WOM Finance lebih selektif menerbitkan surat utang di tengah kenaikan suku bunga
Di tengah kenaikan BI Rate dan imbal hasil obligasi, PT Wahana Ottomitra Multiartha Tbk (WOM Finance) menyatakan akan lebih selektif menentukan waktu serta struktur penerbitan surat utang ke depan. Langkah ini diambil saat pasar obligasi korporasi masih aktif, namun biaya pendanaan mulai tertekan oleh tren kenaikan kupon dan perubahan minat investor.
Sorotan
- WOM Finance lebih selektif menerbitkan surat utang setelah suku bunga Bank Indonesia naik menjadi 5,25% dan yield obligasi meningkat.
- Nilai penerbitan obligasi WOM Finance tercatat Rp 1,5 triliun hingga Mei 2026, dengan tren kupon korporasi bergerak naik secara bertahap.
- Penerbitan surat utang multifinance per Mei 2026 mencapai Rp 12,93 triliun naik 19,3%, didominasi Adira, Federal International Finance, dan Indomobil Finance Indonesia.
Strategi penerbitan di tengah tekanan pasar
Seperti dilaporkan KONTAN, Direktur Keuangan WOM Finance, Cincin Lisa, mengatakan perseroan menyesuaikan rencana penerbitan surat utang dengan kondisi pasar setelah suku bunga acuan Bank Indonesia naik menjadi 5,25% dan yield obligasi ikut meningkat. Menurut dia, kedua faktor tersebut berpotensi menekan pasar obligasi korporasi pada sisa tahun ini.Dalam menentukan penerbitan berikutnya, perusahaan mempertimbangkan sejumlah faktor utama, yakni tingkat suku bunga, yield pasar, dan minat investor. Hingga Mei 2026, nilai penerbitan obligasi WOM Finance tercatat Rp 1,5 triliun dan dana hasil emisi itu digunakan untuk modal kerja perusahaan.
Cincin juga menyatakan tren kupon obligasi korporasi mulai bergerak naik seiring kenaikan suku bunga acuan dan yield obligasi pemerintah. Meski demikian, kenaikannya masih terlihat bertahap karena mekanisme penyesuaian di pasar obligasi korporasi.
Dampak pada sektor multifinance
Peningkatan biaya dana terjadi ketika aktivitas penerbitan surat utang di sektor multifinance masih bertumbuh. Data Pemeringkat Efek Indonesia, Pefindo, menunjukkan penerbitan surat utang multifinance mencapai Rp 12,93 triliun per Mei 2026, naik 19,3% dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 10,84 triliun.Dari sisi emiten, Pefindo mencatat penerbitan terbesar berasal dari PT Adira Dinamika Multi Finance Tbk, PT Federal International Finance, dan PT Indomobil Finance Indonesia, yang masing-masing menerbitkan surat utang senilai Rp 2,50 triliun. Ketiga perusahaan itu menyumbang sekitar 58,0% dari total penerbitan multifinance hingga Mei 2026.
Kondisi ini menunjukkan pasar surat utang multifinance masih terbuka, tetapi emiten menghadapi kebutuhan pengaturan waktu emisi yang lebih cermat. Bagi WOM Finance, pendekatan yang lebih selektif berpotensi menjadi bagian dari strategi menjaga efisiensi pendanaan di tengah perubahan suku bunga dan yield pasar.
Dalam laporan kami sebelumnya tentang agresivitas bank meningkatkan porsi dana murah (CASA) setelah BI Rate naik ke 5,25% pada Mei 2026, kami membahas bagaimana pertumbuhan giro dan tabungan melampaui deposito berjangka sehingga membantu bank menahan kenaikan biaya dana. Kami juga menyoroti persaingan likuiditas yang kian ketat, termasuk strategi bank besar seperti CIMB Niaga dan BCA yang memperkuat transaksi serta layanan digital untuk menjaga porsi CASA tetap tinggi di tengah tren suku bunga yang lebih tinggi.
- Forex
- Crypto