Ashutosh Sureka

Rupiah melemah ke Rp17.762 per dolar U.S. di tengah fokus pasar pada The Fed

Rupiah melemah ke Rp17.762 per dolar U.S. di tengah fokus pasar pada The Fed
Rupiah melemah di pasar

Tekanan pada pasar valuta asing domestik berlanjut pada penutupan perdagangan Rabu, ketika rupiah turun 37 poin atau sekitar 0,22 persen terhadap dolar U.S. Pergerakan ini terjadi saat pelaku pasar menimbang perkembangan geopolitik terkait pembicaraan U.S.-Iran dan menanti arah kebijakan suku bunga Federal Reserve.

Sorotan

  • Rupiah melemah ke Rp17.762 per dolar U.S. karena sentimen pasar dipengaruhi optimisme atas kesepakatan damai U.S.-Iran dan kebijakan Fed.
  • Kesepakatan U.S.-Iran memungkinkan Iran ekspor minyak dan memperpanjang gencatan senjata 60 hari, namun implementasi penuh berpotensi bertahap.
  • Pasar menantikan penetapan suku bunga pertama oleh Fed di bawah Kevin Warsh, dengan ekspektasi suku bunga tetap namun fokus pada dot plot.

Sentimen eksternal dorong pelemahan rupiah

Ibrahim Assuaibi dalam risetnya di Jakarta, Rabu (17/6/2026), menyatakan salah satu sentimen utama berasal dari optimisme seputar kesepakatan U.S.-Iran yang bertujuan mengakhiri permusuhan di Timur Tengah. Kesepakatan itu mencakup ketentuan yang memungkinkan Iran melanjutkan ekspor minyak dan memperpanjang gencatan senjata sementara selama negosiasi berlanjut.

Menurut Ibrahim, rincian kesepakatan perdamaian sementara mulai muncul pada hari Selasa setelah Presiden U.S. Donald Trump mengatakan perjanjian itu akan mengesampingkan senjata nuklir untuk Teheran, sementara seorang pejabat U.S. menyatakan kesepakatan tersebut akan memungkinkan Iran menjual minyak setelah penandatanganan. Memorandum of Understanding yang belum dipublikasikan juga memperpanjang gencatan senjata rapuh yang diumumkan pada April selama 60 hari lagi untuk membuka jalan menuju gencatan senjata permanen.

Berdasarkan kesepakatan itu, Amerika Serikat akan mencabut blokade pelabuhan Iran, sedangkan Teheran akan mengizinkan lalu lintas kapal tanker minyak melalui Selat Hormuz, yang secara efektif diblokir sejak serangan U.S. dan Israel pada 28 Februari. Meski begitu, pejabat industri menyatakan pemulihan produksi dan penyulingan ke tingkat sebelum perang kemungkinan memerlukan waktu berminggu-minggu, berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun. Israel juga menjauhkan diri dari gencatan senjata April dan perjanjian U.S.-Iran terbaru, sehingga menambah ketidakpastian atas daya tahan kesepakatan baru tersebut.

Pasar menunggu sinyal suku bunga Federal Reserve

Di saat yang sama, perhatian pasar kini tertuju pada pengumuman kebijakan pertama Federal Reserve di bawah Ketua Kevin Warsh. Bank sentral U.S. secara luas diperkirakan mempertahankan suku bunga tidak berubah, namun investor mencermati proyeksi ekonomi terbaru serta dot plot untuk membaca arah kebijakan berikutnya.

Sensitivitas pasar terhadap setiap sinyal pelonggaran pada akhir tahun ini ikut menjaga permintaan terhadap dolar U.S. Dalam kondisi itu, kombinasi ketidakpastian geopolitik, ekspektasi kebijakan moneter U.S., dan perubahan persepsi risiko global terus menjadi faktor yang membebani pergerakan rupiah.

Dalam artikel kami sebelumnya tentang penurunan harga minyak setelah kesepakatan damai tentatif AS-Iran, kami menyoroti bagaimana pasar mulai menghapus premi risiko geopolitik seiring sinyal normalisasi arus tanker di Selat Hormuz. Namun, kami juga mencatat bahwa ketidakpastian detail kesepakatan dan risiko pasokan yang belum sepenuhnya pulih tetap menjaga volatilitas dan membuat pelaku pasar berhati-hati.

Materi ini mungkin mengandung opini pihak ketiga, tidak ada data dan informasi di halaman web ini yang merupakan nasihat investasi menurut Disclaimer kami. Meskipun kami mematuhi Integritas Editorial yang ketat, postingan ini mungkin mengandung referensi ke produk dari mitra kami.