IHSG menghadapi tekanan sentimen geopolitik dan fiskal di tengah memanasnya konflik U.S.-Iran
Pergerakan pasar saham Indonesia pada pekan ini berada dalam bayang-bayang meningkatnya ketidakpastian global dan perhatian pada ruang fiskal domestik. Eskalasi konflik antara U.S. dan Iran dinilai mendorong investor mengurangi eksposur pada aset berisiko, sementara data inflasi U.S. untuk Juni menjadi penentu penting bagi arah suku bunga The Fed.
Sorotan
- Ketegangan U.S.-Iran mendorong risk-off di pasar global, memperlemah IHSG 13–17 Juli 2026 akibat arus modal keluar menuju safe-haven.
- Konflik Timur Tengah menguatkan dolar U.S. dan harga emas dunia, meningkatkan tekanan eksternal pada pasar negara berkembang termasuk Indonesia.
- Realisasi defisit APBN Indonesia paruh pertama 2026 sebesar Rp196,5 triliun (0,76% PDB), sementara inflasi U.S. Juni akan memengaruhi sentimen pasar.
Risiko eksternal membebani arus dana global
Menurut Okezone, dalam laporan riset Indo Premier Sekuritas, analis ekuitas David Kurniawan menilai ketegangan U.S.-Iran menjadi ancaman bagi pergerakan IHSG pada periode perdagangan 13 hingga 17 Juli 2026.Ia mengatakan tingginya ketidakpastian geopolitik mendorong investor global mengambil sikap risk-off dan lebih konservatif dalam mengelola portofolio. Menurutnya, modal bergerak keluar dari instrumen berisiko tinggi seperti saham dan aset kripto untuk menjaga likuiditas.
Arah pergerakan dana global saat ini disebut sangat dipengaruhi oleh eskalasi pertempuran di Timur Tengah, setelah U.S. dan Iran terlibat dalam konfrontasi militer secara terbuka. Konflik itu memicu kekhawatiran atas potensi terganggunya jalur logistik minyak mentah dunia, yang kemudian mendorong perpindahan arus modal ke aset safe-haven seperti emas dan dolar U.S.
Pergeseran likuiditas tersebut diproyeksikan mengangkat harga emas dunia sekaligus memperkuat dolar U.S. di pasar valuta asing. Kondisi itu menambah tekanan eksternal bagi pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.
Defisit APBN dan data inflasi U.S. jadi perhatian
Dari sisi domestik, fundamental makroekonomi Indonesia dinilai masih berada dalam koridor terukur. Kementerian Keuangan melaporkan realisasi defisit APBN pada paruh pertama 2026 mencapai Rp196,5 triliun, setara 0,76 persen dari produk domestik bruto, masih jauh di bawah batas maksimal 3 persen yang ditetapkan undang-undang.Meski demikian, David mengingatkan percepatan belanja negara yang lebih cepat daripada penerimaan publik tetap perlu diwaspadai. Ia menilai pemerintah perlu mengelola pembiayaan negara secara lebih ketat dan selektif pada paruh kedua tahun ini untuk menekan risiko penambahan utang yang tidak efisien dan menjaga stabilitas makroekonomi di tengah gejolak global.
Selain perkembangan konflik Timur Tengah, pelaku pasar juga menantikan rilis Consumer Price Index U.S. untuk Juni pada hari Selasa. Data itu dipandang sebagai indikator utama untuk menerjemahkan arah kebijakan suku bunga The Fed, yang berpotensi memengaruhi sentimen terhadap IHSG dan arus modal ke pasar regional.
Dalam artikel kami sebelumnya tentang pelemahan rupiah ke Rp18.014 per dolar U.S., kami mengulas bagaimana serangan U.S. terhadap Iran memicu sentimen risk-off dan menambah volatilitas di pasar mata uang domestik. Kami juga menyoroti kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan energi, termasuk risiko di Selat Hormuz, yang dapat memperketat pasar minyak dan memperbesar tekanan pada mata uang negara berkembang.
Berita Fed Terbaru
- Forex
- Crypto