Warteg di Tangerang Selatan pangkas porsi, hapus menu saat biaya bahan pokok melonjak

Warteg di Tangerang Selatan pangkas porsi, hapus menu saat biaya bahan pokok melonjak
Warteg kurangi porsi menu

Kenaikan harga bahan pokok menekan operasional warteg di Pamulang, Tangerang Selatan, hingga pelaku usaha mulai mengurangi porsi dan menghentikan sejumlah menu favorit. Tekanan biaya ini terjadi ketika daya beli pelanggan juga melemah, sehingga pemilik warteg memilih menahan harga jual untuk menjaga kunjungan.

Sorotan

  • Harga bahan pangan utama di Pamulang, seperti terong naik 100 persen ke Rp 16.000/kg dan jeroan rawon naik lebih 80 persen ke Rp 55.000/kg pada 3 Juni 2026.
  • Pemilik warteg menghapus beberapa menu dan memangkas porsi karena belanja harian naik 40 persen ke Rp 800.000, namun harga jual tetap agar tidak kehilangan pelanggan.
  • Volume pelanggan turun hingga 50 persen dan harga beras 50 kg melonjak ke Rp 700.000, memicu tekanan margin serta potensi penyesuaian operasional lanjutan di Tangerang Selatan.

Lonjakan biaya memaksa penyesuaian menu

Seperti dilaporkan Kompas.com, pemilik warteg di Pamulang mulai mengubah strategi penjualan setelah harga sejumlah bahan pangan dan perlengkapan usaha naik tajam pada Rabu, 3 Juni 2026. Hery, pemilik Warteg 21, mengatakan ia menghentikan penjualan menu seperti terong balado, opor ayam, dan rawon jeroan karena kenaikan harga bahan membuat modal tidak lagi seimbang dengan harga jual.

Menurut Hery, harga terong naik dari Rp 8.000 menjadi Rp 16.000 per kilogram, sedangkan harga jeroan untuk rawon naik dari Rp 30.000 menjadi Rp 55.000. Belanja harian usahanya juga membengkak sekitar 40 persen, dari sekitar Rp 500.000 menjadi Rp 800.000, tetapi ia tetap tidak menaikkan harga makanan agar pelanggan tidak beralih.

Untuk menekan beban usaha, Hery memilih mengurangi porsi makanan. Ia juga menyebut harga barang penunjang seperti gelas kopi dan kantong plastik ikut naik hampir 100 persen, sehingga ruang untuk mempertahankan margin usaha semakin sempit.

Daya beli melemah menekan margin warteg

Lina, pengelola Warteg Gria Bahari Pamulang, menilai kondisi saat ini lebih berat dibandingkan masa pandemi Covid-19 karena penurunan daya beli pelanggan berlangsung bersamaan dengan lonjakan biaya dapur. Ia mengatakan jumlah pelanggan turun hingga 50 persen, dari sekitar 100 orang menjadi sekitar 50 orang per hari.

Lina merinci harga minyak goreng kini mencapai Rp 22.000 dari sebelumnya Rp 16.000, sementara beras 50 kilogram naik menjadi Rp 700.000 per karung. Harga cabai juga sempat mencapai Rp 120.000 per kilogram, kondisi yang menurutnya membuat pedagang kerap nombok untuk menutup modal belanja.

Perubahan perilaku pelanggan terlihat dari nominal belanja yang makin terbatas, memperbesar tekanan pada warteg yang mengandalkan volume penjualan harian. Kombinasi biaya input yang tinggi dan permintaan yang melemah menunjukkan usaha makanan rakyat di Tangerang Selatan sedang menghadapi penyusutan margin yang dapat memaksa penyesuaian operasi lebih lanjut.

Dalam laporan kami sebelumnya tentang pergerakan harga pangan nasional pada 3 Juni 2026, kami mencatat kenaikan pada sejumlah komoditas utama seperti bawang merah, bawang putih, dan cabai rawit merah, sementara harga beras bergerak bervariasi antar kualitas. Data tersebut menunjukkan tekanan harga yang belum merata, dengan volatilitas pasokan pangan segar masih terasa pada awal Juni dan berpotensi memengaruhi pola belanja konsumen serta strategi pedagang.

Materi ini mungkin mengandung opini pihak ketiga, tidak ada data dan informasi di halaman web ini yang merupakan nasihat investasi menurut Disclaimer kami. Meskipun kami mematuhi Integritas Editorial yang ketat, postingan ini mungkin mengandung referensi ke produk dari mitra kami.