Pemerintah Indonesia tegaskan fundamental ekonomi tetap kuat saat rupiah melemah
Pelemahan rupiah ke kisaran Rp17.600 per U.S. dollar memicu perhatian publik dan komentar dari Presiden Prabowo Subianto soal masyarakat desa yang tidak memakai dolar U.S. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan pernyataan itu dimaksudkan sebagai pesan komunikatif untuk menenangkan masyarakat daerah, sambil menegaskan daya beli dan APBN tetap terjaga.
Sorotan
- Pemerintah Indonesia menegaskan fundamental ekonomi tetap kuat dan APBN sehat meskipun rupiah melemah ke level Rp17.600-an terhadap dolar U.S..
- Pada kuartal I-2026, pertumbuhan PDB Indonesia mencapai 5,6 persen, didorong konsumsi 2,9 persen, investasi 1,7 persen, dan belanja pemerintah 1,3 persen.
- Pemerintah membantah prediksi media asing seperti The Economist yang menyebut pertumbuhan ekonomi Indonesia rapuh dan menegaskan daya beli masyarakat tetap baik.
Klarifikasi pemerintah atas komentar kurs
Seperti dilaporkan Okezone Economy Indonesia, Purbaya Yudhi Sadewa meluruskan bahwa ucapan Presiden Prabowo terkait warga desa yang tidak memakai dolar U.S. disampaikan dalam konteks komunikasi publik, bukan untuk mengabaikan tekanan nilai tukar. Ia menyebut pernyataan itu ditujukan untuk menenangkan masyarakat dan menggambarkan kondisi riil di lapangan, khususnya di pedesaan.Purbaya juga menyayangkan adanya pihak yang menurutnya membesar-besarkan narasi tersebut hingga memicu perdebatan yang tidak perlu di ruang publik. Saat ditanya wartawan pada Senin, 18 Mei 2026, ia mengatakan komentar Presiden ketika itu sekadar untuk menghibur rakyat, lalu menegaskan bahwa kekhawatiran pasar tidak perlu dibesar-besarkan.
Ketika wartawan menyoroti bahwa pelemahan kurs tetap berdampak hingga ke wilayah desa, Purbaya merespons bahwa penyebaran narasi itulah yang justru memperbesar persoalan. Ia kemudian meminta masyarakat tidak panik menghadapi pergerakan dolar U.S. di level Rp17.600-an.
Komponen pertumbuhan dan implikasi bagi pasar
Purbaya menegaskan fundamental ekonomi Indonesia dan kesehatan APBN berada dalam kondisi prima. Ia juga membantah pandangan sejumlah pengamat dan media asing, termasuk The Economist, yang menilai pertumbuhan ekonomi Indonesia rapuh karena terlalu ditopang belanja pemerintah.Untuk mendukung argumennya, Purbaya memaparkan struktur pembentuk pertumbuhan Produk Domestik Bruto pada kuartal I-2026 yang mencapai 5,6 persen. Menurut dia, sekitar 2,9 persen berasal dari belanja konsumen, 1,7 persen dari investasi, dan 1,3 persen dari belanja pemerintah, dengan ekspor-impor turut memberi kontribusi.
Rincian itu, menurut pemerintah, menunjukkan konsumsi masyarakat masih menjadi pendorong utama pertumbuhan ekonomi nasional. Dengan penekanan pada daya beli yang dinilai tetap cukup baik, pernyataan tersebut ditujukan untuk meredam kecemasan pasar di tengah tekanan terhadap rupiah.
Dalam artikel kami sebelumnya tentang klarifikasi Purbaya Yudhi Sadewa atas pernyataan Presiden Prabowo soal warga desa yang tidak memakai dolar AS, kami membahas bagaimana komentar tersebut memicu perdebatan mengenai dampak pelemahan rupiah di tingkat akar rumput. Purbaya menekankan transaksi di pedesaan masih dominan menggunakan rupiah, sehingga sensitivitas terhadap fluktuasi dolar lebih rendah, sementara efek imported inflation dinilai muncul dengan jeda dan tidak serta-merta menekan daya beli masyarakat desa.
Berita AUD/USD Terbaru
- Forex
- Crypto