Sumatera dan Jawa jadi sorotan dalam riwayat blackout Indonesia

Sumatera dan Jawa jadi sorotan dalam riwayat blackout Indonesia
Blackout Sumatera-Jawa Terulang

Gangguan kelistrikan terbaru di Sumatera kembali menyoroti kerentanan sistem listrik Indonesia setelah serangkaian pemadaman besar dalam enam tahun terakhir. Dampaknya tidak terbatas pada rumah tangga, tetapi juga menjalar ke telekomunikasi, transportasi publik, layanan perbankan, dan aktivitas ekonomi di sejumlah wilayah.

Sorotan

  • Blackout besar di Sumatera pada 2019 menambah daftar gangguan listrik seperti di Banten, DKI Jakarta, dan Jawa Barat dalam enam tahun terakhir.
  • Pemadaman massal 4 Agustus 2019 akibat gangguan tiga SUTET memicu lumpuhnya sistem transportasi, layanan keuangan, dan bisnis ritel selama belasan jam.
  • PLN menormalkan kembali pasokan listrik pada 6 Agustus 2019 setelah penstabilan bertahap, sementara pemerintah menekan PLN untuk perbaikan guna mencegah risiko serupa.

Riwayat pemadaman besar dan penyebabnya

Seperti dilaporkan Kompas.com, gangguan listrik terbaru di Sumatera menambah daftar blackout besar yang menunjukkan stabilitas jaringan nasional masih menjadi tantangan operasional penting.

Dalam kilas balik enam tahun terakhir, blackout besar pernah terjadi di Banten, DKI Jakarta, dan Jawa Barat pada 4 Agustus 2019, setelah jeda 22 tahun sejak kejadian besar pada 1997. Dalam cakupan nasional yang lebih luas, pemadaman parsial juga pernah terjadi di Jawa Timur pada 2018.

Pemadaman serentak pada 4 Agustus 2019 terjadi akibat turunnya aliran listrik secara drastis di SUTET Ungaran-Pemalang 500 kV. Gangguan itu kemudian meluas dan memengaruhi sirkuit Depok-Tasikmalaya, sehingga tiga SUTET mengalami gangguan bersamaan dalam skenario yang dikenal sebagai N minus 3.

Dampak ekonomi dan langkah pemulihan PLN

Pemadaman massal hingga belasan jam pada saat itu langsung melumpuhkan sistem yang bergantung pada pasokan listrik, termasuk KRL, MRT, dan lift gedung. Aktivitas ekonomi harian juga tersendat karena minimarket, usaha kecil, restoran, ojek online, ATM perbankan, hingga sejumlah pom bensin tidak dapat beroperasi normal.

Setelah gangguan terjadi, PLN melakukan penstabilan dengan memasok listrik dari Jawa Timur yang tidak terdampak menuju PLTA Saguling dan PLTA Cirata. Dari sana, pasokan dialirkan ke barat menuju PLTU Suralaya melalui sejumlah gardu induk, sementara GITET Gandul juga menyalurkan listrik ke PLTGU Muara Karang untuk menopang pasokan di DKI Jakarta.

Dalam konferensi pers pada malam hari yang sama, Plt Direktur Utama PLN saat itu, Sripeni Inten Cahyani, menyatakan pasokan listrik akan kembali normal secara menyeluruh pada malam itu. Namun, sebagian daerah masih mengeluhkan pemadaman hingga pagi 5 Agustus 2019, sebelum PLN menyatakan sistem kembali normal sekitar pukul 16.00 WIB pada hari yang sama dan pulih 100 persen pada 6 Agustus 2019.

Krisis tersebut juga memicu tekanan dari pemerintah. Presiden ke-7 RI Joko Widodo saat itu mendatangi Kantor Pusat PLN pada 5 Agustus 2019 dan mempertanyakan mengapa gangguan sebesar itu bisa terjadi, seraya mendesak perbaikan agar risiko blackout serupa tidak kembali mengganggu perekonomian dan layanan publik.

Program diskon tambah daya listrik 50% dari PLN menjadi sorotan dalam artikel kami sebelumnya, yang berlaku 20 Mei–2 Juni 2026 untuk pelanggan satu fasa semua golongan tarif. Kami mengulas bahwa pengajuan dilakukan sepenuhnya lewat aplikasi PLN Mobile, dengan mekanisme e-voucher bagi pelanggan prabayar maupun pascabayar, sehingga proses lebih cepat dan biaya peningkatan daya menjadi lebih terjangkau.

Materi ini mungkin mengandung opini pihak ketiga, tidak ada data dan informasi di halaman web ini yang merupakan nasihat investasi menurut Disclaimer kami. Meskipun kami mematuhi Integritas Editorial yang ketat, postingan ini mungkin mengandung referensi ke produk dari mitra kami.