Bank besar hadapi tekanan laba hingga semester I-2026

Bank besar hadapi tekanan laba hingga semester I-2026
Bank besar tertekan laba

Normalisasi likuiditas dan tingginya suku bunga menahan pertumbuhan laba bank-bank besar pada awal 2026, meski penyaluran kredit masih bertumbuh positif. Tekanan ini diperkirakan berlanjut sampai semester I-2026 karena biaya dana tetap tinggi dan ruang ekspansi margin semakin terbatas.

Sorotan

  • Bank Mandiri laporkan pertumbuhan laba bersih bank only 18,85% yoy menjadi Rp18,05 triliun per April 2026 didukung kenaikan kredit 18,48%.
  • Bank besar lain seperti BNI, BRI, dan BCA alami tekanan kenaikan beban operasional, dengan pertumbuhan laba bersih terbatas 3-6% per April 2026.
  • Likuiditas ketat dan suku bunga tinggi diperkirakan menekan margin industri perbankan hingga semester I-2026, sementara bank dengan dana murah dan efisiensi digital dinilai berpotensi outperform.

Kinerja bank besar per April 2026

KONTAN melaporkan, dari kelompok bank buku empat, hanya Bank Mandiri yang membukukan pertumbuhan laba bersih bank only dua digit per April 2026, yakni 18,85% secara tahunan menjadi Rp18,05 triliun. Kinerja itu sejalan dengan pertumbuhan pendapatan bunga bersih sebesar 9,83% menjadi Rp27,91 triliun dan kredit yang tumbuh 18,48% menjadi Rp1.550,17 triliun.

Direktur Finance & Strategy Bank Mandiri Novita Widya Anggraini mengatakan capaian tersebut selaras dengan strategi penguatan ekosistem yang dijalankan terintegrasi di seluruh segmen bisnis, termasuk untuk mendukung program pemerintah. Menurut dia, bank juga berfokus pada diversifikasi sumber pendapatan dan disiplin pengelolaan risiko agar pertumbuhan tetap berkelanjutan di tengah situasi yang menantang.

Di bank besar lain, pertumbuhan laba masih lebih terbatas. Laba bersih Bank Negara Indonesia naik 6,11% menjadi Rp7,29 triliun, meski pendapatan bunga bersih meningkat 14,25% menjadi Rp14,43 triliun dan kredit tumbuh 21,37% menjadi Rp919,5 triliun. Kenaikan beban operasional lain sebesar 28,9% menjadi Rp5,61 triliun, termasuk impairment yang naik 30,11% menjadi Rp2,92 triliun, ikut menekan hasil akhir.

Bank Rakyat Indonesia mencatat pertumbuhan laba bersih 5,91% menjadi Rp15,89 triliun, dengan pendapatan bunga bersih naik 7,49% menjadi Rp39,37 triliun dan kredit bertambah 10,22% menjadi Rp19,41 triliun. Sementara itu, laba bersih Bank Central Asia naik 3% menjadi Rp20,81 triliun, seiring koreksi tipis pendapatan bunga bersih 0,3% menjadi Rp26,81 triliun dan pertumbuhan kredit 4,54% menjadi Rp965,01 triliun.

EVP Corporate Communication BCA Hera F. Haryn mengatakan keterbatasan kinerja pendapatan bunga bersih pada periode ini sejalan dengan volume permintaan kredit, kondisi perekonomian, dan pergerakan suku bunga. BCA, kata dia, tetap mendorong penyaluran kredit ke seluruh sektor dan segmen sambil menjaga prinsip kehati-hatian serta posisi permodalan dan likuiditas yang solid.

Dana mahal jadi penekan margin industri

Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Institute for Development of Economics and Finance, INDEF, Rizal Taufikurahman menilai laba bank-bank besar mulai memasuki fase normalisasi pada 2026, seiring likuiditas yang semakin ketat dan suku bunga yang masih tinggi. Ia memperkirakan tekanan laba masih berlanjut hingga semester I-2026 karena pertumbuhan kredit yang lebih cepat daripada dana pihak ketiga membuat persaingan menghimpun dana menjadi lebih mahal.

Pada saat yang sama, kenaikan suku bunga acuan dan SRBI membuat biaya dana perbankan bertahan tinggi. Kondisi ini berpotensi menekan margin bunga bersih industri karena bunga dana naik lebih cepat daripada repricing kredit.

Meski demikian, Rizal menilai fundamental perbankan masih cukup kuat dan kualitas aset relatif terjaga. Ke depan, arah pertumbuhan laba lebih banyak dipengaruhi kebijakan BI Rate, stabilitas rupiah, serta pertumbuhan sektor hilirisasi, infrastruktur, dan konsumsi domestik. Dalam kondisi tersebut, bank dengan basis dana murah kuat, efisiensi digital tinggi, dan kualitas aset sehat diperkirakan tetap menjadi outperformer di tengah fase konsolidasi laba.

Dalam artikel kami sebelumnya tentang tekanan margin bunga bersih (NIM) perbankan pada 2026, kami mengulas bagaimana kenaikan BI Rate mendorong biaya dana naik lebih cepat daripada repricing kredit sehingga NIM berpotensi tergerus. Kami juga menyoroti risiko likuiditas yang meningkat akibat persaingan dana yang makin mahal, dengan tekanan lebih besar pada bank yang bergantung pada dana mahal dibanding bank ber-CASA kuat.

Materi ini mungkin mengandung opini pihak ketiga, tidak ada data dan informasi di halaman web ini yang merupakan nasihat investasi menurut Disclaimer kami. Meskipun kami mematuhi Integritas Editorial yang ketat, postingan ini mungkin mengandung referensi ke produk dari mitra kami.