Penguatan pasar saham domestik berlanjut hingga akhir sesi perdagangan Rabu, mendorong Indeks Harga Saham Gabungan ditutup di level 5.902,38. Kenaikan ini ditopang mayoritas saham yang bergerak naik, dengan nilai transaksi mencapai Rp31,4 triliun dari 42,6 miliar saham yang diperdagangkan.
Sorotan
- IHSG menguat 2,71% ke 5.902 pada penutupan 10 Juni 2026, dengan 600 saham naik, 156 turun, dan 203 stagnan.
- Seluruh indeks sektoral kompak menguat, mengindikasikan penguatan pasar yang luas di berbagai kelompok saham.
- Saham top gainer: PT Multitrend Indo Tbk (BABY) naik 35% ke Rp189; top loser: PT Ingria Pratama Capitalindo Tbk (GRIA) turun 14,69% ke Rp122.
Kinerja indeks dan aktivitas perdagangan
Seperti dilaporkan Okezone Economy Indonesia, IHSG naik 155,73 poin atau 2,71% pada penutupan perdagangan Rabu, 10 Juni 2026. Di akhir sesi, sebanyak 600 saham menguat, 156 saham melemah, dan 203 saham stagnan.Selain IHSG, sejumlah indeks utama lain juga berakhir di zona hijau. Indeks LQ45 naik 3,54% ke 589, indeks JII bertambah 1,22% ke 351, indeks IDX30 menguat 3,87% ke 335, dan indeks MNC36 naik 3,50% ke 258.
Penguatan sektoral dan pergerakan saham unggulan
Seluruh indeks sektoral tercatat kompak menguat, mencakup konsumer nonsiklikal, keuangan, properti, teknologi, kesehatan, energi, konsumer siklikal, infrastruktur, bahan baku, transportasi, dan industri. Kondisi ini menunjukkan kenaikan pasar berlangsung luas di berbagai kelompok saham.Pada daftar top gainers, saham PT Multitrend Indo Tbk (BABY) melonjak 35% ke Rp189, PT First Media Tbk (KBLV) naik 34,85% ke Rp88, dan PT Multi Garam Utama Tbk (FOLK) bertambah 34,59% ke Rp214. Sementara itu, top losers diisi PT Ingria Pratama Capitalindo Tbk (GRIA) yang turun 14,69% ke Rp122, PT Citra Tubindo Tbk (CTBN) yang melemah 12,20% ke Rp5.575, serta PT NFC Indonesia Tbk (NFCX) yang turun 12,09% ke Rp1.490.
Pada artikel kami sebelumnya tentang pembukaan perdagangan IHSG pada 10 Juni 2026, kami mencatat indeks sempat melemah tipis di awal sesi sebelum bergerak fluktuatif setelah reli sebelumnya. Kami juga menyoroti pergerakan sektoral saat itu, ketika mayoritas sektor berada di zona merah namun teknologi dan konsumer siklikal membantu menahan pelemahan, dengan beberapa saham memimpin penguatan awal.
Berita Indonesia Terbaru
- Forex
- Crypto