PDI-P soroti dampak pelemahan rupiah pada harga pangan desa

PDI-P soroti dampak pelemahan rupiah pada harga pangan desa
Rupiah lemah, harga naik

Pernyataan soal warga desa yang tidak memakai dollar memicu perdebatan baru mengenai dampak pelemahan rupiah terhadap ekonomi rumah tangga. PDI-P menilai tekanan kurs tetap menjalar ke desa lewat kenaikan harga kebutuhan pokok dan biaya bahan baku impor.

Sorotan

  • Pelemahan rupiah terhadap dollar AS meningkatkan harga kebutuhan pokok di desa, terutama pada sektor usaha berbahan baku impor seperti tahu dan tempe.
  • Ketua DPP PDI-P Djarot Saiful Hidayat menyebut kenaikan harga kedelai akibat pelemahan rupiah dapat membuat pelaku usaha mikro terjepit bahkan menutup usaha.
  • Pernyataan Djarot menanggapi Presiden Prabowo Subianto yang menilai rakyat desa tidak terpengaruh dollar, meski data menunjukkan tekanan kurs berdampak ke harga pangan desa.

Dampak kurs pada kebutuhan pokok

Seperti diberitakan Kompas.com, Ketua DPP PDI-P Djarot Saiful Hidayat menyatakan masyarakat desa tetap terkena dampak kenaikan nilai tukar dollar Amerika Serikat terhadap rupiah, meski tidak memakai mata uang itu dalam transaksi harian. Ia mengatakan pelemahan rupiah mendorong kenaikan harga barang kebutuhan yang pada akhirnya dirasakan luas oleh rumah tangga di desa.

Djarot menyebut usaha tahu dan tempe sebagai contoh sektor yang sudah merasakan tekanan tersebut karena bergantung pada impor kedelai. Menurut dia, kenaikan harga kedelai membuat pelaku usaha semakin terjepit dan berisiko menutup usaha jika kondisi itu terus berlangsung.

Ia menegaskan penguatan dollar terhadap rupiah berpengaruh langsung pada harga kebutuhan pokok rakyat. Karena itu, menurutnya, masyarakat desa tetap terdampak secara tidak langsung walaupun tidak bertransaksi menggunakan dollar.

Perdebatan setelah pernyataan Presiden

Pernyataan Djarot muncul setelah Presiden Prabowo Subianto sebelumnya menanggapi kekhawatiran atas pelemahan rupiah dengan mengatakan rakyat di desa tidak memakai dollar. Dalam pidato peresmian Museum Ibu Marsinah dan Rumah Singgah di Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur, pada Sabtu, 16/5/2026, Prabowo juga menegaskan kondisi pangan dan energi nasional masih aman di tengah ketidakpastian global.

Perbedaan pandangan ini menyoroti bagaimana gejolak kurs dinilai tidak hanya mempengaruhi pelaku yang bertransaksi dalam valuta asing, tetapi juga sektor konsumsi sehari-hari yang memakai bahan baku impor. Bagi pelaku usaha pangan skala kecil dan konsumen di daerah, tekanan nilai tukar dapat berubah menjadi kenaikan harga yang langsung menekan daya beli.

Dalam ulasan kami sebelumnya tentang tekanan rupiah yang mendekati Rp17.900–Rp18.000 per dolar AS, kami membahas faktor pendorong pelemahan, mulai dari tekanan global, arus modal keluar, hingga kenaikan kebutuhan dolar untuk impor dan pembayaran korporasi. Kami juga menyoroti respons Bank Indonesia yang menegaskan komitmen intervensi di pasar untuk menjaga stabilitas nilai tukar di tengah pasokan dolar yang ketat dan volatilitas harga minyak.

Materi ini mungkin mengandung opini pihak ketiga, tidak ada data dan informasi di halaman web ini yang merupakan nasihat investasi menurut Disclaimer kami. Meskipun kami mematuhi Integritas Editorial yang ketat, postingan ini mungkin mengandung referensi ke produk dari mitra kami.