Samir soroti faktor kenaikan kredit macet di fintech lending Indonesia
Di tengah kebutuhan pembiayaan digital yang tetap tinggi, PT Sahabat Mikro Fintek (Samir) menilai sejumlah risiko masih dapat mendorong kenaikan kredit macet di industri fintech lending. Perusahaan juga menyatakan prospek bisnis tetap positif, terutama karena permintaan pembiayaan cepat dan inklusif dari pelaku UMKM yang belum sepenuhnya terlayani lembaga keuangan konvensional.
Sorotan
- Samir mencatat risiko kredit macet TWP90 sebesar 1,13% per 29 Mei 2026, jauh di bawah batas OJK sebesar 5%.
- Faktor utama kenaikan kredit macet di fintech lending adalah kurangnya literasi keuangan digital, gaya hidup konsumtif, dan sistem kredit scoring yang belum akurat.
- Samir tetap optimis pada prospek industri fintech lending UMKM, mengedepankan kehati-hatian, kepatuhan regulasi OJK, dan perlindungan konsumen.
Faktor risiko dan langkah mitigasi Samir
Kepada Kontan, Direktur Operasional Samir Junjungan Pramana Putra Rumapea mengatakan kurangnya literasi dan edukasi keuangan digital masyarakat menjadi salah satu faktor yang berpotensi meningkatkan kredit macet. Ia menambahkan gaya hidup konsumtif, ketidakpastian kondisi ekonomi yang menekan daya beli, dan gangguan pada stabilitas pendapatan peminjam juga ikut memperbesar risiko gagal bayar.Selain itu, Samir menilai sistem penilaian kredit yang kurang akurat dalam mitigasi risiko, fenomena gali lubang tutup lubang atau over leveraging, serta proses penagihan yang kurang efektif dapat memperburuk kualitas pembiayaan. Untuk menekan risiko tersebut, perusahaan menerapkan strategi kehati-hatian, memperkuat manajemen risiko, dan melanjutkan inovasi secara berkelanjutan.
Dampak bagi industri dan posisi Samir
Menurut perusahaan, prospek kinerja fintech lending ke depan tetap positif karena kebutuhan pembiayaan yang cepat dan inklusif masih tinggi, khususnya di segmen Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah. Kondisi itu dinilai menjadi peluang sekaligus tanggung jawab bagi industri untuk tetap bertumbuh secara sehat.Samir menyatakan akan terus mengedepankan prinsip kehati-hatian dan kepatuhan terhadap regulasi Otoritas Jasa Keuangan, disertai perlindungan konsumen melalui transparansi, edukasi finansial, dan praktik penagihan yang beretika. Dengan pendekatan itu, perusahaan berharap pertumbuhan bisnis fintech lending dapat berjalan seiring dengan dukungan yang berkelanjutan bagi UMKM di Indonesia.
Berdasarkan situs resmi perusahaan, tingkat risiko kredit macet agregat atau TWP90 Samir berada di level 1,13% per 29 Mei 2026. Angka tersebut masih jauh di bawah batas ketentuan OJK sebesar 5%.
Dalam publikasi kami sebelumnya tentang dampak kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia terhadap permintaan pinjaman online, kami mencatat bahwa biaya kredit bank yang lebih mahal dapat mendorong pergeseran ke fintech lending. Namun, tren tersebut dibarengi peningkatan risiko kualitas pembiayaan, terlihat dari kenaikan rasio kredit macet agregat (TWP90) industri, sehingga penyelenggara didorong memperkuat seleksi peminjam, credit scoring, dan pemanfaatan SLIK untuk mitigasi risiko.
Berita OJK Terbaru
- Forex
- Crypto