Kementerian Pertanian percepat pemulihan harga TBS sawit di sentra produksi Indonesia

Kementerian Pertanian percepat pemulihan harga TBS sawit di sentra produksi Indonesia
Pemulihan harga TBS sawit

Pemulihan harga tandan buah segar, atau TBS, kelapa sawit mulai terasa di sejumlah daerah setelah pemerintah memperkuat pengawalan terhadap stabilisasi harga. Perkembangan ini muncul dalam rapat koordinasi di Jakarta pada 8 Juni 2026, ketika petani dari beberapa provinsi menyampaikan bahwa kenaikan belum merata dan masih memerlukan pengawasan lanjutan.

Sorotan

  • Harga TBS sawit di Sumatera Selatan sekitar Rp3.499 per kilogram dan di Lampung Tengah sekitar Rp3.200 per kilogram, menunjukkan tren pemulihan mengikuti kenaikan harga CPO global.
  • Harga TBS di Banten masih tertinggal pada kisaran Rp2.500 per kilogram, memperlihatkan pemulihan belum merata antarwilayah meskipun ada dorongan pemerintah.
  • Kementerian Pertanian Indonesia mengoordinasikan forum multi-stakeholder untuk mempercepat pemulihan harga TBS sehingga manfaat kenaikan harga global dapat langsung dirasakan petani.

Koordinasi stabilisasi harga di sentra sawit

Seperti dilaporkan Kementerian Pertanian Indonesia, forum koordinasi di Kantor Pusat Kementerian Pertanian mempertemukan petani, asosiasi, pelaku usaha, eksportir, perusahaan refinery, Satgas Pangan Polri, dan pemerintah daerah untuk membahas pemulihan harga TBS. Pertemuan itu menjadi ruang bagi petani dari Sumatera Selatan, Lampung, Sumatera Utara, hingga Banten untuk menyampaikan kondisi lapangan dan kebutuhan agar pemulihan harga berlangsung lebih merata.

Ardiansyah Saragih, petani dari Serdang Bedagai, Sumatera Utara, mengatakan harga sawit sempat turun dalam tetapi kini mulai naik kembali. Ia menilai paparan Menteri Pertanian mengenai kenaikan harga CPO global, penguatan dolar U.S., dan tingginya permintaan ekspor memberi optimisme terhadap prospek harga sawit ke depan.

Di Sumatera Selatan, Septriadi menyebut harga TBS yang mengikuti acuan Dinas Perkebunan masih berada pada tingkat yang layak, dengan sawit berumur lima tahun sekitar Rp3.499 per kilogram. Namun ia menambahkan sebagian petani masih harus menjual ke tengkulak dengan harga lebih rendah karena tidak memenuhi standar pembelian perusahaan mitra.

Petani dari Lampung Tengah, Hulibarawan, juga menyatakan harga TBS di wilayahnya sudah mencapai sekitar Rp3.200 per kilogram, mendekati harga standar provinsi Rp3.350 per kilogram. Meski kondisi dinilai lebih nyaman, ia tetap meminta stabilisasi harga dijaga karena sebelumnya sempat terjadi penurunan mendadak hampir Rp1.000 per kilogram.

Dampak bagi petani dan tantangan pemerataan

Di Banten, kondisi pemulihan masih tertinggal dibanding provinsi lain. Aryadi, petani dari Pandeglang, mengatakan harga TBS di tingkat pabrik berada di kisaran Rp2.500 per kilogram, sementara pendapatan bersih petani turun setelah dipotong biaya panen, angkut, dan operasional lain, meski ia mengakui harga mulai membaik setelah langkah Kementerian Pertanian mendorong perusahaan dan pabrik menaikkan harga kembali.

Aryadi menilai kehadiran pemerintah penting untuk memastikan petani di daerah yang belum memiliki mekanisme penetapan harga yang kuat tetap mendapatkan perlindungan dan kepastian usaha. Hal itu menunjukkan bahwa pemulihan harga nasional belum sepenuhnya diterjemahkan menjadi pendapatan yang setara di seluruh wilayah produksi.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan pemerintah terus mengawal pemulihan harga TBS agar manfaat kenaikan harga komoditas sawit global dirasakan langsung oleh petani. Ia juga menekankan pemerintah ingin membangun ekosistem sawit yang sehat, dengan petani dan pengusaha sama-sama sejahtera tanpa ada pihak yang dirugikan.

Dalam artikel kami sebelumnya tentang kebutuhan menjaga stabilitas politik Indonesia di tengah ketidakpastian geopolitik global, kami menyoroti bahwa konsistensi kebijakan jangka panjang menjadi kunci agar agenda seperti ketahanan pangan, infrastruktur, dan hilirisasi tetap berjalan. Kami juga mencatat stabilitas internal memberi ruang bagi pemerintah untuk merespons tekanan ekonomi global secara efektif, termasuk menjaga daya beli dan melindungi sektor produktif.

Materi ini mungkin mengandung opini pihak ketiga, tidak ada data dan informasi di halaman web ini yang merupakan nasihat investasi menurut Disclaimer kami. Meskipun kami mematuhi Integritas Editorial yang ketat, postingan ini mungkin mengandung referensi ke produk dari mitra kami.