Saham bank besar Indonesia rebound, analis pertahankan rekomendasi beli

Saham bank besar Indonesia rebound, analis pertahankan rekomendasi beli
Saham bank besar rebound

Menjelang Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia, saham-saham bank berkapitalisasi besar ditutup menguat pada perdagangan Selasa, 2 Juni 2026, setelah tekanan jual sebelumnya mereda. Penguatan ini terjadi di tengah pergerakan mingguan yang masih beragam dan pandangan analis bahwa sektor perbankan tetap ditopang likuiditas, pertumbuhan kredit, dan kualitas aset yang terjaga.

Sorotan

  • Saham BBCA, BBRI, BMRI, dan BBNI rebound hingga 3,05% pasca rebalancing MSCI 1 Juni 2026, didorong technical rebound dan stabilitas moneter.
  • Mirae Asset merekomendasikan accumulative buy: BBCA target Rp 6.375, BBNI Rp 4.520, BBRI Rp 3.670, BMRI Rp 5.500 per saham.
  • Fundamental sektor perbankan kuat dengan kredit dan dana pihak ketiga stabil, rasio kredit bermasalah terkendali, serta arus dana asing jadi katalis positif.

Pemicu rebound dan rekomendasi saham

KONTAN melaporkan, penguatan saham bank besar terjadi setelah tekanan jual terkait rebalancing MSCI yang efektif pada 1 Juni 2026 berakhir, sehingga memicu technical rebound di tengah kondisi sejumlah saham yang sudah oversold. Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta mengatakan sentimen positif juga datang dari stabilitas kebijakan moneter dan likuiditas, termasuk keputusan Lembaga Penjamin Simpanan mempertahankan tingkat bunga penjaminan di 3,50% serta komitmen Bank Indonesia menjaga stabilitas rupiah melalui intervensi pasar valuta asing.

Pada penutupan perdagangan, saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) naik 2,19% ke Rp 5.825 per saham, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) menguat 3,05% ke Rp 3.040, PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) naik 2,21% ke Rp 4.170, dan PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) menguat 1,62% ke Rp 3.760. Namun secara mingguan, BBCA masih turun 2,51%, BBNI melemah 2,08%, BBRI terkoreksi 0,98%, sementara BMRI masih naik 0,97%.

Nafan merekomendasikan accumulative buy untuk BBCA dengan target harga terdekat Rp 6.375 per saham. Untuk BBNI, ia memberi rekomendasi accumulative buy dengan target Rp 4.520 per saham, sementara BBRI direkomendasikan accumulative buy dengan target Rp 3.670, dan BMRI dengan target Rp 5.500 per saham.

Dukungan fundamental sektor perbankan

Menurut Nafan, fundamental industri perbankan nasional masih cukup kuat, ditopang pertumbuhan kredit dan dana pihak ketiga yang relatif stabil serta manajemen risiko yang menjaga rasio kredit bermasalah tetap terkendali. Ia menilai selama kondisi makroekonomi tetap stabil dan arus dana asing kembali masuk ke pasar saham domestik, sektor perbankan masih menjadi salah satu pilihan utama investor untuk jangka menengah hingga panjang.

Untuk BBCA, ia melihat prospek jangka panjang tetap menarik karena ditopang likuiditas dan current account saving account yang kuat, rasio kredit bermasalah di bawah rata-rata industri, serta rencana pembagian dividen interim hingga tiga kali dalam setahun mulai kuartal II-2026. Valuasi saham BBCA juga dinilai lebih menarik setelah price to book value turun ke sekitar 2,8 kali dari kisaran 4 kali hingga 5 kali sebelumnya.

Pada BBNI, kekuatan likuiditas, struktur pendanaan, dan permodalan dinilai menopang ekspansi kredit, dengan tambahan potensi dari pembiayaan korporasi blue chip, aktivitas ekspor-impor, serta peluang proyek strategis nasional dan hilirisasi melalui Danantara. Sementara itu, prospek BBRI didukung target pertumbuhan kredit 7% hingga 9% pada 2026 dan kemampuan menjaga net interest margin di kisaran 7,4% hingga 7,8%, sedangkan BMRI dinilai mendapat katalis dari super app Livin' by Mandiri, pertumbuhan fee based income, efisiensi operasional, dan peluang bisnis baru dari kebutuhan pembiayaan proyek strategis nasional.

Dalam artikel kami sebelumnya tentang pelemahan saham BBCA sepanjang 2026, kami membahas bahwa koreksi lebih banyak dipicu tekanan eksternal, terutama arus keluar dana asing dan sentimen terhadap sektor perbankan, meski kinerja operasional BCA masih tumbuh. Kami juga menilai valuasi BBCA mulai lebih menarik setelah penurunan tajam, tetapi pemulihan harga tetap sangat bergantung pada kembalinya aliran dana asing dan membaiknya sentimen pasar.

Materi ini mungkin mengandung opini pihak ketiga, tidak ada data dan informasi di halaman web ini yang merupakan nasihat investasi menurut Disclaimer kami. Meskipun kami mematuhi Integritas Editorial yang ketat, postingan ini mungkin mengandung referensi ke produk dari mitra kami.