Bank Indonesia perketat kebijakan saat tekanan rupiah melampaui proyeksi
Tekanan terhadap rupiah mendorong Bank Indonesia menyiapkan bauran kebijakan lanjutan setelah pelemahan nilai tukar bergerak lebih dalam dari perkiraan yang digunakan pada rapat bulanan Mei. Penyesuaian ini dilakukan di tengah gejolak pasar global dan arus modal keluar pada instrumen domestik, dengan fokus menjaga stabilitas kurs serta sasaran inflasi tahun depan.
Sorotan
- Bank Indonesia menaikkan BI-Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,50 persen setelah rupiah melemah melampaui proyeksi awal Mei 2026.
- Penyesuaian naik imbal hasil SRBI diterapkan untuk membalikkan outflow portofolio asing pada periode April-Juni dan memperkuat nilai tukar rupiah.
- Kombinasi kenaikan suku bunga dan penyesuaian SRBI menunjukkan respons agresif BI menjaga daya tarik aset rupiah dan stabilitas pasar keuangan domestik.
Langkah kebijakan lanjutan BI
Seperti dilaporkan Okezone Economy Indonesia, Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengatakan pelemahan rupiah dalam beberapa waktu terakhir telah melampaui proyeksi awal yang disusun saat Rapat Dewan Gubernur Bulanan pada 19-20 Mei 2026. Dalam evaluasi mingguan, kondisi itu mendorong otoritas moneter mengeksekusi langkah lanjutan untuk memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah.Salah satu langkah yang ditempuh adalah kenaikan BI-Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,50 persen. Menurut Perry, pengetatan itu ditujukan untuk meredam arus modal keluar pada instrumen SRBI dan SBN yang sempat terjadi sepanjang April hingga Juni, sekaligus menjaga inflasi nasional tahun depan tetap berada dalam kisaran sasaran pemerintah.
Bank Indonesia juga menyesuaikan naik struktur imbal hasil Sekuritas Rupiah Bank Indonesia, atau SRBI. Kebijakan ini diposisikan sebagai instrumen utama untuk membalikkan arah portofolio investasi asing dari outflow menjadi inflow sehingga menopang penguatan rupiah.
Dampak bagi pasar keuangan domestik
Pengetatan lanjutan menunjukkan bahwa tekanan eksternal terhadap pasar keuangan domestik masih menjadi perhatian utama bank sentral. Fokus kebijakan saat ini tidak hanya tertuju pada stabilitas nilai tukar, tetapi juga pada upaya menjaga daya tarik instrumen keuangan rupiah di tengah perubahan arus modal global.Bagi pasar, kombinasi kenaikan suku bunga acuan dan penyesuaian imbal hasil SRBI mengindikasikan respons yang lebih agresif untuk menahan volatilitas. Langkah itu juga memberi sinyal bahwa Bank Indonesia memprioritaskan stabilitas kurs dan pengendalian inflasi sebagai fondasi bagi kestabilan pasar obligasi dan aliran dana asing ke aset domestik.
Dalam laporan kami sebelumnya tentang kenaikan BI-Rate pada 9 Juni 2026, kami menyoroti keputusan Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan 25 bps menjadi 5,50% disertai paket operasi moneter untuk memperkuat stabilisasi rupiah. Artikel itu juga membahas kenaikan imbal hasil SRBI, penurunan biaya swap lindung nilai bagi investor asing, serta pembukaan kembali fasilitas repo guna menjaga likuiditas sekaligus mendorong arus modal masuk.
Berita Quotex Terbaru
- Forex
- Crypto