Perbankan Indonesia hadapi risiko LAR naik setelah BI Rate meningkat

Perbankan Indonesia hadapi risiko LAR naik setelah BI Rate meningkat
Risiko LAR perbankan naik

Perbaikan rasio kredit berisiko perbankan Indonesia masih berlanjut pada Maret 2026, tetapi kenaikan BI Rate mulai menambah tekanan terhadap kemampuan bayar debitur. Kondisi ini berpotensi menahan tren penurunan Loan at Risk, sekaligus meningkatkan kebutuhan pencadangan dan menekan profitabilitas bank.

Sorotan

  • Rasio Loan at Risk (LAR) perbankan Indonesia turun menjadi 8,94% pada Maret 2026 dari 9,86% pada Maret 2025, namun kenaikan BI Rate 50 bps ke 5,25% berpotensi meningkatkan risiko kredit.
  • Kenaikan suku bunga memperbesar cost of credit dan menekan net interest margin, mendorong bank memperkuat pencadangan dan memperketat seleksi debitur, terutama pada segmen UMKM dan kredit konsumsi.
  • BTN melaporkan LAR turun menjadi 19,6% dan BCA LAR turun ke 5,1% pada kuartal I 2026, sementara CIMB Niaga LAR 6,8%, dengan seluruh bank tetap menerapkan ekspansi kredit selektif dan manajemen risiko ketat.

Tekanan suku bunga pada kualitas aset

Seperti diberitakan KONTAN Indonesia, rasio Loan at Risk industri perbankan turun menjadi 8,94% pada Maret 2026, dari 9,24% pada Februari 2026 dan 9,86% pada Maret 2025, berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan. Namun, kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia sebesar 50 basis poin menjadi 5,25% dinilai berpotensi membebani debitur dan memperlambat pemulihan kualitas kredit.

Chief Economist Bank Tabungan Negara, Myrdal Gunarto, menilai kenaikan BI Rate di tengah pemulihan kualitas aset dapat menekan profitabilitas perbankan. Menurut dia, beban bunga debitur yang meningkat dapat menurunkan kemampuan pembayaran kredit, sehingga jika kualitas kredit memburuk dan LAR naik, bank perlu membentuk cadangan kerugian penurunan nilai yang lebih besar.

Myrdal mengatakan cost of credit berpotensi naik dan menggerus laba bersih bank, sementara net interest margin juga dapat tertekan karena cost of fund ikut meningkat. Untuk mengantisipasi risiko tersebut, bank perlu memperkuat pencadangan, meningkatkan penghimpunan dana murah atau CASA, serta melakukan stress testing secara berkala terhadap portofolio kredit.

Ia menilai segmen UMKM, khususnya mikro dan kecil, menjadi yang paling rentan terhadap kenaikan LAR. Selain itu, kredit konsumsi seperti kredit tanpa agunan, pembiayaan paylater yang didanai bank, serta kredit pemilikan rumah dengan skema bunga mengambang juga dinilai sensitif terhadap pelemahan daya beli dan kenaikan suku bunga.

Dampak terhadap strategi bank dan penyaluran kredit

Myrdal memproyeksikan rasio LAR perbankan hingga akhir tahun berpotensi stagnan atau sedikit meningkat, bergantung pada kecepatan transmisi kenaikan BI Rate ke bunga kredit. Meski demikian, perbankan diperkirakan tidak menutup penyaluran kredit, melainkan menerapkan strategi flight to quality dengan memperketat underwriting dan lebih selektif memilih debitur yang memiliki arus kas kuat serta rekam jejak pembayaran yang baik.

Ia menambahkan bank juga cenderung memperbesar penyaluran kredit melalui skema value chain atau rantai pasok korporasi untuk menekan risiko. Pendekatan ini menunjukkan bahwa kenaikan suku bunga lebih mungkin mendorong pengetatan seleksi debitur daripada penghentian ekspansi kredit secara menyeluruh.

Di tingkat bank, BTN melaporkan rasio LAR sebesar 19,6% hingga kuartal I 2026, turun 70 basis poin dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar 20,3%. Direktur Risk Management BTN, Setiyo Wibowo, mengatakan kualitas aset BTN masih membaik, meski risiko dari kenaikan suku bunga tetap perlu diantisipasi melalui penguatan early warning system, pemantauan kualitas kredit yang lebih ketat, stress testing, serta strategi collection dan recovery yang lebih tersegmentasi.

BTN menyatakan tetap melanjutkan ekspansi kredit secara selektif dan terukur, terutama pada sektor yang sejalan dengan bisnis utama perseroan di ekosistem perumahan. Di sisi lain, BCA mencatat rasio LAR 5,1% pada kuartal I 2026, membaik dari 6% setahun sebelumnya, dengan rasio NPL tetap rendah di 1,8%, sementara rasio pencadangan NPL dan LAR masing-masing mencapai 174,6% dan 69,7%.

Presiden Direktur PT Bank CIMB Niaga Tbk, Lani Darmawan, mengatakan tren LAR perseroan masih menurun, dengan rasio berada di level 6,8%, atau 5,4% jika tidak memasukkan portofolio eks restrukturisasi Covid-19. CIMB Niaga menyatakan belum melihat tambahan risiko terhadap LAR saat ini dan tetap konsisten menerapkan prinsip kehati-hatian dalam penyaluran kredit.

Dalam artikel kami sebelumnya tentang strategi perbankan menghadapi persaingan likuiditas yang makin ketat, kami mengulas pergeseran fokus bank dari mengejar kredit dan dana berbunga tinggi ke penguatan ecosystem banking untuk meningkatkan CASA dan transaksi nasabah. Kami juga menyoroti langkah BTN memperluas ekosistem perumahan serta layanan seperti payroll, cash management, dan solusi digital untuk memperkuat dana murah sekaligus menambah pendapatan berbasis komisi.

Materi ini mungkin mengandung opini pihak ketiga, tidak ada data dan informasi di halaman web ini yang merupakan nasihat investasi menurut Disclaimer kami. Meskipun kami mematuhi Integritas Editorial yang ketat, postingan ini mungkin mengandung referensi ke produk dari mitra kami.