Jakarta soroti kebutuhan penguatan keandalan listrik jangka panjang pascablackout

Jakarta soroti kebutuhan penguatan keandalan listrik jangka panjang pascablackout
Jakarta butuh listrik andal

Setelah gangguan listrik berskala besar, perhatian publik di Jakarta beralih pada kepastian pasokan listrik yang andal dalam jangka panjang, bukan hanya pada kompensasi bagi pelanggan. Desakan itu juga mencerminkan kebutuhan evaluasi menyeluruh atas sistem kelistrikan agar dampak terhadap aktivitas ekonomi, layanan publik, dan kehidupan sehari-hari tidak kembali meluas.

Sorotan

  • Direktur IRESS Marwan Batubara menegaskan penguatan sistem kelistrikan krusial pascablackout untuk mencegah kerugian ekonomi dan sosial yang lebih besar.
  • Kerugian akibat blackout berulang dinilai jauh melebihi kompensasi yang diberikan kepada pelanggan sesuai ketentuan regulasi yang berlaku.
  • Mekanisme kompensasi seperti pengurangan tagihan listrik diakui belum cukup mengatasi dampak ekonomi dan sosial, sehingga prioritas tetap pada keandalan pasokan listrik.

Penekanan pada perbaikan sistem

Seperti dilaporkan Okezone Economy Indonesia, Direktur Indonesian Resources Studies (IRESS) Marwan Batubara menilai penguatan sistem kelistrikan menjadi langkah yang lebih dibutuhkan masyarakat setelah insiden blackout berskala luas. Ia mengatakan gangguan listrik besar dapat memukul kegiatan ekonomi, layanan publik, hingga aktivitas harian warga, sehingga pencegahan pengulangan insiden menjadi prioritas utama.

Marwan menyatakan masyarakat pada dasarnya membutuhkan kepastian bahwa kejadian serupa tidak terulang lagi. Menurutnya, bila blackout terus berulang, kerugian yang ditanggung masyarakat akan jauh lebih besar dibanding kompensasi yang diterima pelanggan.

Dampak bagi pelanggan dan sektor publik

Ia menjelaskan regulasi yang berlaku sudah mengatur mekanisme kompensasi ketika gangguan memengaruhi tingkat mutu pelayanan. Bentuknya meliputi pengurangan tagihan listrik bagi pelanggan pascabayar atau tambahan token bagi pelanggan prabayar, dengan besaran yang mengikuti ketentuan yang berlaku.

Namun, ia menilai mekanisme kompensasi hanya menjadi bagian dari pelaksanaan aturan dan perlindungan pelanggan. Kompensasi tersebut, menurutnya, belum sepenuhnya dapat menggantikan dampak ekonomi dan sosial yang timbul akibat gangguan listrik berskala besar, sehingga fokus utama tetap pada peningkatan keandalan pasokan listrik.

Dalam artikel kami sebelumnya tentang percepatan proyek PLTS 100 GW, kami menyoroti penilaian IESR bahwa keberhasilan program ini sangat ditentukan oleh kesiapan tata kelola dan perencanaan yang cepat, terukur, serta bisa direplikasi. Kami juga mencatat prioritas “quick wins” seperti dedieselisasi untuk menekan konsumsi diesel, menarik investasi, dan memperluas akses listrik bersih, sekaligus adanya hambatan pengadaan dan kepastian tarif yang masih perlu dibenahi agar target dapat tercapai.

Materi ini mungkin mengandung opini pihak ketiga, tidak ada data dan informasi di halaman web ini yang merupakan nasihat investasi menurut Disclaimer kami. Meskipun kami mematuhi Integritas Editorial yang ketat, postingan ini mungkin mengandung referensi ke produk dari mitra kami.