Celios nilai kenaikan harga Pertamax menekan daya beli kelas menengah

Celios nilai kenaikan harga Pertamax menekan daya beli kelas menengah
Harga Pertamax Naik, Efek Besar

Kenaikan harga Pertamax menjadi Rp16.250 per liter dinilai memperberat beban rumah tangga kelas menengah dan kelompok rentan yang selama ini memilih bahan bakar nonsubsidi. Tekanan itu juga berisiko mendorong peralihan konsumsi ke Pertalite, yang dapat memperbesar beban subsidi pemerintah dan memicu dampak lanjutan pada konsumsi serta harga pangan.

Sorotan

  • Kenaikan harga Pertamax sebesar 32 persen sejak 13 Juni 2026 dinilai Celios menekan daya beli kelompok menengah dan aspiring middle class.
  • Pergeseran konsumen dari Pertamax ke Pertalite akibat kenaikan harga meningkatkan permintaan Pertalite dan berpotensi membengkakkan subsidi BBM serta kebutuhan kuota.
  • Celios menilai pengawasan distribusi Pertalite masih lemah, sehingga kebocoran distribusi di luar SPBU dapat memperparah tekanan fiskal akibat lonjakan konsumsi BBM bersubsidi.

Risiko pada konsumsi rumah tangga

Seperti dilaporkan Okezone Economy Indonesia, Direktur Kebijakan Publik Center of Economic and Law Studies, Celios, Media Wahyudi Askar mengatakan anggapan bahwa kenaikan harga Pertamax hanya memukul kelompok kaya merupakan penyederhanaan yang keliru. Ia menegaskan pengguna Pertamax juga mencakup pekerja, pegawai, guru, pengemudi ojek online, serta jutaan warga kelas menengah yang memilih BBM dengan kualitas lebih baik untuk kendaraannya.

Dalam keterangannya di Jakarta, Sabtu (13/6/2026), Media mengatakan selisih kenaikan harga yang terlalu lebar membuat konsumen menghadapi dua pilihan, yakni membayar lebih mahal atau beralih ke Pertalite. Menurut dia, perpindahan ke Pertalite berarti menambah jumlah pengguna BBM yang selama ini memperoleh subsidi dari pemerintah.

Media memperingatkan kenaikan harga Pertamax sebesar 32 persen berpotensi menurunkan daya beli kelompok menengah dan aspiring middle class. Ia juga menilai kondisi itu dapat menambah jumlah penduduk rentan miskin, mendorong kenaikan harga bahan pangan, mempercepat transmisi penyesuaian suku bunga kredit, serta memicu lonjakan pemutusan hubungan kerja pada kuartal ketiga, kriminalitas, dan gejolak sosial.

Dampak pada subsidi BBM dan kuota Pertalite

Direktur Ekonomi Celios Nailul Huda mengatakan kenaikan harga Pertamax tanpa diikuti kenaikan harga Pertalite membawa konsekuensi berupa meningkatnya permintaan Pertalite. Menurut dia, kondisi tersebut dapat mendorong kenaikan kuota Pertalite dan membuat subsidi BBM membengkak.

Nailul menambahkan pembatasan melalui QR code hanya efektif jika tidak terjadi kebocoran di lapangan. Dalam praktiknya, kata dia, masih banyak Pertalite yang diperjualbelikan di luar SPBU, sehingga pengawasan distribusi menjadi faktor penting dalam menahan tekanan fiskal dari kenaikan konsumsi BBM bersubsidi.

Kesiapan pasokan Pertalite usai kenaikan harga Pertamax menjadi sorotan dalam artikel kami sebelumnya, ketika sebagian konsumen mulai beralih ke BBM bersubsidi. Kami mencatat Pertamina Patra Niaga menyatakan stok Pertalite dalam kondisi cukup dan distribusi ke jaringan SPBU tetap berjalan normal, sembari mengoptimalkan logistik, terminal BBM, armada distribusi, serta pemantauan real-time untuk mengantisipasi lonjakan permintaan di berbagai wilayah.

Materi ini mungkin mengandung opini pihak ketiga, tidak ada data dan informasi di halaman web ini yang merupakan nasihat investasi menurut Disclaimer kami. Meskipun kami mematuhi Integritas Editorial yang ketat, postingan ini mungkin mengandung referensi ke produk dari mitra kami.