih banyak bank syariah besar penting untuk menjadi pesaing yang seimbang bagi BSI.
Target pemain baru dan dampak bagi persaingan
Salah satu entitas yang tengah bersiap menjadi bank umum syariah mandiri adalah CIMB Niaga Syariah. Direktur Syariah CIMB Niaga Pandji P. Djajanegara mengatakan proses spin off masih menunggu izin usaha dari OJK setelah sebelumnya memperoleh izin prinsip, dengan target penyelesaian pada akhir semester II.Setelah resmi berdiri sendiri, CIMB Niaga Syariah menargetkan menjadi bank syariah terbesar kedua di Indonesia paling lambat pada 2030. Untuk mencapainya, perusahaan mengandalkan skema full leveraging dengan induknya, memperbesar pembiayaan ke segmen ritel, usaha kecil menengah, dan komunitas muslim, serta membidik aset lebih dari Rp100 triliun pada 2030, dari posisi Rp58,818 triliun per Maret 2026.
Di sisi lain, BCA Syariah menilai kenaikan pangsa pasar tidak hanya bergantung pada konsolidasi industri, tetapi juga pada inovasi layanan dan peningkatan literasi masyarakat. Direktur BCA Syariah Pranata mengatakan perseroan terus memperkuat layanan digital melalui aplikasi BSya dan mengembangkan produk sesuai kebutuhan nasabah, sementara aset bank itu per Mei 2026 mencapai Rp19,8 triliun, naik 17,8% secara tahunan.
OCBC juga belum terburu-buru membawa unit usaha syariahnya ke tahap spin off. Kepala Unit Usaha Syariah OCBC Mahendra Koesumawardhana mengatakan fokus saat ini adalah memperkuat basis nasabah dan fundamental bisnis agar ketika menjadi entitas mandiri, perpindahan nasabah dapat terjaga, menunjukkan bahwa pembentukan bank syariah besar baru masih akan sangat bergantung pada kesiapan model bisnis masing-masing pemain.
Dalam artikel kami sebelumnya tentang likuiditas perbankan, kami membahas penilaian OJK bahwa kondisi pendanaan bank masih longgar meski rupiah volatil, persaingan dana pihak ketiga ketat, dan suku bunga acuan BI naik. Kami juga mengulas bahwa kenaikan suku bunga cenderung berdampak bertahap pada bunga kredit, sehingga OJK tetap memproyeksikan pertumbuhan kredit dapat bertahan di atas 10% hingga 2026 dengan kualitas aset yang terjaga.
Berita OJK Terbaru
- Forex
- Crypto