BBCA dan BBRI tertekan aksi jual asing, valuasi dinilai makin murah

BBCA dan BBRI tertekan aksi jual asing, valuasi dinilai makin murah
BBCA & BBRI tertekan asing

Tekanan jual investor asing terus menyeret saham perbankan besar di Bursa Efek Indonesia, dengan BBCA dan BBRI menyentuh level terlemah dalam lima tahun terakhir. Di tengah penurunan itu, analis masih menilai fundamental kedua bank tetap solid dan pelemahan harga lebih mencerminkan arus dana keluar serta ketidakpastian ekonomi domestik.

Sorotan

  • BBCA turun 10,96% ke Rp 5.075 dan BBRI turun 7,12% ke Rp 2.740 dalam sepekan hingga 5 Juni 2026 karena net sell asing besar.
  • Sepanjang 2026, net sell asing di BBCA mencapai Rp 32,44 triliun dan di BBRI Rp 9,68 triliun, dengan valuasi menjadi semakin murah akibat tekanan jual.
  • BBCA mencatat laba bersih Rp 20,81 triliun dan BBRI Rp 15,89 triliun hingga April 2026, mendukung pandangan bahwa tekanan harga bersifat eksternal.

Tekanan asing dan posisi valuasi

KONTAN Indonesia melaporkan, saham PT Bank Central Asia Tbk dan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk terus melemah dalam sepekan terakhir seiring net sell investor asing yang besar pada kedua saham tersebut. Hingga Jumat, 5 Juni 2026, BBCA berada di level Rp 5.075 atau turun 10,96% dalam sepekan dan merosot 37,15% sejak awal tahun, sedangkan BBRI ditutup di Rp 2.740 per saham atau turun 7,12% dalam sepekan dan melemah 32,84% secara year-to-date.

Sepanjang 2026, net sell asing pada BBCA mencapai Rp 32,44 triliun, sementara pada BBRI mencapai Rp 9,68 triliun. Besarnya porsi kepemilikan asing pada dua saham bank tersebut membuat tekanan jual lebih cepat tercermin pada harga dibandingkan banyak saham lain di pasar domestik.

Menurut analis KISI Sekuritas Muhammad Wafi, BBCA dan BBRI menjadi instrumen yang paling likuid di IHSG sehingga kerap menjadi pilihan utama saat investor asing melakukan pencairan dana dari Indonesia. Ia menilai pelemahan harga tidak berasal dari kemunduran fundamental, melainkan dari forced selling yang mendorong diskon ekstrem pada emiten dengan bisnis yang dinilai belum berubah.

Dukungan laba dan implikasi untuk pasar

Wafi menyebut kinerja operasional kedua bank masih kuat, tercermin dari laba bersih yang terus meningkat. Hingga April 2026, BBCA membukukan laba bersih Rp 20,81 triliun, sementara BBRI mencatat laba bersih Rp 15,89 triliun.

Ia juga menilai valuasi kedua saham sudah berada di level rendah. Untuk BBRI, rasio price to book value tercatat 1,32 kali dan price earnings ratio 7,64 kali, yang menurutnya menunjukkan tekanan harga saat ini lebih dipengaruhi faktor eksternal dan arus modal ketimbang penurunan kualitas fundamental bank.

Bagi pasar Indonesia, pergerakan BBCA dan BBRI penting karena keduanya merupakan penggerak utama perdagangan bursa. Pelemahan berlanjut pada dua saham berkapitalisasi besar itu dapat terus membebani sentimen IHSG, tetapi pandangan bahwa penurunan berasal dari arus keluar dana asing juga membuka ruang pemulihan apabila ketidakpastian ekonomi mereda.

Dalam artikel kami sebelumnya tentang tren “Sell Indonesia”, kami membahas respons pemerintah yang menilai tekanan di pasar saham dan nilai tukar lebih didorong sentimen jangka pendek ketimbang pelemahan fundamental ekonomi atau fiskal seperti 1998. Pemerintah juga menekankan pentingnya koordinasi kebijakan fiskal dan moneter untuk menjaga kepercayaan investor dan meredakan volatilitas.

Materi ini mungkin mengandung opini pihak ketiga, tidak ada data dan informasi di halaman web ini yang merupakan nasihat investasi menurut Disclaimer kami. Meskipun kami mematuhi Integritas Editorial yang ketat, postingan ini mungkin mengandung referensi ke produk dari mitra kami.