Ashutosh Sureka

Driver ojol Jakarta soroti risiko pendapatan setelah harga Pertamax naik

Driver ojol Jakarta soroti risiko pendapatan setelah harga Pertamax naik
Penghasilan ojol terancam naiknya BBM

Kenaikan harga BBM nonsubsidi Pertamax sejak 10 Juni 2026 mendorong pengemudi ojek online di Jakarta untuk menjaga volume pesanan agar penghasilan harian tetap terjaga. Di tengah biaya hidup yang terus meningkat, para mitra menilai kestabilan order masih menjadi penentu utama daya tahan pendapatan mereka.

Sorotan

  • Driver ojol Jakarta melaporkan rata-rata 20 pesanan per hari tetap stabil meski harga Pertamax naik, menjaga kestabilan pendapatan.
  • Tekanan biaya hidup akibat kenaikan harga kebutuhan pokok dan BBM menambah kekhawatiran margin penghasilan mitra driver transportasi online.
  • Mitra driver berharap pemerintah merespons dengan kebijakan baru dan perusahaan aplikator memperbanyak program apresiasi untuk menjaga motivasi.

Respons pengemudi setelah kenaikan Pertamax

Seperti diberitakan Okezone Economy Indonesia, pengemudi ojol di Jakarta menyatakan jumlah pesanan sejauh ini masih relatif stabil meski harga Pertamax naik. Mahdi, salah satu driver Gojek di Jakarta, mengatakan rata-rata order yang ia terima masih sekitar 20 pesanan per hari dan frekuensi penggunaan layanan oleh pelanggan belum berubah secara signifikan.

Ia menilai kondisi tersebut penting karena pendapatan mitra driver sangat bergantung pada banyaknya pesanan yang masuk. Menurut dia, kestabilan order menjadi faktor utama untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, sehingga ia berharap pelanggan tetap menggunakan layanan transportasi online agar penghasilan mitra tetap terjaga.

Mahdi juga mengatakan dirinya saat ini masih mengandalkan Pertalite dan hanya memakai Pertamax bila diperlukan, misalnya ketika antrean Pertalite terlalu panjang. Namun, ia mengaku pengeluaran harian semakin terasa karena harga kebutuhan pokok seperti cabai, bawang, dan minyak ikut naik.

Dampak biaya hidup pada sektor transportasi online

Di luar perbedaan pengalaman masing-masing pengemudi terhadap dampak kenaikan Pertamax, para driver disebut sepakat bahwa kesinambungan order tetap menjadi penentu terbesar bagi pendapatan harian. Hal ini menunjukkan tekanan biaya operasional belum langsung mengubah permintaan pelanggan, tetapi tetap meningkatkan kekhawatiran mitra terhadap margin penghasilan mereka.

Mahdi berharap pemerintah mengeluarkan kebijakan yang lebih mempertimbangkan kondisi masyarakat dan sektor-sektor yang terdampak langsung. Ia juga menyampaikan harapan agar perusahaan aplikator memperbanyak program apresiasi atau penghargaan bagi mitra berprestasi, seiring kebutuhan menjaga motivasi dan daya tahan pengemudi di tengah kenaikan biaya.

Dalam artikel kami sebelumnya tentang kebijakan harga Pertalite, LPG 3 kg, dan Pertamax, kami mengulas keputusan pemerintah untuk menahan harga energi bersubsidi meski harga minyak dunia bergejolak akibat ketegangan geopolitik. Kami juga menjelaskan bahwa harga BBM non-subsidi seperti Pertamax tetap lebih fleksibel mengikuti pergerakan harga minyak, sehingga ada peluang penyesuaian ketika tekanan global mereda.

Materi ini mungkin mengandung opini pihak ketiga, tidak ada data dan informasi di halaman web ini yang merupakan nasihat investasi menurut Disclaimer kami. Meskipun kami mematuhi Integritas Editorial yang ketat, postingan ini mungkin mengandung referensi ke produk dari mitra kami.