Bank Indonesia mencatat kredit UMKM ditopang segmen mikro pada April 2026
Pertumbuhan kredit usaha mikro, kecil, dan menengah perbankan masih terbatas, dengan segmen mikro menjadi penyangga utama di tengah kontraksi pada usaha kecil dan menengah. Pada April 2026, kredit UMKM hanya naik 0,2% secara tahunan, mencerminkan bahwa pemulihan pembiayaan pelaku usaha belum merata di seluruh skala bisnis.
Sorotan
- Bank Indonesia mencatat kredit UMKM tumbuh 0,2% YoY pada April 2026, ditopang kredit mikro naik 0,7% sementara kredit usaha kecil dan menengah terkontraksi.
- Kredit mikro Amar Bank tumbuh 22,7% YoY menjadi Rp1,9 triliun hingga kuartal I-2026, sementara total kredit naik 30,62% menjadi Rp4,16 triliun dengan NPL 0,86%.
- Prospek pertumbuhan kredit UMKM nasional hingga akhir 2026 diprediksi moderat, dengan segmen mikro tetap menjadi penopang selama daya beli dan inflasi pangan terkendali.
Kinerja kredit dan fokus bank pada segmen mikro
Seperti dilaporkan Kontan dan Bank Indonesia, kredit UMKM perbankan pada April 2026 tumbuh 0,2% secara tahunan. Kenaikan itu ditopang kredit skala mikro yang naik 0,7%, sementara kredit usaha kecil masih terkontraksi 0,2% dan kredit usaha menengah terkontraksi 0,4%.Di tengah pertumbuhan industri yang masih terbatas, PT Bank Sahabat Sampoerna tetap memacu pembiayaan UMKM. Hingga kuartal I-2026, kredit UMKM mendominasi 59% dari total portofolio kredit bank tersebut, naik dibandingkan posisi akhir 2025.
Direktur Bank Sampoerna Hendra Rahardja mengatakan fokus perseroan pada UMKM tidak berubah dan bank berkomitmen menjadi mitra pertumbuhan pelaku usaha. Untuk mendorong penyaluran kredit, bank menyiapkan strategi berupa penyederhanaan proses pengajuan, penguatan kolaborasi dengan mitra fintech, dan perluasan jaringan fisik untuk menjaring nasabah baru.
Berdasarkan laporan keuangan per April 2026, total kredit Bank Sampoerna tercatat Rp10,77 triliun, turun 8,42% dibandingkan April 2025. Sementara itu, PT Bank Amar Indonesia Tbk tetap menempatkan UMKM, terutama usaha mikro, sebagai fokus bisnis utama melalui proses pengajuan kredit digital yang minim persyaratan.
Direktur Retail Banking Amar Bank Abraham Lumban Batu menyebut kredit segmen mikro perseroan tumbuh 22,7% secara tahunan menjadi Rp1,9 triliun hingga kuartal I-2026. Secara keseluruhan, kredit Amar Bank naik 30,62% menjadi Rp4,16 triliun dengan rasio kredit bermasalah 0,86%, dan perseroan menyatakan tetap berupaya memperkuat layanan bagi pelaku usaha hingga akhir 2026.
Daya beli menjadi penentu prospek UMKM
Guru Besar Universitas Airlangga Rahma Gafmi menilai kredit skala mikro umumnya lebih tahan terhadap gejolak ekonomi dibandingkan skala kecil dan menengah. Menurut dia, perputaran uang masyarakat saat terjadi tekanan ekonomi cenderung lebih terkonsentrasi pada ekosistem mikro, sehingga segmen ini masih mampu mencatat pertumbuhan ketika segmen lain melemah.Namun, Rahma mengingatkan bahwa kredit mikro sangat terkait dengan daya beli masyarakat. Jika daya beli menurun atau inflasi pangan tidak terkendali, pendapatan riil pelaku usaha mikro dapat tergerus, kemampuan membayar cicilan terganggu, dan rasio kredit bermasalah bank berpotensi naik.
Ia memproyeksikan pertumbuhan kredit UMKM tetap terjaga moderat hingga akhir 2026. Dalam pandangannya, strategi utama bagi bank yang berfokus pada segmen ini adalah menjaga likuiditas dan menekan biaya lewat digitalisasi, sementara segmen mikro masih berpeluang menjadi penopang utama pertumbuhan kredit UMKM nasional.
Dalam artikel kami sebelumnya tentang kenaikan BI Rate, kami membahas bagaimana BRI Finance menyesuaikan pricing pembiayaan secara bertahap dengan mempertimbangkan kondisi pasar dan daya beli masyarakat. Kami juga mengulas strategi selective growth dan prudent financing, termasuk penguatan manajemen risiko, efisiensi biaya, serta peningkatan collection dan monitoring kualitas aset untuk menjaga profitabilitas dan menekan risiko kredit bermasalah di tengah biaya pendanaan yang lebih tinggi.
Berita OJK Terbaru
- Forex
- Crypto