Produsen tahu Bekasi pangkas margin saat harga kedelai impor naik
Kenaikan harga kedelai impor mulai menekan usaha tahu rumahan di Bekasi Timur dalam dua hingga tiga bulan terakhir. Pelaku usaha memilih menahan harga jual di tengah pelemahan rupiah terhadap dolar U.S. dan penurunan daya beli konsumen.
Sorotan
- Harga kedelai impor naik hampir 10 persen dari Rp 10.000 menjadi Rp 11.000 per kilogram, memaksa produsen tahu Bekasi memangkas margin.
- Produsen tahu di Bekasi menahan harga jual di Rp 500–Rp 600 per potong dan memproses sekitar 150 kilogram kedelai per hari untuk mempertahankan pasar.
- Omzet harian usaha tahu keluarga Dian Purnama turun 30 persen dari Rp 1 juta akibat daya beli melemah dan kenaikan biaya produksi.
Tekanan biaya bahan baku dan strategi produksi
Seperti diberitakan Kompas.com, usaha tahu keluarga milik Dian Purnama di Gang Mawar VI, Kelurahan Margahayu, Kecamatan Bekasi Timur, tetap beroperasi meski biaya bahan baku meningkat. Dian mengatakan harga kedelai yang sebelumnya sekitar Rp 10.000 per kilogram kini hampir mencapai Rp 11.000 per kilogram, atau nyaris naik 10 persen.Untuk menjaga produk tetap masuk ke pasar, ia memilih mengurangi keuntungan ketimbang menaikkan harga jual. Tahu produksinya saat ini masih dijual sekitar Rp 500 hingga Rp 600 per potong, dengan volume pengolahan sekitar 150 kilogram kedelai per hari melalui proses produksi sekitar empat jam.
Hasil produksi dipasarkan ke Pasar Baru, pasar kaget, serta pembeli yang datang langsung ke rumah produksi. Keputusan menahan harga diambil karena ada kekhawatiran pelanggan akan beralih ke produsen lain bila harga tahu ikut naik.
Daya beli melemah tekan omzet usaha
Dian menilai kenaikan biaya produksi terjadi bersamaan dengan kondisi ekonomi yang makin mahal, sehingga permintaan pasar ikut menurun. Menurut dia, para pedagang langganan juga mulai mengeluhkan sepinya pembeli.Sebelum harga kedelai melonjak, omzet usaha tahu keluarganya mencapai sekitar Rp 1 juta per hari. Kini omzet tersebut disebut turun hingga 30 persen, mencerminkan tekanan ganda bagi perajin tahu skala kecil dari sisi biaya input dan konsumsi rumah tangga.
Meski margin menyusut, usaha itu tetap dijalankan karena menjadi sumber penghidupan utama keluarga yang telah bertahan selama puluhan tahun. Kondisi ini menunjukkan pelaku industri pangan rumahan di daerah masih menahan beban kenaikan bahan baku untuk menjaga keberlangsungan usaha dan distribusi ke pasar lokal.
Kenaikan harga kedelai impor di Bekasi sebelumnya kami soroti sebagai faktor yang menekan biaya produksi perajin tempe, terutama ketika rupiah melemah dan harga bahan pendukung seperti plastik kemasan ikut naik. Untuk menjaga pelanggan, sebagian produsen memilih menahan harga jual dengan cara memperkecil ukuran atau mengurangi isi tempe, meski margin usaha makin menyusut.
Berita Local Business Terbaru
- Forex
- Crypto