Bank Indonesia dinilai perlu naikkan suku bunga saat rupiah tertekan

Bank Indonesia dinilai perlu naikkan suku bunga saat rupiah tertekan
BI disarankan naikkan suku bunga

Tekanan terhadap rupiah mendorong seruan agar Bank Indonesia segera memperketat kebijakan moneternya setelah kurs menyentuh Rp17.719 per dolar U.S. Langkah kenaikan BI-Rate sebesar 25 basis poin ke 5,00 persen dinilai penting untuk menjaga kredibilitas kebijakan dan membatasi dampak pelemahan kurs ke inflasi impor serta sentimen investor.

Sorotan

  • Bank Indonesia dinilai perlu menaikkan suku bunga acuan 25 basis poin menjadi 5,00 persen untuk menahan pelemahan rupiah yang berlanjut.
  • Penundaan kenaikan suku bunga diperkirakan memperbesar biaya stabilisasi dan meningkatkan risiko inflasi impor, volatilitas obligasi, serta persepsi risiko investor.
  • Tekanan rupiah diperparah oleh kebijakan Federal Reserve higher for longer, memperlebar diferensial suku bunga dan memicu arus modal keluar dari emerging markets seperti Indonesia.

Desakan pengetatan saat rupiah melemah

Seperti dilaporkan Okezone Economy Indonesia, Bank Indonesia dinilai tidak lagi memiliki banyak ruang untuk menunda pengetatan suku bunga di tengah pelemahan rupiah yang berlanjut. Suku bunga acuan bertahan di 4,75 persen sejak September 2025, namun tekanan terhadap nilai tukar belum mereda sehingga intervensi valas saja dinilai tidak memadai.

Peneliti Ekonomi Great Institute, Ani Asriyah, mengatakan kenaikan BI-Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,00 persen kini menjadi langkah korektif yang diperlukan. Menurut dia, sinyal tegas dari bank sentral diperlukan agar stabilitas nilai tukar tetap menjadi prioritas dan depresiasi rupiah tidak berkembang menjadi dislokasi yang lebih mahal bagi perekonomian.

Pada Selasa, 19 Mei 2026, Ani menilai penundaan tambahan hanya akan memperbesar biaya stabilisasi yang pada akhirnya harus ditanggung ekonomi nasional. Ia juga menekankan bahwa pelemahan rupiah berisiko menjalar ke inflasi impor, pasar obligasi, dan persepsi risiko investor.

Dampak global memperbesar tekanan pasar

Tekanan terhadap rupiah disebut berkaitan erat dengan dinamika global, terutama kebijakan moneter Federal Reserve yang masih mempertahankan pendekatan higher for longer. Kondisi itu membuat diferensial suku bunga antara negara maju dan negara berkembang menjadi faktor penting dalam menentukan arah aliran modal global.

Situasi tersebut mencerminkan dilema impossible trinity, ketika otoritas moneter harus menyeimbangkan stabilitas nilai tukar, independensi kebijakan moneter, dan keterbukaan arus modal. Bagi Indonesia sebagai bagian dari emerging markets, tekanan menjadi lebih besar karena tingginya sensitivitas terhadap perubahan sentimen global dan volatilitas arus modal.

Dalam artikel kami sebelumnya tentang klarifikasi Purbaya Yudhi Sadewa atas pernyataan Presiden Prabowo soal warga desa yang tidak memakai dolar AS, kami mengulas upaya pemerintah meredam kekhawatiran publik saat rupiah melemah ke kisaran Rp17.600 per dolar AS. Pemerintah menekankan fundamental ekonomi dan APBN tetap kuat, serta menilai dampak pelemahan kurs ke daya beli—termasuk risiko inflasi impor—tidak terjadi seketika dan perlu dilihat dalam konteks yang lebih luas.

Materi ini mungkin mengandung opini pihak ketiga, tidak ada data dan informasi di halaman web ini yang merupakan nasihat investasi menurut Disclaimer kami. Meskipun kami mematuhi Integritas Editorial yang ketat, postingan ini mungkin mengandung referensi ke produk dari mitra kami.