BRI Danareksa naikkan rekomendasi sektor perbankan, BBCA dan BTPS jadi pilihan utama

BRI Danareksa naikkan rekomendasi sektor perbankan, BBCA dan BTPS jadi pilihan utama
BRI Danareksa pilih BBCA, BTPS

Tekanan pada saham perbankan Indonesia yang sudah turun 15% hingga 36% secara year to date dinilai telah bergerak lebih jauh daripada pelemahan fundamental industrinya. Di tengah kekhawatiran atas margin bunga bersih, arus keluar modal asing, dan ketidakpastian ekonomi domestik, valuasi bank-bank besar disebut kini mencerminkan skenario laba 2026 yang terlalu pesimistis.

Sorotan

  • BRI Danareksa Sekuritas menaikkan rekomendasi sektor perbankan Indonesia dari netral menjadi overweight pada 11 Juni 2026, menilai koreksi harga berlebihan dibandingkan fundamental.
  • BBCA dan BTPS menjadi top picks karena kualitas ROA tinggi dan struktur leverage defensif, dengan rekomendasi buy serta target harga masing-masing Rp10.900 dan Rp1.400 per saham.
  • BBCA, BBRI, BTPS, dan BNGA dinilai lebih mampu menjaga margin di tengah tekanan bunga berkat kekuatan repricing aset, sedangkan BMRI dan BBTN bergantung pada efisiensi biaya dan fee-based income.

Revisi rekomendasi dan pilihan saham

KONTAN Indonesia melaporkan, riset BRI Danareksa Sekuritas tertanggal 11 Juni 2026 menaikkan rekomendasi sektor perbankan dari netral menjadi overweight setelah koreksi harga dinilai berlebihan dibandingkan fundamental. Analis BRI Danareksa Sekuritas Victor Stefano menulis pasar saat ini telah mengantisipasi kontraksi laba 2026 yang dalam, termasuk penurunan laba sebesar 22,8% untuk BBRI, 14,9% untuk BBCA, 12,7% untuk BMRI, dan 11,1% untuk BBNI.

Menurut riset itu, asumsi tersebut terlalu konservatif jika dibandingkan dengan rekam jejak profitabilitas jangka panjang sektor perbankan. Dalam kondisi ini, BBCA menjadi top pick, disusul BTPS, karena keduanya dinilai memiliki kualitas ROA yang tinggi dan struktur leverage yang lebih defensif terhadap risiko kenaikan cost of credit.

BRI Danareksa memberikan rekomendasi buy untuk BBCA dengan target harga Rp10.900 per saham, BMRI Rp6.200, BBNI Rp4.700, BRIS Rp3.100, BBTN Rp1.500, BTPS Rp1.400, dan BNGA Rp2.100.

Tekanan margin dan ketahanan masing-masing bank

Dari sisi sensitivitas return on equity, bank dengan kemampuan repricing aset yang lebih kuat seperti BBCA, BBRI, BTPS, dan BNGA dinilai lebih tahan terhadap tekanan margin. Kelompok ini disebut mampu menyesuaikan yield aset lebih cepat dibandingkan kenaikan biaya dana, sehingga masih berpotensi mencatat ekspansi spread positif.

Sebaliknya, BMRI dan BBTN dinilai lebih bergantung pada efisiensi biaya serta pertumbuhan fee-based income untuk mendorong perbaikan ROE. Dalam kualitas aset, BBTN disebut paling rentan terhadap penurunan kualitas kredit, sementara bank-bank BUMN lain juga memiliki sensitivitas lebih tinggi terhadap kenaikan cost of credit karena struktur kredit yang lebih besar.

Dalam analisis kualitas aset dan leverage, BBCA dan BMRI kembali disorot sebagai franchise perbankan dengan kualitas tertinggi. BBCA dinilai mampu menghasilkan imbal hasil tinggi tanpa perlu ekspansi leverage, sedangkan BMRI disebut masih dapat meningkatkan leverage secara sehat tanpa mengorbankan kualitas aset.

BRI Danareksa juga menyoroti tekanan net interest margin di tengah kenaikan suku bunga acuan. Meski kenaikan BI Rate secara teori dapat mengerek yield kredit, persaingan pendanaan dinilai membuat biaya dana naik lebih cepat, sehingga bank dengan basis dana murah atau CASA yang kuat seperti BBCA dipandang lebih mampu bertahan dibandingkan bank yang lebih bergantung pada deposito berjangka dan pendanaan wholesale.

Dalam artikel kami sebelumnya tentang penguatan saham bank-bank jumbo, kami mengulas rebound harga BBCA, BBNI, BMRI, dan BBRI setelah sempat tertekan sentimen makro. Kami menyoroti peran kenaikan BI Rate, rencana serta realisasi buyback, dan faktor seperti tinjauan MSCI serta aliran dana asing sebagai penentu arah pergerakan jangka pendek.

Materi ini mungkin mengandung opini pihak ketiga, tidak ada data dan informasi di halaman web ini yang merupakan nasihat investasi menurut Disclaimer kami. Meskipun kami mematuhi Integritas Editorial yang ketat, postingan ini mungkin mengandung referensi ke produk dari mitra kami.