Fintech lending kecil tertekan modal saat kesenjangan industri melebar

Fintech lending kecil tertekan modal saat kesenjangan industri melebar
Modal fintech masih tertekan

Tekanan permodalan masih membayangi industri fintech lending di Indonesia meski penyaluran pembiayaan terus bertumbuh. Per Maret 2025, masih ada 11 penyelenggara P2P lending yang belum memenuhi ketentuan ekuitas minimum Rp 12,5 miliar, menandakan pertumbuhan pasar belum merata ke seluruh pemain.

Sorotan

  • Otoritas Jasa Keuangan mencatat 11 fintech P2P lending belum memenuhi ekuitas minimum Rp 12,5 miliar hingga tenggat Maret 2025.
  • Fintech kecil menghadapi tingginya biaya dana, risiko kredit lebih tinggi, dan regulasi ketat yang memperlebar kesenjangan dengan pemain besar.
  • Amartha memastikan ekuitas tetap sehat melalui penguatan fundamental bisnis, kualitas portofolio, kolaborasi strategis, dan pengembangan ekosistem digital.

Kesenjangan modal dan risiko bisnis membesar

KONTAN Indonesia melaporkan, Otoritas Jasa Keuangan menyebut masih ada 11 penyelenggara fintech P2P lending yang belum memenuhi ketentuan ekuitas minimum Rp 12,5 miliar per Maret 2025.

Direktur Eksekutif ICT Institute Heru Sutadi menilai kondisi itu menjadi sinyal bahwa pertumbuhan penyaluran pinjaman tidak selalu sejalan dengan kesehatan keuangan perusahaan. Menurut dia, banyak perusahaan fintech menghadapi tekanan dari tingginya biaya akuisisi pengguna, gagal bayar pinjaman, hingga beban operasional yang besar.

Ia juga menilai pertumbuhan industri lebih banyak dinikmati pemain besar yang memiliki ekosistem kuat, teknologi lebih matang, dan akses modal lebih luas. Akibatnya, fintech berskala kecil lebih sulit menjaga profitabilitas dan ekuitas meski pasar secara umum masih tumbuh positif.

Heru mengatakan fintech kecil menghadapi biaya dana yang lebih mahal, risiko kredit yang lebih tinggi, serta kesulitan memperoleh investor baru. Ia menambahkan, regulasi industri yang makin ketat ikut mendorong kenaikan kebutuhan modal dan kepatuhan, sehingga memperlebar kesenjangan daya tahan bisnis antara pemain besar dan kecil.

Upaya industri menjaga ekuitas dan kualitas pembiayaan

Menurut Heru, perusahaan fintech perlu memperkuat kualitas pembiayaan dan manajemen risiko agar rasio gagal bayar tetap terkendali. Ia juga menekankan pentingnya peningkatan efisiensi operasional, termasuk mengurangi biaya akuisisi pengguna yang terlalu agresif.

Selain itu, diversifikasi produk dan kolaborasi dengan perbankan maupun ekosistem digital dinilai penting untuk memperluas sumber pendapatan perusahaan. Langkah tersebut menjadi kunci bagi pemain yang lebih kecil untuk bertahan di tengah tekanan modal dan persaingan yang makin timpang.

Di tengah tantangan itu, Amartha menyatakan kondisi ekuitas perusahaan masih berada pada posisi yang sehat. VP Public Relation Amartha Harumi Supit mengatakan perusahaan terus menjaga dan memperkuat ekuitas melalui penguatan fundamental bisnis, menjaga kualitas portofolio, memperluas kolaborasi strategis, serta membangun ekosistem keuangan digital yang inklusif.

Dalam laporan kami sebelumnya tentang pertumbuhan perbankan syariah di Indonesia hingga Maret 2026, kami mencatat kenaikan aset, pembiayaan, dan Dana Pihak Ketiga yang melampaui laju rata-rata perbankan nasional. Kami juga menyoroti bagaimana OJK mendorong penguatan intermediasi dan menjalankan peta jalan 2023–2027 untuk memperkuat struktur industri, termasuk arah transformasi melalui pembentukan bank syariah baru dari spin-off UUS.

Materi ini mungkin mengandung opini pihak ketiga, tidak ada data dan informasi di halaman web ini yang merupakan nasihat investasi menurut Disclaimer kami. Meskipun kami mematuhi Integritas Editorial yang ketat, postingan ini mungkin mengandung referensi ke produk dari mitra kami.